LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Kesempatan untuk Menghindar.



Hari Senin pagi dan upacara bendera dilaksanakan di aula sekolah, sebab halaman sekolah tidak cukup menampung seluruh siswa-siswi.


Halaman sekolah yang tidak terlalu luas hanya di peruntukan untuk ekskul olahraga lari dan kegiatan yang tidak melibatkan banyak siswa.


Sisanya adalah gedung olahraga atau aula sekolah yang cukup luas.


Upacara selesai dan jam pelajaran akan segera di mulai, akan tetapi anggota gengnya Kiara sudah mengelilingi Asna.


"Eh preman pasar, sudah puas menghajar kami?"


Amira yang berkata kasar pada Asna dan langsung dilerai oleh Kiara yang baru tiba di dalam kelas.


"Sudahlah girls, kita juga yang salah. dengan sengaja kita mengundang Asna untuk datang ke acara ulang tahun ku dengan niat untuk mengerjainya.


Asna ngak pernah mengganggu kita, hanya saja cowok yang kita lebih memilih Asna.


Berarti cowok itu bukan jodoh kita atau hanya untuk mempermainkan Asna, janganlah kita berantam hanya karena cowok.


Toh juga masih banyak cowok di luaran sana yang jauh lebih dari cowok-cowok yang ada di sekolah ini."


"Kiara kok seperti ini? kenapa tiba-tiba membela Asna?" sanggah Amira yang terlihat curiga sama Kiara.


"Kamu di ancam guru, Iya? di ancam karena perempuan kampung ini mengadu." sanggah temannya Kiara.


"Ngak sama sekali girls, mana berani guru mengancam Kiara. kalian jelas mengetahui kalau dana sekolah ini empat puluh persen dari kantong bokap gue.


Jadi mana berani para guru mengancam Kiara.


Kiara baru sadar, bahwa pria itu tidak baik untukku. kalau jodoh ya bersyukur, itu artinya kekayaan keluarga kami akan melimpahkan.


Jika tidak berjodoh mau buat apa lagi, jangan hanya karena menumpuk harta yang banyak dan lantas merenggut kebahagiaan ku.


Jodoh atau ngaknya itu urusan nanti, masa bodoh dengan perjodohan itu." ucap Kiara dengan tegas ke teman-temannya.


Seketika anggota geng Kiara terdiam dan berhubung guru mata pelajaran sudah datang sehingga mereka harus duduk.**


Bel berbunyi pertanda pelajaran telah usai dan saatnya istrihat, Asna langsung di panggil guru pembimbing fisika.


Karena sebentar lagi akan diadakan lomba fisika tingkat nasional, tentunya Asna akan menjadi peserta yang di unggulkan oleh pihak sekolah.


Asna menghadap ke guru fisika dan menerima buku pelajaran yang sangat banyak dan itu hampir satu kardus.


Asna di suruh mempelajarinya dan nantinya akan di bimbing oleh gurunya.


"Asna...! kapan kita latihan lagi?" Irvan bertanya pada Asna.


"Maaf Irvan, aku mau keluar dari tim musik. karena mau fokus untuk lomba fisika." ucap Asna.


Irvan tertunda lesu karena Asna akan keluar dari tim musik, itu artinya adalah kehilangan kesempatan untuk mendekati Asna.


Kiara sudah berada di dalam kelasnya dan merapikan kembali buku-buku yang diperolehnya dari guru fisika.


Lalu mengambil satu dari tumpukan buku itu dan mulai membacanya.


"Asna..! aku ngomong." pinta Sasa.


Sasa yang sudah menangis datang kehadapan Asna.


"Aku ngerti kok, kamu ngak salah karena itu terpaksa kamu lakukan.


Tapi aku harus keluar dari tim musik, karena harus intens untuk belajar fisika. waktunya cuma sebulan sebelum seleksi olimpiade fisika.


Asna kembali mempelajari bukunya dan seolah-olah tidak mengabaikan Sasa.


Sasa seperti merasa bersalah karena menjebak Asna, sehingga Asna harus di keroyok oleh Kiara dan gengnya saat pesta ulang tahun itu.


Setelah Sasa pergi dan Asna bernapas lega, karena dirinya sudah bebas dari satu masalahnya.


Sulit untuk percaya pada orang saat ini, karena teman dekatnya satu tim dalam musik. mengkhianati Asna dan menumbalkan untuk Kiara dan gengnya.


"Asna...! kamu harus melihat rekaman sisi tv ini dan inilah ulah dari Evano." ucap Irvan dan memberikan iPad kepada Asna.


Kejadian dari setahun yang lalu, seorang yang mengendarai motor besar menabrak seorang anak kecil di sebuah gang.


Anak itu adalah ponakan Asna yang tidak lain anak dari dokter Bagus, dokter di puskesmas dekat tempat tinggal Asna.


"Motor itu milik Evano, saat itu kedua orangtuanya Evano berantam hebat dan Evano keluar rumah dan balapan.


Evano yang menabrak bocah itu hingga tewas di tempat, karena Evano bukanlah manusia tapi iblis yang tidak punya hati." ujar Irvan.


Seketika air mata Asna langsung menetes, karena insiden yang menimpa ponakannya dan tidak bisa di usut tuntas.


Pelakunya lari dan tidak bisa di selidiki, seolah-oleh di lindungi oleh orang-orang yang berkuasa dan punya uang yang melimpah.


"Boleh aku meminta rekaman sisi tv ini?" pinta Asna.


Irvan kemudian mengirimkan rekaman sisi tv itu kepada Asna melalui email, sebab Asna tidak memiliki handphone smartphone.


"Evano kabur ke luar negeri untuk menghindari hukuman, seolah-olah Evano tidak ada di Indonesia.


Semua itu perbuatan orang lain, dan sementara Evano di luar negeri dan kedua orangtuanya akan membereskan masalah ini.


Evano kembali ke Indonesia setelah kasus itu di tutup oleh pihak kepolisian karena kurangnya bukti yang akurat.


Sisi tv yang tidak berfungsi dan tiadanya saksi mata.


Aku mendapat rekaman sisi tv dari petugas yang sudah menyita alat bukti.


Irvan sampai harus menggunakan koneksi Papa, agar bisa mendapatkan bukti ini.


Aku hanya tidak kalau Asna salah memilih orang, karena Evano adalah manusia psikopat yang sangat berbahaya." ujar Irvan.


Penjelasan dari Irvan sungguh mengejutkan dan Asna baru mengetahui hal ini saat ini juga.


Evano pindah ke luar negeri setahun lalu, setelah kejadian tewasnya keponakan Asna yang merupakan anak dari dokter Bagus.


Motor bisa yang masuk ke dalam gang pemukiman warga padat tempat tinggal Asna dan juga dokter Bagus.


Kejadian itu membuat pilu dalam keluarga, karena tiga tahun menunggu anak tapi akhirnya meninggal di tabrak motor besar yang masuk ke dalam gang tersebut.


"Terimakasih atas informasi ini, mudah-mudahan kebenaran bisa terungkap dan hukum bukan hanya milik orang yang berpunya." ucap Asna.


"Sepertinya kasus ini masih di buka kembali, menurut artikel yang pernah ku baca. kasus yang sudah di tutup bisa di buka kembali jika ada bukti baru.


Aku membantu keluarga mu agar Evano mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap keponakan itu." sanggah Irvan dengan sangat yakin.


Walaupun Asna tidak yakin akan bisa membuka kembali kasus ini, tapi yang jelas Asna sudah punya bukti baru.


Dulu tidak sedikitpun bukti yang diterima oleh pihak kepolisian, pada sudah jelas-jelas ada rekaman sisi tv dari sebuah mobil yang terparkir.


Ada beberapa warga yang beraksi melihatnya tapi kemudian mengubah kesaksian saat si pengadilan.