LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Masih Belum Yakin.



Kiara mengagumi Asna yang mengerti akan bahan-bahan kosmetik, padahal Asna terlihat seperti tidak pernah mengenakan kosmetik.


"Asna ngerti kosmetik?" Tanya Kiara yang terlihat penasaran.


"Ngerti...! Asna belajar dari tetangga yang bekerja sebagai makeup profesional yang sangat padat jadwalnya.


Dasar-dasar makeup dan penggunaan nya serta mempelajari jenis kulit agar mudah mencocokkan jenis produk yang cocok.


Misalnya...! tapi jangan tersinggung, Iya." kata Asna yang meminta pada Kiara untuk di komentari.


Kiara setuju untuk di kritik atau di komentari atas riasannya.


"Kulit wajah mu tidak cocok memakai foundation itu, karena terlalu keras untuk kulit mu yang masih muda.


Kiara hanya perlu foundation yang merupakan sebagai perawatan agar tidak terlihat menor, misalnya dengan menggunakan produk yang ada di tabel dokumen itu." ucap Asna.


"Tunggu disini sebentar." sanggah Kiara.


Kiara langsung beranjak pergi dan meninggalkan Asna di meja makan itu, dan hanya beberapa saat kemudian Kiara sudah datang dengan membawa peralatan mekeup.


"Tolong berikan aku riasan yang sesuai." pinta Kiara.


Asna tersenyum dan kemudian melakukan apa yang di pinta oleh Kiara, dan langsung beraksi.


Setengah jam lebih akhirnya Asna selesai make over Kiara dan kemudian langsung memberikannya cermin.


"Sangat bagus, mama lebih suka seperti ini. terlihat natural dan tidak menor." ucap mamanya Kiara.


Ucapan mama nya Kiara di dukung oleh papanya, ternyata Kiara juga menyukai make over yang dilakukan oleh Asna.


"Maaf...! sudah sore ini, Asna mau pamit pulang." pinta Asna dengan suaranya yang lembut.


Kiara dan kedua orangtuanya baru sadar kalau hari sudah sore dan papanya Kiara langsung memanggil sepupu Kiara.


"Galih...! Betah benar di dalam kamar, ngapain sih di kamar mulu?" mamanya Kiara bertanya kepada pemuda tampan itu.


Tapi tidak ada respon, malah fokus melihat Asna yang sedang membereskan dokumen papanya Kiara.


"Mas Galih...!"


"Iya...iya...!" pemuda tampan yang bernama Galih itu baru sadar setelah Kiara yang memanggilnya.


"Nama saya Galih, keponakan sepupunya Kiara." ujar Galih yang memperkenalkan dirinya.


"cieee....cie...." Kiara dan mamanya meledeknya.


Galih tersipu malu, karena ketahuan menatap wajah Asna hingga tidak menyahut waktu di panggil.


"Jangan ngarep banyak sama Asna, di sekolah ada empat laki-laki tampan dan kaya raya yang memperebutkan Asna." ucap Kiara.


"Kebanyakan ngomong deh, nanti saja itu dibahas itu.


Galih...! tolong antar Asna pulang, Iya. kaki Kiara terluka sehingga tidak bisa mengantar temannya." pinta Papanya Kiara.


"Ngak usah repot-repot Om, Asna bisa pulang sendiri naik taksi. cuman ngak punya uang saja.


Kami dari rumah cuman bawa uang pas-pasan karena takut khilaf di pasar loak itu." sanggah Asna yang merasa segan.


Tapi papanya Kiara tetap memaksa agar diantar oleh ponakannya sampai ke rumah Asna.


Galih begitu bersemangat untuk mengantar teman sekelas sepupunya itu dan akhirnya Asna mau diantar.


"Uang untuk bayar sama tukang buku itu, ngak enak kalau Asna berhutang gara-gara Kiara."


"Ngak udah Kiara, aku ada uang di rumah. cuman ngak bawa banyak saja karena takut tergiur dengan semua yang ada di pasar loak itu." sanggah Asna yang hendak menolak uang dari Kiara.


Tapi Kiara memaksa dan akhirnya Asna menerima uang tersebut dan kemudian berangkat bersama Galih.


"Kak Galih itu kuliah atau masih sekolah?" tanya Asna dengan suaranya yang lembut.


"Kuliah kedokteran di universitas Indonesia dan sebentar lagi ujian mau naik ke semester empat." Galih menjawabnya yang terlihat sedikit grogi.


Nania memujinya karena bisa masuk kedokteran dengan seleksi berprestasi sehingga mendapatkan potongan uang kuliah.


"Teman-temannya Kiara itu biasanya pada berisik ngak jelas, tapi kamu beda. bahkan Om dan Tante bersedia menemani mu di meja makan itu.


Baru kali ini melihat om dan tante mengajak ngobrol teman yang dibawa Kiara ke rumah. tapi ini pertama kalinya aku melihat teman Kiara yang sangat cantik.


Nampaknya kamu ini gadis spesial yang beruntun aku kenal." gombalan seorang lelaki.


"Biasa saja kali, Kak. di kelas kami itu, Asna yang paling jelek dan miskin.


Ngak modis seperti Kiara dan teman-teman yang lain, Asna berbeda dari mereka semua. bisa sekolah di Citra Insani, hanya karena beasiswa.


Tidak ada yang spesial dariku, seorang anak sekolah dari keluarga sederhana yang beruntung bisa sekolah di Citra Insani." ucap Asna.


Ucapan Asna mampu membuat Galih terpikat dengan kepribadian Asna yang memukau apa adanya.


Jujur dan tidak yang ditutup-tutupi akan keadaan hidupnya.


"Tapi bagiku kamu sangat beda, tentunya jauh lebih baik bahkan jauh lebih dari Kiara.


Ketika teman-teman Kiara ke rumah, mereka biasanya menggombal ku, rayuan mereka itu sangat menjijikkan." ucap Galih.


Asna hanya tersenyum menanggapi perkataan tersebut dan tanpa terasa mereka sudah tiba di gang masuk ke rumah Asna.


"Maaf, Kak. mobil ngak bisa masuk ke dalam, jadi sampai disini saja mengantarkannya." pinta Asna kepada Galih.


Awalnya Galih ingin mengantar Asna sampai ke rumahnya tapi ditolak dengan halus oleh Asna.


Sebenarnya ada jalan yang cukup lebar yang bisa masuk sampai halaman rumah Asna, tapi nampaknya Asna sengaja turun di tempat yang berbeda.


Begitu pamit pada Galih dan Asna langsung beranjak pergi menelusuri gang demi gang, setelah memastikan bahwa Galih tidak mengikutinya.


Barulah Asna memutar balik untuk menuju rumahnya.


"Orang kaya itu ngak bisa di percaya, lebih baik waspada dari pada terjebak untuk kedua kalinya." ucap Asna yang berbicara dengan dirinya sendiri.


Kemudian melanjutkan perjalanannya dan akhirnya tiba juga di rumahnya.


"Dafa sudah pulang, Ma?" tanya Asna ke mamanya yang sedang beres-beres di depan rumah.


"Sudah...! tuh lagi rebahan sama papa mu." Jawab mamanya yang menunjuk ke arah ruang tamu.


Asna menceritakan kejadian yang menimpa temannya yang bernama Kiara yang menyebabkan Asna dan adiknya lama pulang ke rumah.


"Kakak sudah pulang, buku-buku kakak sudah Dafa letakkan di meja belajar, iya."


"Iya, terimakasih dek." Asna menyahut adiknya seraya berterima kasih.


Lalu Asna kembali cerita pada mamaknya, seperti layaknya dua perempuan yang sedang bergosip.


"Sebenarnya Asna sangat takut jika terlalu dekat dengan Kiara." kata Asna yang duduk santai di samping mamanya.


"Berpikir positif saja Asna, lalu berdoa agar di jauhkan dari segala marabahaya.


Selesai sholat lalu zikir, insyaallah pasti hati syahdu dan Allah akan senantiasa melindungi putri kesayangan mama ini."


"Amin ya rob...!" sanggah Asna yang menyahut ucapan mamanya.


"Masuk, Yuk. temani mama masak kolak," pinta mamanya.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah dan bersama-sama menuju dapur untuk memasak kolak.