LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Evano Baru Siuman.



Lalu seorang dokter yang terlihat sangat muda langsung mendatangi Evano di ranjang tersebut.


"Loh...! bukannya kamu yang kemarin di tolong sepupuku itu?" Dokter bertanya kepada Evano.


Evano tidak menjawabnya tapi dokter itu langsung mengobati lebam yang di tubuh Evano.


"Berantam lagi, Ya!" ujar sang dokter seraya mengoleskan obat ke bekas lebam tersebut.


"Ngak, Dok! tapi di pukuli oleh Dafa." jawab Evano yang terlihat kesal.


"Ah...! dokter itu terkejut.


Lalu meminta perawat untuk melanjutkan pengobatan pada lebam di tubuh Evano.


"Pasti kau mengganggu kakaknya, Kan! rasakan lah itu. beberapa kali pasien yang aku obati karena di hajar oleh Dafa.


Dafa itu sabuk tertinggi di perguruan kungfu untuk anak sesuainya, dan Dafa sudah belajar kungfu sejak TK sampai sekarang.


Setidaknya sudah enam tahun Dafa, belajar kungfu, makanya seluruh tubuh mu lebam seperti ini.


Setelah pulang dari sini, kamu harus ronsen ke rumah sakit yang besar. siapa tahu saja ada tulang mu yang patah." kata dokter tersebut.


Dokter itu bernama dokter Bagus, yang merupakan dokter di klinik tersebut dan juga di puskesmas dekat tempat tinggalnya Asna.


"Aku ngak mengganggu kakaknya, tapi aku menagih janjinya untuk belajar ngaji di mesjid dimana Dafa belajar ngaji.


Tapi Dafa marah, katanya aku menggangu kakaknya dan memukuli dengan kayu yang di tengahnya ada rantai besi." sanggah Evano yang menahan rasa sakit.


"Usahakan jangan bertemu dengan Dafa lagi, kalau nggak, habis badan mu memar di buatnya." kata dokter bagus.


Dokter Bagus cerita, kalau Dafa sangat protektif terhadap kakaknya dan anak itu tidak segan-segan menghajar siapapun yang menggangu kakaknya.


"Kenapa kau menggangu Asna?" tanya dokter Bagus lagi.


Pertanyaan dengan nada yang meninggi, karena Asna, adalah sepupunya. terlihat dari raut wajahnya dokter Bagus, jelas tergambarkan kekesalan.


Sebagai dokter yang sudah bersumpah akan melayani pasien tanpa pandang bulu, itulah sebabnya dokter Bagus berusaha menahan emosinya.


"Emangnya salah jika aku menyukai Asna?"


Pertanyaan dari dokter Bagus, dijawabnya dengan pertanyaan lagi dan dokter itu hanya terdiam dan kemudian menuliskan sesuatu di catatannya.


Srekkkk.... ' suara kertas yang di koyak.'


"Pengantar atau rujukan agar kau ronsen ke rumah yang besar dan fasilitas lengkap, takutnya ada tulang mu yang patah dan hanya untuk berjaga-jaga.


Jangan sepele akan pukulan dari alat kungfu Dafa, karena pernah ada preman yang patah tulang di buatnya." kata dokter Bagus.


Lalu menyarankan Evano untuk segera ke rumah sakit.


Saat keluar dari klinik tersebut dan Evano berkata langsung pulang ke rumahnya.


Baru beberapa menit dalam perjalanan Evano, hampir terjatuh dari motor karena pingsan.


Lalu Ramon membuka jaketnya dan mengingatkan tubuh Evano ke tubuhnya dan kemudian berbelok arah.


Ternyata Ramon membawa sahabatnya itu ke rumah sakit tempat ayahnya bekerja, dan rumah sakit itu adalah milik keluarga Evano.


Ramon menerobos palang masuk kendaraan bermotor dan tancap gas motor hingga menuju ruang IGD.


"Dokter...! tolong sahabat ku ini." pinta Ramon yang masih di motornya bersama Evano.


Motor Ramon masuk hingga kedalaman IGD karena pintu itu sistem sensorik yang akan benda yang bergerak.


Tiga orang perawat dan dua dokter, langsung membantu Ramon untuk menurunkan Evano dari atas motor.


"Maaf ya mas, motornya biar aku bawa ke parkiran." ujar seorang security setelah Evano sudah di ranjang.


Lalu Ramon turun dari motornya dan security itu membawa motornya. sementara Ramon fokus melihat ke arah Evano yang sudah tidak sadarkan diri.


"Periksa alat vitalnya." perintah dokter itu.


Dokter tersebut masih membaca surat dari dokter Bagus. beberapa saat kemudian seorang perawat menghampirinya.


Entah apa yang mereka bicarakan dan dokter yang menerima surat dari dokter Bagus, meminta mempersiapkan ruang ronsen.


Evano langsung di bawah oleh perawat yang diikuti oleh dokter itu, begitu juga dengan Ramon.


Melalui pintu dari arah belakang, tiga perawat mendorong ranjang Evano hingga menuju lorong.


"Ramon...! seorang dokter laki-laki paru baya memanggil Ramon.


"Syukurlah kalau Papa belum pulang." sanggah Ramon yang ternyata adalah papanya.


Tapi sanggahan tersebut tidak di hiraukan oleh papanya dan langsung memanggil dokter dari IGD itu.


"Pasien mengalami lebam di badannya, dokter dari klinik sudah memberikan pertolongan pertama pada pasien. Menyarankan untuk ronsen menyeluruh karena takut ada tulangnya yang patah." ucap dokter dari IGD itu.


Lalu Papanya Ramon hanya mengganguk dan dokter dari IGD masuk ke ruangan yang baru itu.


Ketika Ramon hendak ikut masuk ke dalam dan papanya mencegahnya.


"Kenapa Evano, bisa seperti itu?" tanya papanya.


"Kurang tahu jelas pah, begitu mau ekstrakurikuler di sekolah dan Evano pamit ke toilet.


Tapi tidak kunjung masuk lagi, dan selesai ekstrakurikuler, Ramon. mencari keberadaan Evano dan akhirnya ketemu di taman yang tidak jauh dari sekolah kami.


Evano sudah terkapar dan Ramon membawanya ke klinik terdekat agar dia mendapatkan pertolongan medis." ungkap Ramon.


Ramon merahasiakan kejadian yang sebenarnya, dan mengatakan untuk bertanya kepada Evano untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.


Padahal Ramon, juga mengetahui apa yang terjadi kepada Evano. karena dokter Bagus sudah cerita waktu di klinik.


Beberapa saat kemudian Evano, sudah keluar dari ruangan ronsen, lalu dokter dari IGD menunjukkan sesuatu di iPad kepada papanya Ramon.


"Tidak fatal, Dok! tapi ada pendarahan di area punggung sebelah kiri. hal itu membuat pasien pingsan." jelas dokter itu.


Lalu Papanya Ramon, meminta dokter ahli untuk menangani Evano, lalu pasien dibawa ke ruang VVIP.


Sesampainya di ruang rawat VVIP dan diperiksa tiga dokter spesialis sekaligus dan ketiga dokter spesialis itu berkata tidak ada yang fatal.


Barulah papanya Ramon bernapas lega, lalu meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.


Evano sudah di infus dan mendapatkan satu kali suntikan melalui bokongnya dan sisanya melalui cairan infus.


Ramon dan papanya masih menunggu di ruang rawat VVIP tersebut dan tidak berapa lama kemudian datang seorang perempuan paru baya yang berpakaian glamor.


"Bagaimana keadaan anakku, Dok?" tanya perempuan itu yang ternyata mamanya Evano.


Papanya Ramon menjelaskan seperti yang dijelaskan oleh dokter spesialis yang menanganinya.


Ketika Ramon ditanyain kenapa bisa Evano seperti ini, dan hanya memberikan jawaban yang sama.


Akhirnya mereka hanya bisa menunggu dan pada akhirnya Evano sadar dan langsung di periksa oleh papanya Ramon.


"Vano...! siapa yang memukul mu?" tanya mamanya yang kecemasannya.


Tapi Evano hanya diam saja, walaupun di tanyakan berulangkali kali dan Evano tetap tidak menjawabnya.


Lalu mamanya Evano bertanya kepada Ramon, dimana menemukan Evano.


Setelah mendapatkan jawaban dari Ramon, seketika itu juga mama nya Evano langsung meriah handphone-nya dan menghubungi seseorang.


Selesai menelpon dan mamanya Evano duduk di sofa.


Hanya berselang beberapa saat kemudian handphone mamanya Evano berdering lagi dan langsung menjawab panggilan telepon tersebut.