LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Bertemu Dengan Kiara.



Bu Hana kemudian tertawa karena alasan yang aneh dari anaknya, alasan tentang kenapa Evano tertawa.


"Dafa lucu, Iya?" bu Hana bertanya pada anaknya.


"Biasa saja, Ma. malahan terlihat aneh, masa hanya memperhatikan celana pendekku yang berwarna kuning ini."


hahahaha... hahahaha...hahahaha ' suara tawa mamanya Evano.'


Evano tersenyum melihat mamanya yang tertawa seperti itu.


"Evano sudah lama tidak melihat mama tertawa seperti ini, terimakasih karena mama sudah tertawa seperti ini."


Ucapan Evano yang tulus membuat mamanya terlihat sangat bahagia, tidak lupa bersyukur karena anaknya sudah mulai berubah menjadi lebih baik.**


Dari rumah Asna, keluarga sederhana itu sudah sibuk dengan aktivitasnya seperti biasa walaupun minggu seperti ini.


"Kak, temani Dafa cari buku di pasar loak." pinta Dafa ke kakaknya.


"Cari buku apa? kenapa ngak ke toko buku saja?" tanya kakaknya.


"Cuman untuk referensi pelajaran saja, walaupun buku bekas yang penting ilmunya." jawab Dafa dan kemudian tersenyum.


"Okey...! kakak temani karena kakak juga butuh buku referensi." sanggah Asna.


Mereka berdua sudah sepakat akan ke pasar loak, pasar yang menjual berbagai barang-barang bekas.


Sudah jam sembilan pagi, Asna dan adiknya bersiap-siap untuk pergi ke pasar loak.


Dengan menaiki angkutan umum, Asna dan adiknya sudah tiba di pasar loak dan langsung menuju penjual buku-buku pelajaran.


Asna dan adiknya mencari buku-buku yang mereka butuhkan, dan hanya berselang beberapa saat.


Mereka berdua sudah menemukan apa yang dicari oleh mereka berdua.


Dafa mengambil delapan buku dan semuanya berkaitan dengan sains dan alam, demikian juga dengan Asna.


Bedanya Asna memilih buku-buku yang berkaitan dengan dunia medis.


"Kumpulan di kardus ini, biar Dafa yang menawar harganya." ucap Dafa ke kakaknya.


Hampir satu kardus buku yang mereka pilih, lalu Dafa membawa buku itu ke penjualnya.


"Tiga ratus ribu semuanya." ucap penjual itu.


"Ngak bisa, aku cuman punya duit seratus dua puluh ribu rupiah.


Seratus ribu untuk bayar buku-buku ini dan sisanya beli ice dan ongkos kami pulang." sanggah Dafa seraya menyerahkan uang seratus ribu rupiah.


"Dasar bocil pelit, bawa itu bukunya." kata penjualannya dan mengambil uang dari tangan Dafa.


Dafa tersenyum dan kemudian mengucapkan terimakasih kepada penjual itu, lalu mengangkat buku dalam kardus itu.


"Ayo makan ice cream, Kak." pinta Dafa.


Kakaknya langsung mengambil buku yang dibawa Dafa tapi ditolaknya dengan alasan kalau Dafa laki-laki dan sudah pastinya kuat.


Asna tidak berkutik dan langsung menuju penjual ice cream bersama Dafa.


Mereka berdua sudah duduk di kursi plastik yang disediakan oleh penjual ice cream seraya menikmati ice cream.


"Gitu banyak buku-buku yang kita beli, masa harganya cuman seratus ribu."


Dafa tersenyum menanggapi ucapan kakaknya dan kemudian menatap sang kakak yang menikmati ice cream.


"Nama penjual buku itu Ari, dia tinggal bersama keluarganya di belakang puskesmas.


Dafa tahu berapa harga buku itu dibelinya dari orang-orang sehingga Dafa dengan mudah menawarnya."


"Maling...maling..." suara teriak dari seorang perempuan yang menghentikan obrolan Dafa dan kakaknya.


Lalu Asna dan Dafa mengambil buku yang agak tebal dari kardus tersebut dan kemudian...


prak...prang...plasss... ' suara orang yang jatuh dari motor.'


Hampir saja kedua maling itu di hajar warga, tapi beruntungnya bisa selamat karena polisi yang kebetulan berjaga-jaga di pasar tersebut.


"Kiara...!" ucap Asna.


Kiara yang terlihat ngos-ngosan saat mengejar maling yang merampas tasnya.


Salah dari pengunjung pasar loak itu memberikan tas milik Kiara dan berkata kalau Asna dan adiknya yang berhasil menyelamatkan tas Kiara.


"Ngapain kemari?" tanya Asna yang memakainya sweater ke tubuh Kiara.


"Tali bra mu kelihatan, pakailah sweater ini." ucap Asna lagi.


Kiara memakai sweater pemberian Asna, lalu Dafa mempersilahkan Kiara untuk di duduk di kursi plastik itu.


Lalu Dafa pergi ke arah penjual sepatu bakas karena melihat kaki Kiara.


"Ngapain kamu kemari? apa yang kamu cari?" tanya Asna yang masih penasaran apa yang dilakukan oleh Kiara di pasar loak tersebut.


"Ganti sepatu kakak pakai sepatu bekas ini, Iya." ucap Dafa dan membantu Kiara untuk memakai sepatu bekas tersebut.


"Terimakasih dek, nanti saja ceritanya. karena Kiara harus mengantarkan bekas ini ke klien papa." kata Kiara seraya menunjukkan tasnya kepada Asna.


"Bang Ari...! tolong panggilkan taksi." Dafa berteriak kepada penjual buku-buku bekas itu.


Hanya beberapa saat taksi sudah tiba didepan mereka.


"Bang Ari, pinjam dulu uang mu. nanti sore Dafa kembalikan." ucap Dafa dan mengambil uang seratus lima puluh ribu rupiah dari tangan Ari.


"Ngak usah, Dek. kakak ada uang, kok." sanggah Kiara.


"Uang cash?" tanya Dafa.


Kiara menggelengkan kepalanya, lalu Dafa menyuruh kakak untuk membantu Kiara masuk ke dalam taksi.


Sementara Ari memasukkan buku-buku yang sudah di beli Dafa dan kakaknya ke taksi tersebut.


"Komplek perumahan indah sejati, Pak." ucap Kiara kepada supir taksi tersebut.


Asna menemani Kiara duduk di bangku belakang, sementara Dafa duduk disamping supir.


"Papa kurang sehat tapi harus mengantar dokumen ini ke rumah klien Papa.


Supir pribadi papa sedang sakit, sehingga Kiara inisatif untuk mengantarkan dokumen ini.


Tapi saat di jalan tiba-tiba ban mobil ku pecah dan kemudian maling itu mengambil tas yang berisi dokumen penting itu.


Kiara mengejarnya sampai ke tempat tadi, tanpa mengenal rasa takut dan capek dan terus aku kejar." ungkap Kiara yang akhirnya cerita juga.


Asna hanya bisa mengganguk mengerti dan kemudian Kiara mengucapkan terimakasih kepada Asna dan adiknya karena sudah membantunya.


Akhirnya mereka tiba di perumahan itu dan langsung menuju rumah yang sangat mewah.


"Kak Asna...! kakak datang sama siapa?" anak laki-laki yang seumuran Dafa bertanya kepada Asna.


Seperti anak laki-laki itu sangat dekat Asna, terlihat anak laki-laki tersebut langsung memeluk Asna.


"Asna...! kok bisa barengan sama Kiara? masuk saja dulu." ucap seorang ibu-ibu yang masih terlihat muda.


Mereka bertiga langsung masuk ke rumah mewah itu, lalu Dafa meletakkan barang belanjaannya di dekat rak sepatu.


Kiara menceritakan kejadian yang menimpa dirinya hingga bertemu dengan Asna Dafa di pasar loak.


"Apa ibu mengenal Asna?" tanya Kiara setelah menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.


"Asna itu guru privat matematika Jafar, karena itu ibu mengenal Asna." jawab mamanya Jafar.


Jafar dan Dafa sedang bermain robot-robot di depan mereka dan nampaknya mereka sangat akrab.


"Jafar dan Dafa satu sekolah, mereka berdua sering belajar bersama disini." kata mama Jafar.


Hal itu karena Kiara memperhatikan Dafa yang sangat akrab dengan Jafar, bahkan saling berbagi minuman.