LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Kebahagiaan berakhir Dengan Masalah.



Tanpa terasa hari berlalu dan perayaan hari guru akan segera di mulai, upacara pembukaan sudah selesai.


Saat acara hiburan dan sebelum acara dimulai, acara di buka dengan tarian dari team cheerleaders dari team Kiara.


Acara di laksanakan di gedung aula, lalu penyerahan cendramata kepada guru-guru yang diwakili oleh ketua OSIS dan siswa-siswa yang terpilih.


Salah satunya adalah Asna, siswi teladan itu terpilih untuk memberikan cendramata kepada kepala sekolah.


Sementara ketua OSIS memberikan cendramata kepada ketua yayasan, lalu disusul oleh murid-murid yang lain.


Kata sambutan dari ketua OSIS dan kemudian ditambahkan oleh Asna.


Asna sebagai perwakilan siswa-siswi yang mengharumkan nama sekolah yang di dampingi oleh ketua OSIS dan guru pembina OSIS ' organisasi siswa '.


Setelah penyerahan cendramata kepada guru-guru dan saatnya acara hiburan yang di buka oleh tampilan Asna dan group bandnya.


Lagu himne guru sebagai pembuka, semua para murid mengikutinya.


Lanjut lagu berkibarlah bendera ku negeriku, suasana semakin meriah. nyanyian bersama yang diiringi musik yang spektakuler.


Suara Asna yang merdu nan syahdu, menghanyutkan suasana yang semakin seru. mereka terhanyut dalam satu alunan lagu yang merdu.


Acara demi acara terselesaikan dengan sempurna dan penuh makna, kerja sama tim membuat acara berjalan lancar.**


Berhubung acara perayaan hari guru, selesai acara dan langsung pulang ke rumah masing-masing.


Asna sudah berada di rumahnya bersama Dafa.


Asna mencuci pakaian sementara Dafa, membersihkan rumah dan mencuci piring dan sebagaimana.


Hari sudah semakin sore, seluruh pekerjaan rumah sudah selesai.


Asna dan adiknya menunggu kedua orangtuanya sambil belajar dan akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba di rumah.


Selesai bersih-bersih dan kemudian sholat berjamaah, lalu makan malam bersama.


Asna dan adiknya kembali belajar, sementara mamanya bersantai menonton televisi bersama papanya Asna.


"Kakak sudah selesai belajar?" tanya Dafa yang terlihat sudah mengantuk.


"Sudah, tadi kakak hanya menunggu Dafa, Kok!" jawab Asna.


Mereka berdua telah selesai belajar dan kemudian pamit kepada kedua orangtuanya untuk istirahat.


Maklumlah tadi siang benar-benar menguras tenaga karena acara hari guru nasional.


Pada akhirnya mereka sekeluarga istrihat, karena besok akan beraktivitas lagi sebagaimana biasanya.**


Seperti biasa saat pagi hari, semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. selesai sarapan dan kemudian bersiap-siap ke sekolah.


Asna berangkat ke sekolah bersama Dafa, dengan naik sepeda milik adiknya tersebut.


"Nanti pulang sekolah Dafa, harus ke rumah kak Evano. kakak juga, Kan?" tanya Dafa yang duduk dibelakangnya.


"Iya, Karena Dafa harus menemani kakak." jawab Asna.


"Maafkan Dafa ya, Kak. gara-gara Dafa, kakak harus bertemu lagi dengan pria tengil itu." Ucap Dafa dengan lirih.


"Santai saja kali, ngak usah merasa seperti itu. sekalian hitung belajar juga, mengajari orang lain itu juga ibadah.


Ada dua manfaat yang kita peroleh, pertama ibadah dan kedua untuk belajar. karena kita harus mengulangi kembali pelajaran dan tentunya kita tidak lupa." jelas kakaknya.


"Iya, juga. Mengajari Kak Evano, sholat dan ngaji berpahala juga." sanggah Dafa dengan suara yang sangat jelas.


Tanpa terasa sampai juga ke sekolahnya Dafa, setalah salin ke kakaknya. Dafa langsung menuntun sepedanya masuk ke sekolahnya.


Kemudian Asna berjalan kaki menuju sekolahnya.


Baru saja di gerbang sekolah dan Evano sudah mencegahnya, dari raut wajah pria tengil itu, seakan-akan mengisyaratkan kemenangan.


"Akhirnya kamu jadi guru ku juga, aku bisa melakukan apapun. kamu itu, jangan sok jual mahal." ucap Evano dengan segenap kesombongannya.


Pria tengil itu seperti tertantang karena sikap Asna, gadis cantik nan sederhana tapi malah membencinya.


Evano terus mengikuti Asna, hingga ke lorong menuju ruangan mereka.


"Tolong jangan menguji kesabaran ku." pinta Asna yang terlihat sangat tidak nyaman dengan sikap Evano.


Sikap Evano yang arogan dan itu menjadi perhatian teman-temannya yang lain dan Asna semakin tidak nyaman.


"Minggir...!" pinta Asna dengan nada suara yang sudah mulai meninggi.


"Kalau aku tidak mau kenapa?." tanya Evano dengan sifat angkuhnya.


Asna mendekati Evano, lalu meraih tangan dan kemudian memiting tubuhnya dan kemudian...


krekk...plak...bam... ' suara tubuh Evano yang terbanting ke lantai.'


"ahhhhhh....." Evano meringis kesakitan yang tergelak di lantai.


prok...prok...prok... ' suara tepuk tangan yang meriah dari teman-temannya yang lainnya.'


Suara keributan mengundang perhatian teman-teman yang lain yang mengerumuni mereka.


Hal itu juga membuat guru bimbingan konseling menghampiri mereka.


"Kalian berdua, ikut ibu." perintah bu guru bimbingan konseling.


Ramon yang baru datang langsung membantu Evano untuk berdiri, lalu mereka bersama-sama menuju ruang bimbingan konseling.


"Suruh nyuruh kau ikut?" tanya bu guru konseling kepada Ramon.


"Hanya membantu Evano saja bu, karena Evano baru keluar dari rumah sakit." jawab Ramon dan kemudian keluar dari ruang bimbingan konseling.


Evano dan Asna duduk berhadapan dengan guru pembimbing konseling, Asna mendudukkan kepalanya sementara Evano masih tetap angkuh.


"Asna...! ceritakan apa yang telah kamu lakukan?" tanya pembimbing konseling itu.


"Evano, mengganggu Nania bu. secara refleks, langsung Nania banting hingga terkapar di lantai." jawab Asna dengan nada suara yang pelan.


"Aku ngak terima bu, Evano mau menuntut Asna. badanku sangat sakit karena di hajar preman ini." ujar Evano dengan penuh emosi.


Kemudian bu guru konseling itu melihat ke arah komputer dan ternyata bu guru konseling menonton tampilan sisi TV.


Beberapa saat kemudian bu guru pembimbing konseling itu, menatap tajam ke arah Evano.


"Evano, ngak malu kalau harus menuntut Asna?" ucap bu guru pembimbing konseling dan kemudian menunjukkan rekaman sisi tv.


Evano menonton rekaman sisi tv itu, hanya beberapa saat menonton dan kemudian menatap Asna dengan tatapan yang aneh.


"Aku ngak perduli, malu atau tidaknya. tapi yang jelas aku harus melaporkan Asna ke polisi atas dasar penganiayaan.


Tapi ada tawaran yang menarik dariku, jika kamu mau menjadi kekasihku. aku tidak akan melaporkan mu ke polisi." ucap Evano yang terlihat penuh percaya diri.


"Tawaran mu ngak menarik, jika seandainya hanya kau laki-laki di dunia ini. lebih baik aku menjomblo seumur hidup.


Silahkan lapor ke polisi, lebih baik masuk penjara dari harus punya hubungan dengan mu." sanggah Asna dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca.


Jelas terlihat ada ketakutan di dalam dirinya, gadis cantik nan sederhana itu tentunya merasa tidak nyaman sekali.


Tidak nyaman karena harus berurusan dengan pria tengil yang selalu mengganggunya.


"Kamu mau melaporkan Asna! silahkan saja. tadi aku sudah merekam kejadian yang sebenarnya.


Mulai dari gerbang sekolah hingga ke lorong masuk ke ruang kelas, jika menggunggah ke media sosial.


Maka reputasi sekolah ini hancur, serta hancurnya harga dirimu yang di banting oleh cewek cantik seperti Asna." kata Sasa yang datang ke ruang bimbingan konseling.


Sasa sebagai tim Asna di group band dan juga tim voli putri.


Sasa menunjukkan video rekaman dari handphonenya kepada Evano dan kemudian memegang bahu kanan Asna.