LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Mulai Privat.



Ternyata Asna tidak bisa tertidur dan malah beres-beres rumah, mulai mencuci piring hingga mencuci pakaian.


Tanpa terasa semua pekerjaan rumah sudah selesai, lalu Asna mempersiapkan bahan-bahan ajaran untuk dibawa ke rumah Evano nantinya.


Hari sudah petang, Asna menunggu sedang menunggu Dafa.


Asna langsung tersenyum ketika melihat Dafa yang datang dengan menaiki sepedanya. sang kakak langsung membuka pintu rumah.


"Kata mamak, kakak sakit?" tanya Dafa yang terlihat kwatir kepada kakaknya.


"Ngak, kakak hanya kesal sama pria tengil itu. tanpa sengaja kakak membanting hingga masuk ke UKS." jawab Asna dan kemudian tersenyum.


"Apa kakak terluka?" tanya Dafa yang terlihat masih kwatir.


"Kakak ngak kenapa-kenapa Dafa, hanya kesal saja sama pria tengil itu." jawab Asna untuk meyakinkan Dafa.


Dafa akhirnya tenang setelah yakin kakaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Asna tidak pernah berbohong kepada adiknya, demikian juga Dafa yang tidak pernah berbohong kepada kakaknya.


"Kalau gitu, yuk kita siap-siap ke rumah si tengil itu, Kak!" ucap Dafa dan kemudian masuk ke kamarnya.


Demikian juga dengan Asna, langsung masuk ke kamarnya untuk mengambil persiapannya. berselang beberapa saat kemudian.


Asna dan adiknya sudah siap-siap untuk pergi ke rumah Evano, mereka berdua begitu terkejut karena sebuah mobil mewah sudah parkir di depan rumah mereka.


"Asna dan Dafa, Kan!" seorang pria paru baya bertanya dengan begitu ramahnya.


"Iya, benar. saya Asna dan ini adikku Dafa, bapak mencari siapa?" tanya Asna dengan ramahnya.


"Saya biasa di panggil pak Rohim, dan bapak kemari di tugaskan bu Hana, untuk menjemput dan mengantar pulang kalian berdua." kata pak Rohim seraya membuka pintu mobil.


"Kami bisa naik angkut umum, Pak. ngak usah repot-repot seperti ini." ucap Asna, dengan bermaksud untuk menolaknya.


"Jangan gitu dong, Nak. nanti bapak di pecat kalau tidak menjalankan tugas." sanggah pak Rohim yang terlihat lemas.


"Mungkin, Nak Asna dan Dafa. takut kalau bapak akan mencelakai kalian berdua, tunggu sebentar ya, Nak." kata pak Rohim.


Kemudian meraih handphonenya dan terlihat menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian pak Rohim, memberikan handphonenya kepada Asna. dimana panggilan tersebut sudah di alihkan ke panggilan video call.


"Assalamualaikum, Bu!" sapa Asna dengan ramahnya.


"Waalaikumsalam salam, oh iya. Itu ibu, sudah meminta pak Rohim untuk menjemput dan mengantar kalian pulang nantinya.


Karena anak ibu yang butuh kalian berdua, jadi ibu harus memberikan fasilitas yang terbaik untuk kalian berdua." kata bu Hana dengan tegasnya.


"Kami berdua bisa naik angkutan umum, ibu." sanggah Asna.


"Ngak boleh Asna, karena ibu harus memastikan keselamatan kalian berdua. jangan membantah ya, Nak." ucap bu Hana, dan mengakhiri panggilan telepon.


Akhirnya Asna dan Dafa naik ke mobil mewah tersebut, dan Dafa terlihat sangat mengagumi mobil mewah yang ditumpanginya.


"Tuan muda, sudah menunggu kalian berdua di rumahnya." ujar pak Rohim yang memulai pembicaraan agar tidak garing.


"Sangat aneh sekali, kenapa Evano tidak meminta guru profesional saja, Ya!" tanya Asna yang masih bingung.


"Nyonya sudah pernah memanggil guru profesional, tapi malah di usir sama tuan muda.


Mungkin dengan non Asna dan Dafa, tuan muda mau belajar. karena masih sama-sama muda." jawab pak Rohim dengan jelas.


Tanpa terasa akhirnya mereka tiba disebuah perumahan yang sangat elit, semua rumah tampak seperti istana.


Dari gerbang masuk dan hanya melewati beberapa deretan rumah mewah, akhirnya Dafa dan adiknya tiba disebuah rumah mewah bak istana.


"Bukan rumah ini, tapi istana." ucap Dafa yang mengagumi rumah mewah tersebut.


Evano sudah menunggu Asna dan adiknya disebuah ruangan yang sangat mewah.


Meja yang tertata rapi dan ada white board, akan tetapi sambutan sinis dari Evano yang menyambut mereka berdua.


"Coba kakak lihat, wajahnya menggambarkan seperti banyak masalah." Dafa berbisik kepada kakaknya.


Dafa mengatai Evano, karena sambutannya yang sangat sinis.


"Aku sudah bilang, apapun bisa aku dapatkan. termasuk membeli kalian berdua." ucap Evano dengan kesombongannya.


"Teruslah pamer, wahai anak muda. berbahagialah dengan kesombongan mu itu, serta tetaplah konsisten dengan kesombongan yang maha dahsyat itu." kata Dafa yang membalas kesombongan dari Evano.


Asna hanya tersenyum melihat Evano yang seperti mati kutu karena balasan ucapan dari Dafa.


"Ngak usah banyak bacot, kita langsung saja belajar.


Eh, cecenguk. sekarang mau belajar sama kak Asna, atau sama Dafa?" Dafa bertanya dengan tegas kepada Evano.


"Kakak duluan, nanti biar sama-sama kita sholat dan ngajinya." ujar Asna kepada adiknya.


Lalu Dafa meraih stik dari tasnya lalu...


prak...prak...prak... ' suara stik yang di pukul ke meja.'


"Ambil buku mu, jika masih memintak uang jajan sama orang tua. ngak usah belagu dah." kata Dafa yang menyindir Evano.


Entah itu karena trauma, Evano langsung duduk di meja dan meraih buku tulisnya.


"Murid kakak sudah siap untuk belajar." ucap Dafa seraya bertolak pinggang.


"Mohon maaf menggangu, mau di buat minuman apa?" asisten rumah tangga Evano datang menghampiri mereka.


"Dafa dan kakak Asna dan juga kak Evano, mau minum jus jeruk dan makanannya mie goreng dengan dua telur dadar. kalau ada ayam goreng, boleh juga." Dafa menjawabnya dan kemudian tersenyum.


Asisten rumah tangga itu melirik ke arah Evano, dan sang tuan muda itu mengganguk untuk menyetujuinya.


Setelah asisten rumah itu berlalu ke dapur, Asna langsung mengajari Evano untuk pelajaran kimia.


Asna layaknya seorang guru profesional yang mengajar di kelas, karena sebenarnya Asna juga mengajar privat matematika untuk anak-anak.


Tidak bedanya cara mengajar Asna, dan terlihat Evano mudah memahaminya. sementara Dafa bertugas layaknya seorang pengawas.


Begitu jus jeruk tersaji, Dafa langsung meneguknya dan kemudian memberikannya kepada kakaknya.


"Aku juga mau." ungkap Evano, karena melihat Dafa yang menyodorkan jus jeruk ke kakaknya.


"Ntar...! belajar yang benar, baru dapat minum." jawab Dafa dengan kesal.


Sang asisten rumah tangga hanya tersenyum menanggapi ucapan Dafa, lalu pamit untuk menyiapkan makanan.


Proses belajar mengajar di lanjutkan, ketika Evano sudah mengerti, lalu Asna memberikannya tugas.


Sembari menunggu Evano mengerjakan tugasnya, Asna dan adiknya makan mie goreng dan ayam goreng.


"Selesai dulu tugasnya, baru makan." kata Dafa pada Evano.


Dafa berkata demikian karena Evano, melirik mereka berdua yang asyik makan mie. sementara dirinya harus mengerjakan tugas dari Asna.


Asna dan adiknya sudah selesai makan, begitu juga tugas Evano.


plak... ' suara meja yang di pukul oleh Dafa karena Evano hendak meraih mie goreng.'


"Ntar dulu, tunggu di periksa kakak." ucap Dafa.


Dafa mengawasi Evano, agar tidak makan sebab tugasnya belum selesai di periksa oleh Asna.