LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Menjenguk Evano.



Bu Hana berjanji akan memberikan perlindungan kepada Asna, jika Kiara dan gengnya menggangunya karena mengajari Evano.


Sebenarnya bukan hanya Kiara yang membuat Asna, enggan untuk mengajari Evano.


Sikap Evano yang di luar nalar Asna, dan membuat Asna membencinya.


"Baik bu, tapi ada syaratnya. adikku yang bernama Dafa, harus ikut selalu dengan ku." ujar Asna yang memberi persyaratan.


Bu Hana menyetujui persyaratan yang di ajukan oleh Asna, tapi Asna di minta untuk menjenguk Evano di rumah sakit sepulang sekolah.


Semua permasalahan sudah selesai, dan Nania kembali masuk ke ruangan untuk belajar kembali.


Pelajaran sudah selesai, Nania dan teman-temannya satu kelas mintak ijin untuk tidak mengikuti ekstrakurikuler.


Agar mereka bisa berkunjung ke rumah sakit, menjenguk teman mereka yang sedang sakit yaitu Evano.


"Ayo, barang kami saja." Kiara menawarkan tumpangan kepada Asna.


Awalnya Asna menolaknya, tapi karena di desak oleh Kiara dan akhirnya Asna tidak biasa menolak lagi.


"Nyokap Evano, menemui Lo, Kan?" tanya Kiara.


Asna duduk disamping Kiara yang menyetir mobil mewah miliknya.


"Iya, bu Hana. memintaku untuk mengajari Evano." jawab Asna dengan pelan.


"Kamu diancam, Ya?" tanya Kiara dengan nada ketus.


"Iya, karena Dafa yang memukul Evano hingga masuk rumah sakit. Kiara, aku harus ngapain?" tanya Asna lagi dengan keraguan.


"Mau apa lagi, toh juga nilai Evano sangat anjlok. tapi kamu jangan pernah harap kalau bisa bersama Evano." ucap Kiara dengan nada yang jelas.


"Sekalipun kami saling mencintai, itu tidak akan pernah terjadi ke jenjang selanjutnya. tidak ada niat sedikitpun untuk memulai hubungan dengan laki-laki dari sekolah kita.


Karena itu berat bagi orang sepertiku, aku mohon Kiara. tolong bantu aku untuk menghindari Evano." ucap Asna yang bermohon.


Sekilas Kiara menatap wajah Asna, lalu tersenyum dan senyuman itu karena terpaksa.


Sebenarnya teman-teman Kiara, sangat tidak menyukai Asna berada di dalam mobil tersebut dan akhirnya mereka menyuruh Asna untuk keluar dari mobil mewah Kiara.


Tapi Kiara menahan Asna, agar tetap berada di dalam mobil hingga sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Kiara menggandeng tangan Asna. lalu bersama-sama mereka masuk ke dalam ruang rawat Evano.


"Tante...!" Kiara menyapa bu Hana yang sedang duduk disamping Evano.


"Karena Asna, sudah datang. ibu keluar dulu, supaya ada waktu untuk kalian." ucap bu Hana.


Kiara yang menyapa bu Hana, tapi Asna yang mendapat sambutannya.


Asna masih dibelakang gengnya Kiara, sementara gadis modis itu sudah duduk di samping Evano.


"Kiara sudah mengingatkan mu, untuk menjauhi Asna. kamu bandel dan sekarang kamu terkapar di sini.


Baru adiknya yang menghajar mu, belum kakaknya.


Jadi...! kamu harus hati-hati sama Asna, bila perlu jauhi perempuan kampung itu." ucap Kiara dengan nada yang menyindir.


Evano tidak mengindahkan ucapan Kiara, pria tengil itu malah melihat ke arah Asna yang bersembunyi di belakang gengnya Kiara.


"Asna....! sini cepat." Kiara memanggil Asna .


Amira langsung menarik tangan Asna, agar lebih cepat menghadap ketua geng mereka yang sangat populer itu.


"Sekarang kamu lihat Evano, antara Kiara dan perempuan kampung ini. apa yang menjadi kelebihan perempuan kampung ini dibandingkan aku?" ucap Kiara dengan kesombongannya.


Sekilas Evano menatap Kiara, lalu berakhir ke wajah sendu milik Asna.


Asna memiliki segalanya, keluarga yang bahagia dengan kedua orangtuanya yang hebat, adiknya yang menjengkelkan dan saudaranya yang saling menyayangi." jawab Evano dengan tatapannya yang begitu syahdu.


Kiara langsung pergi dari ruang rawat yang diikuti oleh gengnya, sementara Asna masih berdiri di samping Evano.


"Aku paham akan mau mu, tapi kamu harus ingat satu hal. tidak semuanya bisa kau beli dengan uang mu." ujar Asna, lalu pergi meninggalkan Evano di ruang rawat tersebut.


Selepas kepergian Asna, teman-temannya yang lain langsung menjenguk Evano. hal tersebut membuat ruang itu persis seperti tempat tongkrongan.


Sampai-sampai dokter harus menegur mereka karena terlalu ribut dan berujung diusir.


Seketika sunyi karena teman-teman Evano di usir oleh dokter.


Tok...tok...tok... ' suara pintu di ketuk '


Evano mempersilahkan tamu yang datang dan Evano langsung tersenyum ketika melihat tamu yang datang.


Tamu yang datang adalah kedua orangtuanya Asna dan Dafa yang masih memakai seragam sekolah.


"Maaf ya, Nak. kalau kami bau keringat, karena belum sempat mandi sebelum ke sini." ujar bu Jainab.


Mereka bertiga berdiri agak jauh dari arah ranjang Evano, karena merasa segan sebab baru pulang kerja.


"Jenguk orang sakit, kok gitu! jauh benar." kata Evano yang terlihat sedikit kecewa.


Dafa di dorong oleh kedua orangtuanya untuk lebih dekat ke arah ranjang Evano. dengan tujuan untuk mintak maaf.


"Maafkan Dafa, Kak!" ucap Dafa dengan suara pelan.


"Gitu mintak maaf? ngak ikhlas mintak maafnya." sanggah Evano.


Dafa yang masih agak jauh dari ranjangnya dan perlahan-lahan mendekati Evano dengan segala keraguannya.


"Sakit banget, pinggangku rasanya mau copot gara-gara Dafa pukuli." keluh Evano ketika Dafa sudah berada di dekatnya.


"Makanya jangan ganggu kakak ku, sekali lagi kau mengganggu kakak ku, uhm...! putus pinggang mu Dafa buat." kata Dafa dengan begitu tegasnya.


"Iya... iya...! tapi ingat, kamu akan ku laporkan ke polisi!" ujar Evano dengan mimik yang serius.


"Kak, Evano! janganlah seperti itu. damai saja yuk." ungkap Dafa lalu tersenyum.


"Okey...! tapi ada syaratnya." jawab Evano dengan tersenyum licik.


"Ajarin kak Evano sholat dan ngaji." pinta Evano.


haaa.... ' suara napas Dafa '


Dafa tidak punya pilihan dan harus menyetujui persyaratan tersebut, tidak ada salahnya untuk berbuat baik, karena pahala yang menjadi imbalannya.


"Kalau gitu kami pulang ya, Kak!" kata Dafa.


Evano malah ngambek karena Dafa hendak pulang dengan kedua orangtuanya. tapi Dafa tetap kekeh mau pulang.


"Jangan gitu dong, Dafa. temani kak Evano, Ya!" pinta bu Hana yang membujuk adik kesayangan Asna itu.


"Dafa belum mandi, belum sholat dan juga belum makan." ungkap Dafa.


Seketika bu Hana terdiam, apalagi setelah mendengar kalau Dafa belum sholat. kemudian bu Hana, jongkok di hadapan Dafa.


"Dafa...! dibawa rumah sakit ini, ada kok supermarket. ntar biar ibu beli kan saja keperluan mu.


Nanti mandi dan sholat disini saja, tolong temani kak Evano, Ya." pinta bu Hana.


Akhirnya Dafa bersedia menemani Evano, nanti malam baru diantar pulang oleh supir pribadi bu Hana.


Kedua orangtuanya Dafa juga mengijinkannya, mamanya Evano mengantarkan kedua orangtuanya Dafa ke lobi rumah, sekaligus untuk membeli keperluan Dafa.