LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Penghianatan Sang Sahabat.



Bu Hana menatap Asna dengan tatapan yang syahdu, lalu memeluk Asna dengan pelukan kehangatan dari seorang ibu yang bangga melihat anaknya.


"Ibu mintak maaf, sayang. maaf karena gagal menjadi ibu dalam hal mengurus dan mendidik anak.


Ibu mintak maaf atas perbuatan Evano terhadapmu, ibu mintak maaf."


Air mata dari seorang ibu mengalir deras di pipinya dan Asna menghapus air mata itu dan kemudian memeluk bu Hana.


"Anak-anak sekalian, bapak ibu guru dan dewan sekolah serta bapak kepala sekolah yang saya hormati.


Saya mintak atas perlakuan Evano, yang telah mencemarkan nama baik sekolah. saya dan anakku Evano. bersedia menerima hukuman apapun atas kesalahan ini.


Anak-anak sekalian, ibu mohon. tolong jangan membuly Asna karena fitnah itu.


Bapak-ibu guru dan bapak kepala sekolah yang terhormat, tolong jangan keluarkan Asna dari sekolah ini.


Asna tidak bersalah, Asna telah di fitnah oleh anakku yaitu Evano.


Saya berada di acara ulang tahun Freya, sebenarnya aku sendiri yang ingin menjemput Asna ke loby hotel.


Tapi saya harus menyapa tamu yang merupakan rekan bisnis, sehingga pak Hengky yang menjemput Asna." ujar bu Hana.


Lalu berhenti sejenak dan menyeka air matanya yang baru menetas, lalu menatap pak Hengky.


"Pak Hengky dan bu Laras, saya mintak maaf atas kejadian ini. saya telah gagal mendidik anak.


Saya akan bertanggungjawab atas semua yang telah terjadi, saya mintak maaf." ucap bu Hana lagi.


Kemudian duduk lagi, karena sudah tidak sanggup untuk bicara.


Sejenak hening, lalu mickropan di ambil alih pak Hengky.


"Masalahnya sudah jelas, jadi tolong jangan membuly Asna." pinta pak Henky.


Kemudian beranjak pergi dari aula tersebut bersama keluarganya karena sisanya akan di urus oleh bu Hana.


"Evano...! apa motif anda melakukan ini? apakah anda menaruh dendam pada Asna?" tanya seorang awak media.


Pertanyaan yang sama di ajukan kepada oleh awak media lainnya, tapi Evano tidak kunjung menjawabnya.


Bu Hana akhirnya mencubit anaknya, agar menjawab pertanyaan dari awak media demi pertanggung jawabannya.


"Bukan dendam, tapi karena Asna terlihat ganjen sama pak Hengky." jawab Evano.


Sepertinya dia tidak mengakui kesalahannya, Evano begitu tegasnya mengatakan demikian.


"Saya perhatikan video yang anda sebarkan, terlihat Asna tidak seperti yang anda tuduhkan.


Tapi lebih tepatnya seorang anak muda yang menghormati orang tua. Tidak kesan hal yang lain seperti yang anda tuduhkan.


Bagaimana anda menanggapi nya? apakah ada unsur sakit hati? misalnya cinta anda di tolak oleh gadis cantik itu?" tanya awak media.


Evano tidak menjawabnya dan memilih untuk keluar dari aula.


Beragam opini dari wartawan, hal membuat Asna mengambil alih mickropan.


"Terimakasih untuk kakak para awak media, terlepas apapun motif Evano melakukan nya dan itu menjadi urusannya.


Asna mengucap syukur karena permasalahan ini cepat di tanggapi.


Asna tidak menyimpan dendam apapun terhadap siapapun, di sekolah ini Asna hanya ingin belajar.


Sekolah internasional yang terbaik dan akan Asna manfaatkan sebaik mungkin demi masa depan yang cerah." ucap Asna yang mengakhiri konferensi pers.


Konferensi pers sudah berakhir, serta berkahir juga bullying kepada Asna karena sudah di atasi.**


Asna terlihat merenung di meja belajarnya, seperti ada beban hidup yang sedang di pukulnya.


"Kakak kenapa?" Dafa bertanya karena melihat kakaknya yang terlihat galau.


Asna menghela napasnya dan menyuruh adiknya untuk duduk disampaikannya.


"Teman sekelas kakak, mengundang kakak untuk pergi ke acara ulang tahunnya. tapi perasaan kakak ngak enak gini." kata Asna yang terlihat resah.


Asna menceritakan kalau Kiara yang mengundangnya, teman satu kelasnya yang terkenal arogan dan egois.


Tapi Asna sulit untuk menolak undangan tersebut, karena Kiara sudah rela mengganti tempat acara agar Asna bisa datang.


"Datang saja, Kak. Dafa yakin kalau kakak mampu mengatasi masalah apapun.


Karena kak Asna, adalah kakak ku yang paling cantik dan hebat." kata Dafa yang memberinya semangat.


Ternyata ucapan Dafa bisa memacu semangatnya dan akhirnya Asna sudah yakin untuk pergi ke acara ulang tahun Kiara.


Drrrt... drrrt.. drrrt.... ' suara handphone berdering.'


Asna melihat handphone yang berdering dan ternyata Sasa yang menelpon, Sasa adalah pemain keyboard dalam tim musik Asna.


Ternyata Sasa memberitahu agar Agar bersiap-siap untuk pergi menghadiri acara ulang tahun Kiara.


Jumat kemarin Sasa, telah memberi gaun untuk dikenakan Asna saat di acara ulang tahun Kiara nanti.


Asna langsung mengenakan gaun tersebut, dan ketika Dafa melihat penampilan kakaknya.


Pujian manis terlontarkan dari mulut Dafa yang tiada henti-hentinya memuji Asna akan kecantikannya.


Setalah meraih tas kecil miliknya, Asna langsung berangkat ke rumah Kiara untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.


Dengan naik taksi dan hanya butuh dua puluh menit, Asna sudah tiba di perumahan mewah nan elit.


Rumah Kiara yang persis seperti istana, hanya berselang tiga rumah dari gerbang.


Mobil mewah sudah banyak parkir di halaman rumah Kiara yang luas, nampaknya teman-teman satu kelas lainnya sudah pada datang.


Sesampainya di halaman rumah mewah itu, Asna langsung di ajak oleh Sasa untuk masuk ke dalam.


Tapi sangat aneh, Sasa membawa Asna dari arah samping hingga tembus ke suatu kamar yang persis seperti gudang.


"Sasa...! kenapa kita ada disini?" Asna bertanya karena merasa tidak nyaman.


"Maafkan aku Asna," ucap Sasa.


Sasa meninggalkan Asna di gudang itu dan menguncinya dari luar.


barrr..... ' suara pintu yang di buka secara paksa '


Kiara dan gengnya mendatangi Asna di gudang tersebut, wajah mereka terlihat begitu beringas yang ingin menyerang Asna.


"Sudah merasa hebat karena bisa mempermalukan Evano, bangsat kau...!" ucap Kiara yang terlihat emosi.


"Tangkap dia." perintah Kiara kepada anggota gengnya.


"Tunggu Kiara, itu hanya salah paham. jangan seperti ini Kiara." Asna mencoba menjelaskan keadaan tapi anggota geng Kiara yang berjumlah lima orang.


Kelima orang tersebut berusaha menangkap Asna agar bisa di keroyok.


Tapi...


prak....bam... prak.. ' suara tubuh manusia yang terbanting.'


Teriakan kesakitan terdengar di ruangan tersebut, karena Asna membanting anggota geng Kiara.


Tapi gaun yang di kenakan oleh Asna menjadi koyak, lalu Asna meraih gorden dalam ruangan untuk menutupi gaun yang terkoyak.


"Maaf teman-teman a...aku! aku terpaksa melakukannya demi membela diri sendiri." ucap Asna.


Lalu Asna keluar dari gudang yang di ikuti oleh Kiara.


Asna lari mengikuti jalan yang di lalui olehnya tadi dan naasnya, Asna harus bertemu Kiara lagi.


siurrr... ' suara air yang di siramkan.'


Kiara menyiram Asna dengan air, tapi untungnya Asna masih bisa menghindar dan kemudian terus berlari untuk menyelamatkan dirinya.