LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Kekacauan.



Kedua orangtuanya Asna serta adiknya yang bernama Dafa, terlihat syok melihat gaun yang dikenakan Asna sudah koyak.


"Kenapa baju kakak koyak seperti ini?" Dafa bertanya yang terlihat kwatir.


"Ternyata teman kakak yang bernama Sasa di tim musik, menjebak kakak. mereka hampir mengeroyok kakak.


Mereka ngak mengetahui kalau kakak jago bela diri, cuman tadi gaung yang kakak kenakan tersangkut di besi dan koyak.


Makanya kakak memakai gorden ini, kemudian kabur untuk menyelamatkan diri." jelas Asna.


Asna juga menjelaskan kalau dirinya di undang hanya untuk dijebak, geng Kiara ingin mempermalukan Asna dihadapan teman-teman lainnya.


"Ganti pakaian mu, Kak." pinta mamanya.


Asna langsung masuk ke kamarnya, terlihat kedua orangtuanya dan juga Dafa sedang berdiskusi.


Beberapa saat kemudian Asna sudah memakai pakaian rumahan dan menemui keluarganya di meja makan yang sederhana itu.


"Sasa pemain keyboard itu, Kan?" tanya mamanya yang terlihat kurang yakin akan tindakan Sasa.


"Iya, Mak. Asna juga kaget saat Sasa mintak maaf ketika kami sudah di gudang rumah Kiara.


Asna menghadiri acara itu karena Sasa yang ikut mengundang Asna dari tim musik, karena kami akan perform di acaranya Kiara.


Bahkan Sasa yang membeli gaun itu untuk Asna, sehingga membuat ku sangat yakin untuk pergi ke acara itu." jawab Asna dengan tegas.


Lalu Dafa langsung memeluk kakaknya dengan haru.


"Maafkan Dafa, Kak. karena Dafa sudah meyakinkan kakak untuk pergi ke acara ulang itu." kata Dafa yang masih memeluk kakaknya.


"Dafa ngak salah, Kok. kakak hanya sial saja hari ini." Asna berusaha menenangkan adiknya dan juga kedua orangtuanya.


Asna berjanji tidak akan pernah datang ke acara ulang dari undangan anak-anak yang lain.


Karena tidak mau di jebak untuk kedua kalinya, memang ini pertama kalinya Asna menghadiri acara ulang tahun dari temen-temen satu sekolahnya.


"Ternyata sekolah Citra Insani, tidaklah muda. tempat sekolahnya para orang kaya.


Biar bagaimanapun Asna tidak akan pernah bisa mengimbangi mereka, sangat sulit untuk bertahan sampai tamat.


Apalagi setelah si tengil itu masuk kedalam kelas kami, semuanya semakin runyam dan rumit.


Harta kekayaan menjadi pedoman utama buat mereka semua, tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Mah....! Pah...! apakah Asna bisa pindah sekolah?" kata Asna yang akhirnya bertanya kepada kedua orangtuanya.


"Ngak bisa, Kak. karena kita sudah menandatangani perjanjian dengan pihak yayasan.


Tidak bisa pindah sekolah tanpa alasan yang tidak jelas, dan Asna harus menjadi juara. jika turun nilai.


Maka akan di denda, bertahanlah sampai akhir.


Mama yakin pasti anak mama kuat dan mampu menghadapinya, karena Asna adalah gadis yang kuat dan tangguh." jawab mamanya yang kemudian memeluk Asna.


Kemudian Dafa memeluk kakak dan mamanya dan mereka akhirnya berpelukan dengan erat.


"Tamat SD nanti Dafa akan sekolah di negeri saja, mungkin saat ini masih bisa Dafa atasi. bagiamana dengan nantinya jika SMP dan SMA." ucap Dafa yang terdengar seperti ucapan orang dewasa.


Asna dan kedua orangtuanya menyetujui permintaan Dafa, itu semua demi kebaikan Dafa nantinya.


Karena sekolah yang bagus belum tentu mampu menciptakan perilaku yang bagus pula.**


Dari rumah Kiara, tempat berlangsungnya acara ulang tahun yang mewah. terlihat Irvan menunggu kedatangan Asna.


"Asna, kok belum datang, Ya! apa Asna lupa?" tanya Irvan ke timnya.


"Ngak mungkin lupa, Lah. karena Sasa sudah menelpon nya." jawab temanya Irvan.


Irvan langsung menemui Sasa yang duduk disebuah kursi seraya minum.


"Sasa...! kenapa Asna belum datang?" tanya Irvan ke Sasa.


Tapi Sasa hanya terdiam dan hanya berpura-pura meminum minuman yang berwarna oranye tersebut.


Sasa terlihat ketakutan tapi setelah melihat Kiara dan gengnya dengan acak-acakan, barulah Sasa terlihat tenang.


Perubahan ekspresi wajah Sasa, diperhatikan oleh Irvan.


"Jangan bilang kalau mahluk centil itu mengerjai Asna?" tanya Irvan yang mendesak Sasa untuk menjawabnya.


Sasa menangis lalu mengangguk, sepertinya ada tekanan yang diterimanya saat ini tapi sulit untuk dibicarakan.


"Di gudang....!" akhirnya Sasa buka mulut seraya menangis.


Irvan langsung berlari ke arah gudang dan di ikuti oleh Evano yang sedari tadi memperhatikan Irvan yang gelisah.


"Kau apakan Asna?" tanya Evano yang hendak menghajar Irvan.


"Aku ngak tahu bangsat, ini mau di periksa ke gudang." jawab Irvan yang berusaha melepaskan tangan Evano dari kerah bajunya.


Irvan berhasil melepaskan dirinya lalu berlari ke arah gudang dan di ikuti oleh Evano.


"Sobekan gaun Asna...!" ucap Irvan yang ngos-ngosan.


"Kiara...!" Evano dan Irvan dengan kompak menyebut nama Kiara.


Irvan dan Evano langsung berlari ke arah tempat acara dan kemudian langsung menuju ke arah meja.


Karena Kiara berada di sana bersama gengnya.


Plak... ' suara tamparan '


Evano menampar pipi kanan Kiara dengan sekuat tenaganya hingga meninggalkan bekas tamparan di wajah Kiara.


Semua mata tertuju kepada Kiara karena mendengar suara tamparan yang keras tersebut.


"Apa yang kau lakukan pada Asna? jawab bangsat?" Evano bertanya dengan nada suara yang tinggi.


"Kenapa kau selalu membela perempuan kampung itu? aku ini tunangan mu Evano." kata Tiara dan air matanya sudah berlinang.


"Karena aku mencintainya, dan kau perempuan egois dan manja, tidak pernah sekalipun aku pikirkan.


Pertunangan itu ide papa ku, dan itu bukan keinginan ku. jika kau tertarik silahkan nikahi papa ku." ucap Evano dengan tegas.


"Asna tidak apa-apa tapi kami yang babak belur karena preman pasar itu." jawab Amira yang menutupi wajahnya lebamnya.


"Alhamdulillah...!" Evano mengucap syukur.


Hal itu juga menjadi perhatian teman-temannya, karena baru kali Evano mengucapkan perkataan yang agamis.


"Hei, Bro! siapa yang ngajarin tobat? perempuan kampung itu?" ujar seorang teman laki-laki dari antara tamu undangan Kiara.


Evano emosi mendengarnya karena Asna dikatai perempuan kampung dan terjadi perkelahian.


Acara ulang tahun jadi berantakan, makanan dan minuman berjatuhan ke lantai yang membuat kekacauan.


haaaaaaaa....... ' suara teriakan '


Kiara berteriak tapi tidak ada menanggapinya karena perkelahian antara Evano dan laki-laki yang mengatai Asna perempuan kampung.


Perkelahian itu menjadi tontonan karena terlihat sangat seru.


prak....bam..... ' suara yang kuat dari wadah minuman yang di campakkan ke dinding.'


Papanya Kiara melakukannya agar Evano berhenti menyerang temanya dan ternyata usaha itu berhasil.


"Apa-apaan ini? kenapa Evano menghancurkan acara ulang Kiara?" tanya Papa nya Kiara yang terlihat emosi.


"Karena Kiara berbuat zalim pada gadis yang aku cintai." jawab Evano dengan tegas.


Terlihat dari ekspresi wajah papanya Kiara yang kaget mendengar ucapan Evano yang sok agamis.


Karena selama ini Evano tidak pernah berkata sedemikian rupa.