LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Salah Paham.



Pagi hari seperti biasa dan sudah pada sibuk beraktivitas, Asna dan adiknya sudah berangkat ke sekolah.


Akhirnya mereka tiba di sekolah, setalah Dafa pamit kepada kakaknya. lalu Dafa mengiring sepedanya masuk ke sekolahnya.


Nania baru saja tiba di gerbang sekolah, tapi dirinya sudah dicegat oleh Dinda Anastasia.


"Eh, culun. berani-beraninya Loh mendekati Evano! ingat baik-baik, kalau Evano itu sudah ditakdirkan menjadi milikku.


Berani kau mendekati Evano, tamat riyawat hidup mu." Dinda Anastasia mengancamnya.


Sang princess itu sudah pergi setelah mengancam Asna, sementara yang di ancam langsung istigfar agar selalu diberi keselamatan.


Asna melanjutkan langkahnya hingga masuk kedalam kelas dan sudah di tunggu oleh Kiara dan gengnya di depan pintu.


"Sudah berhasil mendekati Evano?" Kiara bertanya dengan nada sinis.


"Tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan tuduhan mu, aku terpaksa mengajarinya." jawab Asna dengan sikap yang tenang.


"Kamu terpaksa? kau dipecat, kamu tidak akan ku tuntut." sanggah Evano yang baru datang.


"Alhamdulillah...!" ungkap Asna yang bersyukur.


Asna tersenyum karena merasa bebas dari satu tekanan dan berharap Evano tidak lagi mengganggunya.


Berhubung mata pelajaran pertama adalah kimia dan guru mata pelajaran kimia membawa anak didiknya ke laboratorium.


Sebelum melakukan praktek, terlebih dahulu ibu guru memberikan arahan dan kemudian mengumpulkan tugas yang sudah diberikannya.


Ibu guru itu terlihat bahagia karena anak-anak didiknya mampu mengerjakan tugas darinya dan terkahir tersenyum ke arah Evano.


"Begini dong, Evano. Ibu senang melihat perubahan mu. lanjutkan ya, Nak." ujar bu guru kimia, yang memberikan semangat kepada Evano.


Kemudian bu guru terlebih dahulu menjelaskan tentang keselamatan diri, karena mereka berada di laboratorium kimia.


"Sekarang ibu akan membagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari empat orang saja.


Asna...! ibu menugaskan mu untuk membimbing Evano, Ramon dan juga Dinda.


Ngak usah komplain, Nak. mereka bertiga ngak bodoh, kok. hanya malas belajar saja." ucap bu guru kimia.


Ibu guru mengatakan demikian agar Asna bersedia satu kelompok dengan ketiga murid spesial di kelasnya.


Bu guru kimia di dampingi oleh dua orang asisten laboratorium kimia.


Praktek kimia berhasil di lakukan oleh para siswa, lalu bu guru berjalan ke arah group Asna yang lebih dulu berhasil mempraktekkannya.


"Benar kata ibu, Kan! mereka bertiga ngak bodoh. di kelas ibu semuanya pintar, hanya beda tingkat kemalasannya." Kata bu guru lalu tertawa.


Para siswa-siswi tertawa karena ucapan ibu guru kimia dan juga tawanya yang menular ke anak didiknya.**


Pelajaran selanjutnya adalah bahasa Inggris, hal tersebut menjadi makanan ringan bagi Asna.


Tanpa terasa semuanya sudah selesai, dan hari Jumat seperti biasa hanya tiga mata pelajaran saja.


Sisanya adalah ekstrakurikuler dan kali ini Asna hanya bermain musik bersama group.**


Selepas sholat magrib Asna, sudah bersiap-siap untuk pergi ke hotel. karena ada anak privatnya yang mengadakan acara ulang.


Asna di undang secara khusus untuk bernyanyi di acara ulang tahun anak privatnya itu.


Sementara Dafa masih berada di masjid untuk belajar mengaji bersama teman-temannya.


"Anak papa cantik benar, mau papa antar?" papa memuji Asna.


"Ngak usah, Pah. karena Asna dijemput supir yang mengundang." ucap Asna.


Asna memakai gaun berwarna pink yang tertutup dan sopan, tapi sangat elegan dan mewah.


Gaun yang dikenakan Asna, adalah pemberian muridnya. karena Asna adalah guru di tempat privat matematika khusus anak-anak.


Kebetulan anak privatnya adalah seorang gadis kecil yang sangat menyukai yang bernuansa pink.


Mobil jemputan sudah tiba di depan rumah Asna, setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya. lalu Asna berangkat.


Sebuah hotel yang mewah dan supir pribadi yang menjemputnya, menuntun Asna untuk masuk ke hotel.


Sesampainya di lobi hotel, Asna disambut oleh ayah anak privatnya.


"Kenapa lama acaranya baru di mulai, Pak?" tanya Asna kepada pria tersebut.


"Jam segini para orang tua bisa mendampingi anak-anaknya setelah beraktivitas seharian, yuk kita langsung saja." kata pria tersebut.


Dari arah sudut lobi hotel, Evano datang menghampiri Asna.


Sorot matanya dan juga senyumannya mengatakan hinaan dan caci maki, Evano menatap Asna dengan tatapan tajam.


"Dasar pelac*r, perempuan munafik." ucap Evano yang dipenuhi kebencian.


"Sebentar...! apa maksud Evano? kamu anaknya bu Hana, kan?" tanya pria tersebut yang mengenal Evano.


"Dasar tua bangka yang tidak tahu diri, anjing kalian berdua." sanggah Evano dan kemudian pergi meninggalkan Asna dan pria itu.


Pria yang bersama Asna, hanya mengelus dadanya seraya menggelengkan kepalanya. terpancar kekecewaan dari raut wajahnya.


"Nanti bapak yang mengurusnya, karena bapak kenal dengan mama Nya." ujar pria tersebut.


Kemudian mengajak Asna naik lift, karena acara ulang tahun putri tercintanya akan segera di mulai.**


Acara ulang tahun sudah selesai, Asna akan diantar pulang oleh supir pribadi.


Asna menunggu jemputan di dropship hotel, dan Evano menemuinya. tatapan pria tengil itu sangat menyeramkan.


"Tampilan dan sikap mu berbeda dengan tingkah laku mu.


Berapa kau di bayar sama si tua bangka itu?" tanya Evano dengan nada tinggi.


plak... ' suara tamparan yang melayang ke pipi Evano.'


Asna dengan berurai air mata menampar Evano dengan sekuat tenaganya, tamparan itu membekas di pipi Evano.


"Kalau kau ngak tahu apa-apa ngak usah sok menghakimi." sanggah Asna lalu menyeka air matanya.


"Dasar perempuan munafik, murahan. dasar pelac*r." Evano berteriak di depan Asna.


Karena Asna tidak menggubrisnya, lalu Evano meraih handphonenya dan menunjukkan foto yang diambilnya.


"Aku menyebarkan foto ini, jika kau tidak mau foto mu tersebar. maka tidurlah dengan ku." kata Evano dengan begitu piciknya.


Lagi-lagi Asna tidak menggubrisnya dan langsung naik ke mobil yang sudah berhenti di depannya.


"Eh, pelac*r...! jangan sok jual mahal kau, berapa pun kau minta akan ku kasih." Evano berteriak tapi mobil terus berlalu.


"Lihat saja Asna, kamu harus hancur karena mengabaikan ku.


Kamu akan menjadi bahan olok-olokan satu sekolah dan kamu harus di keluarkan dari sekolah." Evano bicara sendiri.


Terlihat dia membagikan foto Asna saat di lobi dengan pria yang di panggilnya tua bangka.


"Evano...! nungguin mama, Ya." ucap mama nya yang menghampiri Evano.


Tak... ' suara handphone Evano yang terjatuh.'


Handphone Evano jatuh, karena kaget melihat mama nya yang datang menghampirinya.


Tapi mamanya malah mengambil handphone milik Evano yang terjatuh, kemudian melihat foto yang telah disebar oleh Evano.


"Pak Henky dan Asna!" ucap mama nya.


"Tua bangka itu sudah meniduri Asna, perempuan munafik yang sok suci tapi nyatanya seorang pelac*r." sanggah Evano.


Evano masih terlihat emosi, tapi mama nya malah mengelus dada lalu memeriksa handphone milik anaknya.