
Pagi hari seperti biasa Asna, sudah berada di sekolah dan Irvan langsung menemuinya di kelasnya.
"Asna...!" Irvan memanggilnya dengan nada yang lirih.
Amira adalah anggota geng dari Kiara, langsung emosi melihat Irvan yang sangat dekat dengan Asna.
"Maaf, ya. karena aku dan Evano, telah menjadikan mu sebagai hadiah taruhan." ungkap Evano dengan raut wajahnya yang sedih.
"Maksud mu, Apa?" tanya Asna yang masih kebingungan.
"Aku ngak mau Evano, terus menerus mengganggu mu. lalu Evano menantang ku untuk balapan.
Jika aku kalah, maka aku tidak berkuasa untuk menghadangnya mendekati mu. tapi jika Evano menang, maka aku harus membiarkan mu di dekati oleh Evano.
Aku kalah Asna, maaf kalau aku tidak bisa menjaga mu." ujar Irvan.
"What...! hanya demi perempuan kampung ini, kamu rela masuk penjara?" ucap Amira yang terlihat sangat kesal.
"Bukan urusanmu Amira, urus saja hidup mu. jangan pernah ikut campur akan hidup ku." kata Irvan dengan ketus.
Kemudian Irvan pergi dari ruangan kelas itu, seketika itu juga geng Kiara langsung mengelilingi Asna.
"Dasar perempuan murahan, bisa-bisanya kamu jadi hadiah taruhan. sudah merasa hebat kamu sekarang!" ucap Amira dengan emosinya yang meluap-luap.
"Selamat pagi, anak-anak." Bu guru kimia menyapa mereka.
"Selamat pagi bu." sahut para siswa-siswi.
Tapi Kiara dan gengnya masih mengelilingi Asna.
"Apa-apaan itu? duduk...!" perintah bu guru.
"Maaf, Ya Bu. tadi teman-teman hanya bertanya tugas matematika kemarin, ada yang tidak dimengerti." jawab Asna yang berbohong.
Terlihat bu guru kimia menganggukkan kepalanya setelah mendapatkan penjelasan dari Asna.
"Gitu, toh. baiklah anak-anak, tutup dulu buku matematikanya karena kita akan belajar kimia.
Akhirnya pelajaran kimia akan di mulai, terlebih dahulu absensi kehadiran siswa-siswi dan hanya Evano yang belum masuk.
Walaupun melelahkan dan jenuh, tapi pada akhirnya pelajaran kimia akan segera usia.
"Baiklah anak-anak, belajar teori cukup sampai disini. hari jumat depan kita akan mempraktekkannya di laboratorium." kata bu yang hendak mengakhiri kelasnya.
Tentunya meninggal pekerjaan rumah, sebagai bekal untuk praktek hari jumat mendatang.
"Asna, ibu. dengar kamu akhirnya bersedia mengajari Evano. hanya anak itu yang sama sekali tidak mengerti apa-apa di kelas ibu.
Tolong ajarin Evano, Ya. sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah yang ibu beri." ucap bu guru kimia.
Asna mengiyakannya dan terlihat ketidaksenangan dari raut wajahnya Kiara saat bu guru membahasnya.
Bu guru kimia sudah keluar dari ruangan, dan ketika Kiara dan gengnya bergerak ingin melabrak Asna.
Tapi hal itu tidak terjadi, karena ketua OSIS ' organisasi siswa ' dan rekannya mendatangi kelas mereka.
Namanya Yudi, kakak kelas tiga yang merupakan siswa tampan yang sangat populer.
"Hari ini adalah hari Senin, dan hari Rabu kita harus merayakan hari guru. beberapa dari kelas ini sudah menyatakan akan berpartisipasi." kata sang ketua OSIS.
"Asna...! bagaimana persiapan kalian? apakah sudah siap tampil Rabu depan?" tanya sang ketua OSIS.
"Insyaallah siap, Kak. masih ada waktu untuk latihan untuk mematangkan persiapan kami." jawab Asna dengan tegas.
"Good...! Asna, memang murid teladan." sanggah sang ketua OSIS.
Demikian juga dengan tim Kiara sebagai cheerleaders, sebagai pembuka di sela-sela acara hiburan nantinya.
Demi performa yang luar biasa nantinya, setelah ketua OSIS menyampaikan informasi tersebut, kemudian keluar dari kelas yang di iringi oleh rekannya.
"Asna...!" Kiara memanggil Asna, lalu menyerahkan undangan.
"Malam minggu adalah perayaan ulang tahun ku yang ke tujuh belas tahun, kamu harus datang.
Ngak perlu bawa kado, hanya meminta kamu nyanyi nantinya." ujar Kiara dengan nada yang ketus.
Asna membaca undangan tersebut, tapi dirinya sangat kaget karena tempat ulang tahun Kiara disebuah klab malam.
"Maaf Kiara, aku tidak bisa datang," kata Asna dengan nada suara yang pelan.
"Kenapa?" tanya Kiara yang terlihat sinis.
"Ajaran agama yang aku anut, mengharamkan untuk pergi ke tempat seperti itu."
"Norak, bilang saja ngak bersedia untuk datang." sanggah Amira yang terlihat sangat emosi.
"Okey...! akan ku ganti tempatnya, nanti ku buat di rumah.
Kalau perayaannya di rumah ku, kau bersedia datang?" tanya Kiara.
"Insyallah, Kiara. tapi aku mau bertanya satu hal. kenapa tiba-tiba mengundangku seperti ini?" ucap Asna dengan nada yang pelan.
"Tahun lalu saat ulang tahun ku, kamu masih kelas satu Asna. aku hanya mengundang teman-teman satu kelas saja." jawab Kiara dengan penekanan nada.
Lalu Kiara juga mengundang teman-teman satu kelasnya yang lain.
Salah teman sekelasnya membernarkan ucapan Kiara, saat ulang tahun waktu itu hanya mengundang teman-teman satu kelas saja.
"Kiara...! tahun kemarin sudah di rumah mu, sudah tepat kalau memilih di klub." ucap seorang siswa dari bangku belakang.
"Betul Kiara, jangan hanya karena aku. Kiara harus mengganti tempatnya.
Ngak masalah bagiku, jika tidak ikut nantinya. teman-teman yang sangat menyukai tempatnya." ujar Asna dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Kiara.
Kemudian Kiara berdiri dan menghadap ke arah teman-temannya.
"Terserah aku dong mau buat dimana, jika kalian tidak mau hadir. ngak apa-apa, Kiara ngak maksa kok." kata Kiara dengan lantang.
Kiara tetap kekeh akan melaksanakan ulang tahunnya yang ketujuh belas tahun di rumahnya.
Kemudian Kiara berkata kepada Asna, rela mengganti tempatnya agar Asna bisa hadir di ulang tahunnya.
Kiara berharap nantinya Asna, akan menyanyi di acara ulang tahunnya tersebut. Kiara juga menyampaikan sudah mengundang dan memastikan kehadiran group band Asna nantinya.
Berhubung pelajaran selanjutnya akan dimulai, maka mereka langsung duduk di bangkunya masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak." sapa seorang guru laki-laki yang membawa seorang siswi yang sangat modis dan cantik.
Pak guru itu juga yang membawa Evano waktu itu dan kali ini membawa siswi yang baru.
"Hadehhh...! pelac*r masuk sekolah lagi." kata Kiara yang terlihat sewot.
"Kiara...! jaga sopan santun mu ya, Nak. bapak ngak suka mendengar kalimat norak seperti itu.
Tunjukkan kalau Nak, Kiara. adalah gadis yang bermartabat yang menjaga lisannya dengan baik." nasihat pak guru tersebut.
Namanya Dinda Anastasia, musuh bebuyutan Kiara dan juga Amira. Dulunya satu kelas dengan mereka tapi karena Evano sempat pindah ke sekolah ke luar negeri.
Dinda Anastasia, mengikuti jejak Evano ke luar negeri.
Kini Dinda Anastasia kembali lagi, sifatnya jauh lebih bar-bar dari Kiara.
Dinda Anastasia merupakan anak konglomerat yang berimbang dengan Kiara, dan sudah menjadi bebuyutan dengan Kiara serta Amira.