
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Dafa. membuka helm pengendara motor yang menabrak dinding dapur mereka.
"Si kaya yang songon!" ucap Dafa.
"Evano...!" ungkap Asna.
Asna mendekati Evano, untuk memastikan orang tersebut. karena adiknya berkata si kaya yang songon.
Tapi Evano, seperti tidak perduli. dirinya hanya menarik motornya ke dalam dapur dan setelah motor besarnya masuk dan kemudian mengunci pintu dapur tersebut.
Papanya Asna, mengutip batang besi yang di pegang anaknya. akan tetapi Dafa mengambil kain pel dari kamar mandi dapur.
Terlihat Dafa dan kakaknya mengedipkan mata lalu...
"Serang...!" ucap Dafa.
prank...prak...prank...prak.... ' suara gagang pel dan juga baskom yang terbuat dari kaleng.'
Asna dan adiknya memukuli Evano, hingga berkali-kali dan pada akhirnya mereka berhenti memukulnya setelah di amankan oleh papa mereka.
"Kalau ngak bisa di pukuli, usir saja pah," kata Dafa.
Dafa yang terlihat sangat emosi dan masih bersiap-siap untuk melakukan serangan pukulan kepada Evano.
Evano duduk bersimpuh dan kemudian mengepalkan tangannya.
"Om, Tante. tolong jangan usir Evano," pinta Evano seraya memohon.
"Kenapa papa dan mama ku, harus membiarkan mu di rumah ini?" tanya Dafa dengan penuh kecurigaan.
"Karena di luar sana, polisi pemburu preman mengejar ku. tolong selamatkan Evano."
Lalu mamanya Asna, meminta keluarganya untuk berdiskusi. layaknya seorang wasit yang memberikan arahan kepada tim nya.
"Orangtuanya anak itu, pemilik tempat sekolah Asna dan adiknya. apakah akan berdampak kalau kita tidak bisa menolong malam ini?" tanya bu Jainab kepada anggota keluarganya.
"Kasihan, lihatnya. kalau dia masuk penjara, lantas bagaimana dia sekolah nantinya! sudahlah, kita tolong saja." ucap papanya Asna.
Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya keluarga Asna menerima Evano untuk berlindung sementara waktu.
"Eh, orang kaya songon. kamu disini sampai polisi itu pergi ya." ujar Dafa.
Evano hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian tersenyum menatap kedua orangtuanya Asna.
"Bu, apakah masih ada makanan? Evano, lapar," ucap Evano seraya mengelus perutnya.
"Ada!" jawab mamanya Asna dan kemudian langsung memeriksa lemari makanan.
Sementara papanya Asna, membantu Evano berdiri dan membawanya ke ruang tamu sekaligus tempat makan mereka.
Sementara Asna dan kakaknya tetap mengawasi Evano, hal itu membuat Evano sedikit grogi.
"Kenapa sampai di kejar polisi?" tanya papanya Asna.
"Karena balapan, Papa." jawab Dafa.
Dafa dan kakaknya duduk satu kursi demi memantau Evano.
Evano mengganguk untuk merespon jawaban dari Dafa, dan kemudian tersenyum karena merasa tidak enakan.
Beberapa saat kemudian bu Jainab, yaitu mamanya Asna dan Dafa. sudah datang dengan membawa makanan berupa ikan sambal dan orek tempe serta sayur bening.
"Rajin benar ya, mah. sampai masak sayur seperti itu." sindir Dafa.
Tapi mamanya hanya tersenyum menanggapi sindiran tersebut. tapi sepertinya Evano, tidak menyukai sajian makanan yang ada didepannya.
"Kenapa! ngak suka melihat masakannya? sana pergi cari makanan yang enak." kata Dafa dengan sinis nya.
Evano menggelengkan kepalanya dan kemudian menaruh lauk dan juga sayuran ke piringnya yang sudah berisi nasi hangat.
Satu suapan pertama dan terlihat Evano, masih mencoba untuk mengunyahnya tapi sepertinya dia sangat menikmatinya.
Evano makan dengan begitu lahapnya, dan hal itu menjadi bahan perhatian Asna dan adiknya.
"Berapa ngak makan?" sindir Dafa lagi.
Evano sempat tersenyum kepada Dafa, lalu lanjut makan hingga menambah nasinya untuk kedua kalinya.
"Sudah kentang, kan! sekarang pulang dan bawa motor mu itu." ucap Dafa lagi.
Tapi sekilas Evano, mencoba mendengarkan suara-suara dari arah luar dan sepertinya polisi pemburu preman itu masih berpatroli.
"Tolong biarkan Evano, menginap malam ini disini ya! karena polisi itu masih patroli." pinta Evano.
Sebenarnya Asna dan Dafa menolaknya tapi tidak dengan kedua orangtuanya.
"Kak, Asna dan Dafa. sudah sangat larut malam. kasihan nak Evano, jika harus pulang. takutnya bahaya di luar sana." ucap papa mereka.
Demikian juga mamanya Asna, yang ikut membujuk Asna dan adiknya dan alhasil mengijinkan Evano, menginap di rumah mereka.
"Dafa...! berhubung di rumah kita ini, hanya ada tiga kamar, jadi kak Evano. tidur di kamar mu ya." pinta papa nya.
Dafa hanya mengangguk dan wajahnya terlihat murung, karena masih kesal melihat Evano.
"Besok kalian sekolah, jadi harus istrihat." kata papa nya.
"Apaan sih, pegang-pegang?" kata Dafa yang masih terlihat kesal.
Evano hanya tersenyum karena tangannya di tepis oleh Dafa dan kemudian mengikuti Dafa masuk ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Dafa, sejenak Evano memperhatikan kamar yang ditempati oleh Dafa.
Kasur yang sederhana dan kipas angin yang sudah usang, semua itu rakitan papanya.
"Kamarmu ngak punya AC ya?" tanya Evano yang terlihat sinis.
"Biji mata AC, ngak kau lihat atapnya terbuka. kalau ngak suka. sana pergi, lagipula kau hanya penumpang." ucap Dafa yang tidak kalah sinis.
Ketika Evano hendak ke ranjang Dafa, akan tetapi Dafa mengusirnya dan hanya memperbolehkan Evano tidur di lantai.
"Kok, di lantai?" ucap Evano.
"Tuh, ada tikar. lantai semen itu sebagai AC untuk mu." kata Dafa, seraya menunjukkan tikar yang usang.
Lalu Evano, meraih tikar tersebut lalu membentangkannya di lantai, dan kemudian Dava. melemparkan sarung kepada Evano.
Dafa membalikkan tubuhnya dan membelakangi Evano yang rebahan di lantai, hal itu dilakukannya karena masih kesal.
Mungkin karena merasa panas, lalu Evano membuka pakaiannya dan hanya mengenakan celana pendek.
Lalu menarik sarung yang diberikan Dafa, kepadanya, terlihat Evano mencium sarung tersebut dan tersenyum.
"Eh, bocil. punya handphone ngak?" tanya Evano setelah rebahan.
"Ngak, hanya kak. Asna yang punya handphone." jawab Dafa.
Tapi Dafa, masih membelakangi Evano. dan jawabannya singkat.
"Bocil...! kamar mandi sebelah mana?" tanya Evano lagi.
Kali ini Dafa, membalikkan tubuhnya. karena pertanyaan dari Evano yang menyinggung soal kamar mandi.
"Ngapain buka baju? pake baju mu." ucap Dafa.
"Panas bocil, biasa aja dong." kata Evano.
Dafa hanya mengelus dadanya tapi tatapannya begitu tajam ke arah Evano yang hanya mengenakan celana pendek.
"Temani dong ke kamar mandi." pinta Evano.
Evano tersenyum karena Dafa, bersedia menemaninya ke kamar mandi.
Dirumah sederhana itu, hanya ada satu kamar mandi yang terletak di dapur. sesampainya di dapur dan mereka berdua sama-sama masuk ke kamar mandi.
Evano berdiri di dekat kloset sementara Dafa berdiri di dekat pembuangan air ke selokan.
"Gila, Ya. ngapain ngintip punyaku." ucap Evano.
Dafa hanya tersenyum menanggapi ocehan tersebut, karena Dafa mengintip punya Evano setelah dia selesai buang air kecil.
"Belum sunat ya?" tanya Dafa, sebenarnya menyindir.
Selesai buang air kecil, mereka berdua masuk ke kamar lagi dan kemudian rebahan. sepertinya Dafa masih penasaran, apakah Evano sudah sunat atau belum.