LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Bu Hana Bertindak.



Mamanya Evano sudah selesai menerima telepon, lalu mendekati anaknya yang berbaring lemah di ranjang.


Lalu mamanya Evano menunjukkan video rekaman sisi tv ke anaknya.


"Siapa anak itu? kenapa kau menggangunya?" tanya mamanya Evano dengan raut wajahnya yang penasaran.


"Namanya, Dafa. lalu yang di sebelahnya kakaknya bernama Asna. Karena Evano menyukai kakaknya, dan adiknya itu memukulku dengan stik kayu." Jawab Evano dengan suara yang pelan.


"Hebat juga adiknya, sampai bisa membuat ketua geng motor babak belur seperti ini. tapi nama Asna, seperti familiar." ujar mamanya Evano seraya menatap Ramon.


"Kami satu kelas, Tante! Asna, anak yang paling cerdas di sekolah. sering memenangkan lomba akademik." sanggah Ramon yang akhirnya angkat bicara karena mama nya Evano melotot ke arahnya.


Bukannya marah tapi mamanya Evano, malah tersenyum dan kemudian berjalan ke arah anaknya.


"Uhmm....! Mama, ada ide. Mama sudah terlalu sering mendengar keluhan para guru mengenai kamu Evano.


Nilai mu yang sekarat dan tingkah mu yang seperti preman, mungkin Asna. bisa membantu mu keluar dari permasalahan ini." ujar mama nya Evano.


Terlihat Ramon, mendekati Evano. dimana mama dari sahabatnya terlihat tersenyum bahagia.


"Tapi, Tante. Asna itu, sangat membenci Evano. ditambah lagi Kiara yang mengancamnya agar menjauhi Evano.


Terang-terangan Asna, menolak saran para guru untuk mengajari Evano." sanggah Ramon dengan raut wajahnya yang penasaran.


"Itu urusan tante, Ramon." kata mamanya Evano dengan penuh percaya diri.


"Tante memang luar biasa, Ramon bisa ikutan nantinya, Kan?"


Pertanyaan Ramon, tidak dijawab mamanya Evano. tapi mamaknya Evano memberikan kode kepada Ramon, untuk mintak ijin kepada Evano nantinya.


"Evano...! mama juga setuju jika kelak kamu berjodoh dengan si cantik itu." kata mamanya dan kemudian tersenyum.


"Kiara, gimana. Mah!" Evano bertanya dengan penuh keraguan.


"Kan, papa mu yang menjodohkan kalian. bukannya papa mu sudah mati di hati mu? kalau ngak, suruh saja papa mu yang menikahi Kiara." jawab mamanya


hahahaha... hahahaha... hahahaha...


Mamanya Evano dan juga Ramon, tertawa. tapi Evano hanya tersenyum.


"Mama, hanya ingin yang terbaik untukmu Evano. maafkan mama ya, mama mintak maaf karena terlalu sibuk." ujar mamanya dan kemudian memeluk Evano.


Lepas berpelukan dengan Evano, lalu mamanya Evano menatap Ramon yang duduk disampingnya.


"Terimakasih, Ya. Ramon. terimakasih karena menolong anak tante."


"Sama-sama tante." sanggah Ramon atas ucapan mamanya Evano.


"Jika memang Evano kurang ajar, kamu jauhi saja. jangan takut kalau papa mu, akan bergeser kedudukannya di rumah sakit ini.


Papa mu itu, bisa menjadi direktur di rumah sakit ini. memang karena keahlian dan kemampuan." Ucap mamanya Evano.


"Ramon bukan siswa teladan seperti Asna, kata guru kami, Ramon dan anak Tante ngak beda jauh sikap dan nilai akademiknya." ujar Ramon dengan matanya yang berkaca-kaca.


Lalu papannya Ramon, langsung menarik Ramon yang duduk di samping mamanya Evano.


"Maafkan papa, karena kurang perduli sama mu, maafkan papa." ucapnya lalu memeluk anaknya.


"Salah Ramon juga kok, tinggal belajar saja tanpa memikirkan biaya apapun. tidak seperti Asna, sepulang sekolah harus mengajar privat matematika agar bisa membeli sesuatu yang di butuhkannya." sanggah Ramon yang kemudian memeluk papanya dengan erat.


Sesaat keharuan yang terjadi di ruang itu, lalu Ramon meminta papanya dan juga mama nya sahabatnya untuk pulang istrihat.


Pagi hari disekolah dan jam pelajaran telah di mulai, saat guru kelas melakukan absensi murid-muridnya dan hanya Evano yang tidak hadir.


Lalu Ramon memberikan surat keterangan saksi dari rumah sakit kepada bapak guru yang akan mengajar.


Setelah mendapatkan kabar melalui surat keterangan sakit dari Evano, lalu pelajaran dimulai.


Terlihat Asna seperti memikirkan sesuatu, gadis cantik nan cerdas itu terlihat risau.


Guru yang mengajar memperhatikan murid kesayangannya itu, tapi belum sempat menegurnya, pintu diketuk seseorang.


Bu guru bimbingan konseling mendatangi ruangan kelas mereka, lalu meminta Asna dan juga Ramon untuk menghadap ke ruangan bimbingan konseling.


Hanya Asna yang terlihat kebingungan, karena baru kali ini Asna, dipanggil oleh guru pembimbing konseling.


Berbeda dengan Ramon yang terlihat santai, bahkan masih sempat-sempatnya melambaikan tangan kepada teman-teman saat hendak keluar dari kelas.


"Kenapa, Ya. Asna di panggil ke ruang bimbingan konseling?" tanya Asna kepada Ramon.


"Mungkin Lo, banyak dosa kali," jawab Ramon kekeh.


Karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti, Asna hanya terdiam selama menuju ruang bimbingan konseling.


Betapa terkejutnya Asna, ketika tiba di ruang bimbingan konseling. karena disana sudah ada mamanya yang duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang berpakaian mewah nan rapi.


"Silahkan duduk, Sayang." pinta bu guru pembimbing konseling.


Asna duduk di samping mamanya, dari raut wajahnya Asna, terlihat kecemasan yang luar biasa.


"Nama saya, Hana. mama nya Evano." ucap perempuan yang berpakaian mewah nan rapi itu.


Lalu bu Hana, memberikan rekam medis Evano kepada Asna. lalu bu Hana, menjelaskan keadaan Evano kepada Asna.


"Adik mu yang memukul Evano, jadi dia harus bertanggungjawab atas perbuatannya." ucap bu Hana dengan tegas.


"Bukan salah adikku, tapi Asna yang menyuruhnya. karena Evano selalu mengganggu Asna." sanggah Asna tapi nada suara nya bergetar.


"Salah mu sendiri, siapa suruh jadi cewek cantik dan cerdas." ucap bu Hana dan kemudian tersenyum.


"Santai saja Asna, ngak perlu sampai gemetar gitu dong." kata bu Hana dan kemudian meneguk teh yang tersaji untuknya.


"Mohon maaf, apakah ibu mau menuntut Asna?" Asna bertanya dengan nada suara pelan dan bergetar.


"Jelas dong, ibu ingin Asna untuk mengajari Evano, setidaknya bisa lulus SMA. ibu juga ngak bisa mengharap kalau Evano akan menjadi juara kelas seperti kamu Asna.


Tapi tolong ajarin Evano, agar bisa lulus SMA. ibu mintak tolong, Ya." pinta bu Hana dengan harap.


"Tapi kenapa ibu ngak memanggil guru yang jauh lebih hebat dari Asna?" tanya Asna dengan pelan.


"Sudah sering, tapi di usir. bapak ibu guru disini yang menyarankan nak Asna, untuk mengajari Evano. Tolong ajarin anak ibu, Ya. tolong ya nak." pinta bu Hana.


Asna masih terlihat bingung, lalu berdiskusi dengan mama nya.


"Ibu tahu, Kok. kalau Asna, mengajar privat matematika untuk anak-anak. nanti ibu bayar lima kali lipat deh." ucap bu Hana, yang sangat-sangat berharap kalau Asna bersedia mengajari Evano.


"Bagaimana dengan Kiara?" tanya Asna lagi.


"Itu urusan ibu, jika perempuan itu mengganggu mu. segera laporkan sama ibu." sanggah bu Hana.


Lalu bu Hana memberikan nomor handphone pribadinya kepada Asna, kemudian membujuk Asna agar bersedia mengajari Evano.