LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Evano Babak Belur.



Kiara berkata kalau Evano, membenci cewek yang masuk clubbing atau kelab malam. berdasarkan survei yang pernah diadakan oleh Amira, salah satu teman Kiara.


Siswi di sekolah tersebut, hanya Asna yang tidak pernah ke kelab malam. jadi itulah yang membuat Evano tergila-gila pada Asna.


Cewek cerdas, berhati lembut dan jauh dari kehidupan binar gemerlap hiburan dunia malam tersebut.


"Nggak, Asna ngak mau," ucap Asna yang menolak langsung ide dari Kiara.


Jelas dong Asna menolaknya, karena cewek sederhana sepertinya tidak pantas untuk ke kelab malam.


Jika hal itu terjadi, pastilah kedua orangtuanya akan marah besar dan bisa-bisa Asna di usir dari rumahnya.


Terlebih-lebih adiknya yang bernama Dafa, pasti akan membencinya seumur hidupnya karena Dafa, mengenal kakaknya sebagai perempuan baik-baik dan berhati lembut.


"Asna, tidak pernah menerima cinta cowok manapun dari sekolah ini. karena aku sadar akan keadaan ku.


Aku mohon, tolong biarkan Asna. menyelesaikan pendidikan disini, aku mohon Kiara." ungkap Asna yang memohon sambil mengepalkan tangannya.


Kiara sudah kehabisan kata-kata dan akhirnya mengajak gengnya keluar dari toilet tersebut dan meninggalkan Asna yang terdiam disana.


Asna keluar dari toilet dengan begitu lemas, lalu berjalan menuju pintu masuk gedung sekolah yang mewah itu.


Asna terus berjalan melangkah kakinya hingga melewati gerbang sekolah.


"Kak, Asna!" sapa Dafa.


Asna hanya tersenyum menanggapi sapaan dari adiknya.


"Hari ini, kakak ngajar?" tanya Dafa.


Tapi Asna hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Makan ice cream yuk, karena hari ini. Dafa berhasil menjual enam mainan." kata Dafa dengan semangatnya.


Asna mengangguk dan mereka berjalan bersama karena Dafa mengiring sepedanya.


Berjalan beberapa menit, sebuah toko yang menjual ice cream dan Dafa langsung membeli beberapa ice cream dengan rasa yang berbeda-beda.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju sebuah taman kecil dan duduk di bangku panjang seraya makan ice cream.


"Kakak kenapa sedih?" tanya Dafa dengan pelan lalu menikmati ice cream rasa coklat.


"Pria tengil itu, mencampakkan pakainya ke kakak. pakaian yang dipinjamkan papa untuknya." ungkap Asna memulai obrolan.


"Hadehhh...! ujar Dafa dan kemudian menghela napasnya.


"Si tengil itu, suka gangguin kakaknya. kira-kira jika kakak menghajarnya, apakah kakak seperti cewek kurang ajar?" ucap Asna.


Lalu Dafa memegang tangan kanan kakaknya, seraya menatap wajah kakaknya.


"Ngak, Kak. karena itu termasuk membela diri sendiri. begitu juga yang Dafa lakukan disekolah jika ada yang mengganggu ku." ungkap Dafa untuk meyakinkan kakaknya.


Asna tersenyum melihat adiknya yang belepotan karena makan ice cream, lalu membersihkannya dengan menggunakan tissue yang di ambilnya dari dalam tas.


"Di sekolah apakah ada yang mengganggu Dafa?" tanya Asna kepada adiknya.


"Ngak, siapa yang berani mengganggu ketua OSIS dan pria terkuat! berani senggol langsung Dafa hajar." jawab Dafa dengan terkekeh.


Asna dan adiknya tertawa karena jawaban dari Dafa dan juga ice cream Asna di rebut anjing jalanan.


"Dafa...Dafa...! seseorang memanggil Dafa dari arah belakang mereka.


Ketika menoleh sumber suara itu, Asna langsung berdiri dan raut wajahnya yang begitu kesal. karena yang memanggil adiknya adalah Evano.


"Ngapain lagi laki-laki tengil itu?" tanya Asna yang berbisik ke telinga Dafa.


"Ngak tau, Kak!" jawab Dafa singkat.


Evano tersenyum ketika sudah berada didekat mereka berdua yang tidak menginginkan kehadiran Evano.


"Ngapain memanggilku?" tanya Dafa dengan cetus.


Dafa tersenyum sinis, karena jawaban Evano dan sepertinya tidak mengingat janji yang dimaksud oleh Evano.


"Dafa, pulang yuk!" Asna mengajak adiknya pulang.


Tanpa kata-kata Dafa dan kakaknya meninggalkan Evano di taman kecil itu dengan kebingungannya.


Tapi Evano mengikuti mereka dan hal itu membuat Asna dan adiknya terlihat emosi karena diikuti oleh Evano.


"Mau ngapain? kalau mau ngaji, cari saja ustad yang bisa mengajari mu ngaji dan sholat.


Dasar orang kaya belagu, ngakunya kaya raya tapi tidak mampu membayar ustad untuk belajar ngaji dan sholat, dasar payah." kata Dafa yang mengejek Evano.


Terlihat Evano kebingungan dan meraih tangan Dafa yang hendak mau melanjutkan langkah kakinya.


"Aku nyariin Dafa, Kan kamu yang janji untuk membawa ku ke masjid untuk belajar ngaji, dah lupa dengan janji mu?" ungkap Evano yang mencoba mengingatkan janji Dafa.


"Maaf, aku sudah tidak mau berurusan dengan mu lagi. karena kau sumber malapetaka." kata Dafa yang terlihat mulai emosi.


Asna sangat kaget mendengar ucapan adiknya yang sudah seperti ucapan orang dewasa.


"Dafa...!" ujar Evano seraya meraih tangan Dafa lalu...


Plak... crak... siuh...siuh.... ' suara nunchaku yang di pukulkan kepada Evano.


ahhhhhh.... aaaaaahhhh... ' suara Evano yang menjerit kesakitan.'


Evano, kesakitan karena di pukul menggunakan nunchaku yang di ambil Dafa dari dalam tasnya.


Nunchaku adalah senjata bela diri yang dipopulerkan Bruce Lee berbentuk dua kayu yang disambungkan dengan rantai besi.


Dafa berulang kali memukul Evano menggunakan nunchaku atau stik kayu itu dengan bergaya seperti Bruce Lee, aktor film laga China.


Sampai akhirnya Evano terjatuh dan barulah Dafa berhenti memukulinya dengan stik kayu tersebut.


"Sekali lagi kau, menggangu kakak ku. habis kau." ucap Dafa dengan begitu serius.


Lalu mengajak kakaknya pergi dari taman tersebut seraya mengiring sepedanya.


"Kakak ngak perlu bingung Kan, Dafa bilang. kalau Dafa bos preman di daerah kita." kata Dafa terkekeh.


Ucapan itu disambut tawa oleh Asna, dan kemudian menikmati ice cream yang diberikan oleh Dafa.


"Jika ada yang menggangu kakak, segara lapor sama Dafa ya." ujar Dafa di sela-sela makan ice cream.


"Siap." jawab kakaknya.


hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' mereka berdua tertawa sambil melanjutkan perjalanannya.


Sementara Evano, berusaha bangkit karena terjatuh setelah di pukul oleh Dafa menggunakan nunchaku.


"Kurang ajar itu bocil, dia yang berjanji tapi dia pula yang mengingkari janjinya."


Evano mengerutu dan mencoba untuk duduk di kursi panjang itu.


"Da...dari mana!" tanya Ramon yang berhenti bertanya karena melihat wajah Evano yang lebam.


"Siapa yang memukul mu?" tanya Ramon yang kaget melihat keadaan Evano.


"Bocil kurang ajar, tolong bantu." pinta Evano.


Lalu Ramon membantu Evano untuk berdiri dan kemudian menaikkan ketua gengnya itu ke atas motornya.


Ternyata Ramon membawa sahabatnya itu ke sebuah klinik yang tidak jauh dari arah taman tersebut.


Klinik yang masuk ke arah gang tapi tidak terlalu jauh, kemudian membantu Evano turun dari motornya.


Kemudian menuntun Evano ke dalam klinik tersebut dan begitu sampai di dalam klinik, perawat langsung membantu Evano rebahan di ranjang medis tersebut.


Perawat langsung menyiapkan peralatan medisnya dan kemudian membuka kancing seragam yang dikenakan oleh Evano.