
Amira langsung meraih handphone dan terlihat sibuk menghubungi orang lain, sementara teman-temannya sedang menunggu informasi dari Amira.
Beda hal dengan Asna, dirinya tidak mempedulikan apa terjadi saat ini dan tetap fokus membaca buku pelajaran miliknya.
"Irvan, sudah bebas. baru saja di jemput kedua orangtuanya ke kantor polisi." ucap Amira, setelah selesai menelpon.
Setelah merasa tenang, Kiara dan gengnya kembali mendekati Asna.
"Kenapa pakaian bokap Lo, ada sama Evano?" tanya Kiara, yang masih sangat penasaran.
Lantas Evano yang mendengar namanya disebut, dan langsung menghampiri Kiara dan gengnya yang hendak mengintrogasi Asna.
"Kemarin malam, kami balapan seperti biasa karena si tantang oleh Irvan. tiba-tiba saja ada polisi pemburu preman yang mengejar kami.
Aku melarikan diri memasuki gang demi gang untuk menghindari kejaran polisi itu dan akhirnya aku, menabrak dinding dapur keluarga Asna.
Karena polisi pemburu preman, masih berkeliaran disekitar perumahan kumuh itu. akhirnya aku mintak tolong agar di ijinkan bersembunyi di rumah Asna.
Tapi polisi memburu preman itu tidak kunjung pulang dan aku, memutuskan untuk menginap di rumah Asna." jelas Evano.
Kemudian menjelaskan perkara pakaian yang di lemparkannya kepada Asna, dengan terpaksa Evano memakainya karena pakaiannya basah.
Basah karena menabrak drum penampung air hujan yang berada di dekat pintu dapur Asna malam itu.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Evano, sehingga Kiara dan gengnya kembali duduk di tempat duduknya.
Tanpa terasa akhirnya seluruh pelajar hari ini sudah berakhir dan saatnya ekstrakurikuler yang wajib di ikuti oleh para siswa minimal satu.
Nania langsung pergi ke ruangan ekstrakurikuler sains, dan tanpa disadarinya Evano mengikutinya dari belakang.
"Sini nomor handphone mu." ucap Evano dengan cetus.
Asna terkejut karena tiba-tiba didatangi oleh pria tengil itu dan hanya bisa terdiam.
"Ngak tuli, Kan!" kata Evano.
"Handphone ku, sudah aku buang." sanggah Asna lalu berjalan cepat meninggalkan Evano.
Akhirnya Asna berhasil menghindari Evano, dan pria tengil itu terlihat kesal karena tidak berhasil mendapatkan nomor handphone Asna.
Evano memilih duduk di salah kursi yang ada di pojok lorong tersebut lalu meraih handphonenya yang sudah full power.
Terlihat Evano menscrol layar handphone dan bolak balik menggaruk kepalanya.
"Gila benar, Ya! jaman canggih seperti tapi Asna tidak punya akun media sosial. norak benar." ucap Evano yang bicara sendiri.
Karena merasa kecewa dan Evano pergi dari lorong menuju ruangan ekstrakurikuler sains seraya menggaruk kepalanya.**
Dua jam telah berlalu dan akhirnya Asna selesai mengikuti ekstrakurikuler sains dan hendak pulang ke rumahnya.
Terlebih dahulu Asna mengintip dari ruangan sains dan ketika merasa aman, lalu buru-buru keluar.
"Apaan ini?" tanya Asna yang terlihat ketakutan.
Teman-temannya Kiara, membawa paksa Asna ke arah toilet dan sesampainya di toilet terlihat Kiara sudah menunggunya di sana.
"Eh, cewek kampung. Lo ngapain sih mendekati Evano? Lo ngak ngerti bahasa manusia?" ucap Tiara yang terlihat sangat emosi.
"Sepertinya kamu tembus, bawa pembalut?" Asna bertanya kepada Kiara.
Rok sekolah bagian belakangnya terlihat merah, yang disebabkan Kiara yang sedang menstruasi.
Ternyata Kiara tidak membawa pembalut, karena ini hari pertamanya menstruasi di bulan ini.
Akan tetapi tidak satupun teman-temannya membawa pembalut dan akhirnya Asna merogoh tasnya dan memberikan persediaan pembalutnya untuk Kiara.
"Sudah di cuci bersih kok, rencananya mau Asna taru di loker untuk di pakai besok." kata Asna.
Asna berkata demikian karena Kiara, terlihat jijik saat memegang celana olahraga yang diberikan kepadanya.
"Pakai saja Kiara, daripada malu diketawain anak-anak lain karena rok mu merah seperti itu." ungkap Asna.
Akhirnya Kiara membawa celana olahraga itu ke dalam bilik toilet, dan beberapa saat kemudian Kiara, sudah keluar dari bilik tersebut dengan memakai celana olahraga dari Asna.
"Lo, lagi haid juga?" tanya Kiara dengan pelan.
"Sudah selesai tadi pagi." jawab Asna .
Sejenak mereka lupa bahwa seharusnya mereka mengintrogasi Asna dan Amira lantas mengingatkan Kiara.
"Lo, sengaja mendekati Evano?" tanya Kiara, tapi suaranya tidak sekeras di awal.
Kiara sepertinya kesakitan di area perutnya, sampai-sampai Kiara memegang wastafel dengan kuat.
"Tolong bantu, Ya!" pinta Asna kepada teman-temannya Kiara.
Mereka sama-sama mengangkat tubuh Kiara ke atas wastafel dan Asna meraih botol kecil yang berisi seperti minyak.
"Kiara...! Ini adalah minyak olahan berbahan dasar minyak kelapa dan campuran beberapa rempah-rempah lainnya.
Aku biasa mengoleskan minyak ke perutku, kala kram saat haid. nantinya akan terasa hangat." Ungkap Asna.
Lalu perlahan-lahan Asna membuka tiga kancing seragam Kiara dari bawah, kemudian mengusapkan minyak itu ke perut Kiara.
Asna melakukannya dengan telaten hingga perut Kiara sudah berminyak, kemudian Asna mengambil minyak kayu putih dari tasnya lagi.
Lalu mengoleskannya ke arah seluruh punggung Kiara, sampai akhirnya Kiara bersendawa dan terkahir buang angin dan itu terdengar kencang.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' mereka tertawa mendengar suara kentut dari Kiara.'
Wajah Kiara tidak lagi pucat, dan terlihat sudah jauh lebih baik. lalu Asna merapikan pakaian Kiara.
Asna mengambil botol minum dari saku tas yang berwarna pink dan kemudian bertanya apakah Kiara bisa meminumnya.
Ternyata itu botol minum milik Kiara, setelah minum air dari botol tersebut, terlihat Kiara jauh lebih tenang.
"Asna, ngak ada niat sedikitpun untuk pacaran dengan Evano. karena dia itu bukan tipeku, dan satu hal lagi.
Tidak ada sedikitpun niat ku, untuk pacaran saat ini. kalian tahu sendiri kalau Asna, beasiswa disini dan itu semua bergantung pada nilai ku.
Aku nggak punya waktu untuk pacaran, Asna merasa risih akan kelakuan Evano." ujar Asna yang terdengar memelas.
"Okey...! terus kenapa Evano bisa menginap di rumah mu?" Kiara bertanya dan suaranya sudah mulai pelan.
"Kan, Evano sudah cerita. sebenarnya Asna dan adikku sudah menolaknya tapi karena papa dan mama merasa kasihan melihat Evano, sehingga di ijinkan untuk menginap di rumah kami.
Evano tidur di kamar adikku, dan kami tidak saling bicara satu sama lainnya." jawaban Asna benar-benar memelas.
Jika beradu secara fisik, tentunya Asna akan menang melawan empat cewek modis itu. tapi akan konsekuensinya jika Asna melakukan kekerasan.
Asna bisa saja dikeluarkan dari sekolah, yang akan berimbas kepada adiknya dan juga pekerjaan mama nya.
Itulah sebabnya Asna memilih cara berdamai untuk menyelesaikan masalah.
"Apa yang harus aku lakukan agar Evano berhenti menggangu ku?" tanya Asna.
Lalu Kiara membisikkan sesuatu kepada Asna. sepertinya ide dari Kiara, tidak bisa di laksanakan oleh Asna.