
Dafa menghampiri mamanya Jafar yang sedang ngobrol dengan Kiara dan kakaknya itu.
"Sepertinya kaki kak Kiara terkilir." kata Dafa seraya melihat ke arah Kiara.
"Sebentar biar Jafar panggil si mbak," ucap Jafar yang mengikuti Dafa.
Jafar langsung membawa si mbak ke ruang tamu, mbak yang di maksud adalah asisten rumah tangga mereka.
Si mbak tersebut sudah membawa baskom yang berisi ice kristal yang direndam di air dan juga handuk kecil. serta sudah menyediakan minyak urut.
Dafa membuka sepatu bekas yang dikenakan oleh Kiara, lalu Asna membantunya untuk memasukkan kakinya ke arah baskom yang berisi air dingin itu.
"Auh...." Kiara mengeluh sakit.
"Tahan sebentar, Ndok." ucap si mbak.
Kemudian kaki Kiara di keluarkan dari baskom tersebut dan si mbak mengeringkan kaki Kiara.
Lalu menurutnya secara perlahan dengan menggunakan mintak urut tersebut.
"Rileks, Ndok." ucap si mbak dan kemudian...
ahhhhhh... ' suara teriakan kiara.'
Kiara berteriak karena kesakitan disaat kakinya di tarik kuat oleh si mbak.
"Coba berdiri, Ndok." pinta si mbak.
Perlahan-lahan Kiara berdiri dan tentunya di bantu oleh Asna.
"Ngak sakit lagi, terimakasih mbak." ucap Kiara yang terlihat bahagia.
"Jangan lasak dulu, Kak. kaki kakak itu lecet karena berlari-lari. kakak duduk dulu." pinta Dafa.
Kali ini tugas Asna yang mengobati kaki Kiara yang lecet. terlihat Asna begitu telaten dan nampaknya sangat ahli.
"Sepertinya Asna ahli benar mengobati kaki yang terluka!" ucap Kiara tiba-tiba.
"Kami itu mengajar anak-anak dan terkadang terluka karena berlari-lari kesana kemari. kami harus serba bisa.
Kebetulan juga aku sudah belajar ilmu dasar untuk pertolongan pertama pada sepupuku yang merupakan dokter di puskesmas dekat tempat tinggal kami." jawab Asna dan kemudian menyelesaikan pekerjaannya.
Kiara tersenyum mendengar penjelasan dari Asna.
"Kiara...! dokumennya sudah om tandatangani, sampai sama papa mu kalau om sudah siap bekerjasama." ucap papanya Jafar.
Kemudian menyerahkan dokumen itu kembali kepada Kiara.
"Kakak mau pulang, Iya? Dafa tinggal disini, Iya. karena kami mau mengerjakan tugas sekolah." kata Jafar ke Asna.
"Iya Asna, tolong antar Kiara ke rumahnya. nanti adik mu biar Om yang mengantarkannya pulang." demikian ucap papanya Jafar.
Asna menyetujuinya dan papanya Jafar meminta supir pribadinya untuk mengantarkan Kiara.
Kiara di temani oleh Asna untuk pulang ke rumah Kiara.
"Mobil itu gimana?" tanya Asna ke Kiara.
"Tadi sudah Kiara kasih tahu sama papa, nanti orang suruhan Papa yang akan mengurusnya." jawab Kiara dengan santai.
Sejenak hening mungkin karena kejadian waktu di rumahnya Kiara, saat acara ulang tahun itu.
"Asna...! aku mintak maaf atas kejadian itu, Papa selalu mendorong ku untuk mendekati Evano demi bisnis.
Tapi akhirnya Papa sadar akan perbuatannya dan tidak memaksa Kiara lagi.
Jodoh atau nggak itu urusan nanti tapi yang terpenting Papa tidak memaksa Kiara.
Kiara benar-benar mintak maaf, karena sudah menyakitimu. kamu bersalah dan Kiara yang egois." ucap Kiara yang terlihat sangat ikhlas untuk mintak maaf.
"Iya Kiara, lagipula Asna ngak pernah tertarik sama pria tengil itu." sanggah Asna.
Kiara tersenyum dan kemudian memegang kedua tangan Asna.
"Kiara baru sadar apa yang membuat Evano sangat menyukai mu.
Asna tersipu malu karena di puji oleh Kiara, gadis cantik yang modis dan anak konglomerat.
"Kalian ngapain ke pasar loak itu?" tanya Kiara yang terlihat penasaran.
"Beli buku bekas untuk referensi pelajaran, disana semuanya lengkap dan murah. sangat cocok untuk orang-orang seperti Asna." jawab Asna.
Kiara mengganguk mengerti dan kemudian masih mengagumi cara hidup Asna dan keluarganya.
Tanpa terasa mereka sudah tiba di rumah Kiara dan pemilik rumah itu menyuruh supir pribadi keluarga Jafar untuk segera pergi.
Nantinya Asna akan diantarkan oleh sepupunya Kiara.
Nampaknya Asna masih was-was karena kejadian malam minggu itu.
Asna melihat ke lorong menuju gudang rumah Kiara.
"Kiara ngak mengulanginya lagi, kamu tenang saja deh." ucap Kiara agar Asna tenang.
Asna hanya tersenyum menanggapi ucapan Kiara karena dirinya ketahuan menatap jalan ke arah gudang itu.
"Pah...! Mah...! ini Asna, teman sekelas Kiara. Asna ini adalah favorit semua guru di sekolah kami." Kata Kiara yang memperkenalkan Asna kepada kedua orangtuanya.
"Gini dong kalau berteman, sebelumnya ibu ucapkan terimakasih karena telah menolong Kiara." ucap mamanya Kiara dan kemudian mengajak Asna dan Kiara untuk masuk.
Mereka masuk ke arah meja makan dan Kiara menyerahkan dokumen kepada papanya.
"Kamu Asna, Kan? murid cerdas yang selalu diceritakan oleh guru-guru disekolah kalian?" ucap papanya Kiara.
Asna mengganguk dan kemudian salim ke tangan papanya Kiara.
"Dokumen ini berbahasa Mandarin, apakah Asna bisa membantu Om?" tanya papanya Kiara.
"Coba Asna lihat, Om." ucap Asna.
Asna menerima dokumen tersebut dari papanya Kiara lalu membacanya per halaman dengan teliti.
"Asna bisa membaca dan menulis bahasa Mandarin, tapi apa Om percaya pada Asna?" tanya Asna dengan hati-hati.
"Kiara itu jarang membawa temannya ke meja makan ini, hanya orang-orang kepercayaannya yang dibawa Kiara ke Maja makan ini." sanggah bapaknya Kiara.
Lantas Asna tersenyum dan kemudian menjelaskan isi dokumen tersebut secara terperinci.
"Bahan-bahan yang akan digunakan dalam kosmetik itu adalah bahan vulkanik yang banyak di temui di Jawa tengah.
Asna juga pernah membaca artikel yang memuat tentang keluarga yang membudidayakan olivera atau bunga lida buaya.
Bahan yang ketiga akan Jeju, sejenis tumbuhan yang hampir mirip dengan lidah buaya.
Tanaman itu hanya tumbuh di Korea Selatan, dan sudah dipasarkan di website resminya.
Untuk mendapatkan vulkanik serta lidah buaya gampang, anak tetangga kami itu bekerja sebagai ahli di bidang tanaman itu." jelas Asna dengan terperinci.
Papanya Kiara sangat mengagumi keahlian dari Asna.
"Kiara...! Terimakasih sayang, karena sudah membawa Asna kemari." ucap bapaknya Kiara.
"Jangan berterima kasih dulu, Pah. selama ini Kiara sangat jahat sama Asna.
Bahkan kemarin malam itu, Kiara dan teman-teman hendak mempermalukan Asna dihadapan teman-teman yang lain.
Kiara ragu kalau Asna akan bersedia membantu Papa, itu karena Kiara sudah sangat jahat ke Asna." ucap Kiara dengan nada suara yang pelan.
"Kiara belum bertanya, Kan? kalau Asna bersedia membantu. nanti akan Asna perkenalkan dengan anak tetangga kami itu.
Asna juga bersedia menjadi tenaga penerjemah bahasa Mandarin dan juga penerjemah bahasa Inggris.
Website Jeju itu menggunakan bahasa Inggris, sehingga gampang untuk memesannya sesuai kebutuhan." sanggah Asna.
Kiara tersenyum dan langsung memeluknya, karena itu pertanda bahwa Asna sudah benar-benar memaafkannya.
Demikian juga dengan papanya Kiara yang terlihat sangat senang, karena bisa melanjutkan proyek tanpa terkendali bahasa.