LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Tawa Bersama.



Sejenak Evano dan Dafa hanya terdiam, dan Dafa akhirnya duduk di kursi yang berhadapan langsung ke Evano.


"Sebenarnya Dafa, enggan untuk mengajari kakak. tapi karena pahala yang melimpah, sehingga Dafa bersedia." ucap Dafa dengan suara pelan.


"Terserah alasannya apa, tapi yang jelas Dafa sudah berjanji mau mengajari kakak untuk sholat dan ngaji." sanggah Evano seraya menaikkan ranjangnya.


Dafa meraih tas sekolahnya, lalu mengeluarkan Iqro dan diberikannya kepada Evano.


"Buku apa ini?" tanya Evano.


"Namanya Iqro, buku teks yang di gunakan untuk belajar Alquran.


Iqro jilid satu adalah pengenalan abjad, dan kemudian iqro jilid dua untuk menyambung beberapa abjad dan seterusnya.


Kita mulai dari Iqro jilid satu, sebagai paling dasar pembelajaran." jelas Dafa dengan begitu luwes.


cruakk... cruakk.... cruakk... ' suara perut Dafa.'


hahahaha.... hahahaha... hahahaha...


Evano tertawa karena mendengar suara yang keluar dari perut Dafa.


"Seru kayaknya, kenapa?" tanya mamanya Evano yang baru datang membawa barang-barang belanjaan.


"Bocil rese ini kelaparan, sampai perutnya bunyi keroncong kayak dangdutan." jawab Evano dan kemudian tertawa lagi.


Dafa terlihat malu seraya memegang perutnya, lalu bu Hana yaitu mamanya Evano membuka sebuah kotak.


Ternyata isi kotak itu berisi nasi berikut dengan lauk berupa ikan sambal dan juga sayur bening.


"Ibu suap ya!" pinta mamanya Evano.


"Dafa sudah besar, Bu. Dafa bisa makan sendiri." kata Dafa yang menolak dengan cara halus.


Tapi mamanya Evano terlihat sedih saat Dafa menolak di suapi.


"Aaaaa....!" Dafa membuka mulutnya agar di suapi oleh bu Hana.


Terlihat bu Hana langsung tersenyum dan kemudian mencuci tangannya wastafel dan kemudian mengambil nasi kotak tersebut dan mulai menyuapi Dafa.


Bu Hana terlihat begitu menikmati keadaan saat menyuapi Dafa yang makan dengan lahap.


"Kok, cuman Dafa yang mama suapin?" Evano komplain pada mama nya.


"Tadi sudah makan, nanti setelah perawat membawa makanan mu. mama ngak berani memberi makanan untuk Vano." jawab mamanya dan terus menyuapi Dafa.


Bahkan sampai Dafa selesai makan, terus di suapi oleh bu Hana dengan sangat telaten.


"Alhamdulillah...!" ujar Dafa setelah selesai makan.


Evano yang mencoba membaca Iqro yang diberikan oleh Dafa, hanya tersenyum menanggapi ucapan Dafa barusan.


"Dafa...! kak Evano ngak ngerti cara bacanya ini." ungkap Evano yang menunjukkan halaman pertama iqro tersebut.


"Sabar, Ya. baru selesai makan, ntar Dafa ajarin." sanggah Dafa yang mengelus perutnya.


Bu Hana yang sudah selesai mencuci tangannya lalu menghampiri anaknya yang sedang membaca Iqro.


" A ba ta tsa...!" ucap mamanya Evano yang mengajari Evano.


Evano mengulanginya lagi dan ternyata bisa juga, lalu Evano bertanya kepada Dafa. apakah bacaannya sudah benar atau masih ada salah.


"Awal yang bagus, kalau begitu Dafa. mau mandi, setelah itu kita sholat berjamaah." jawab Dafa.


Lalu meraih paper bag belanja yang diberikan mamanya Evano kepadanya.


Beberapa saat kemudian Dafa, sudah keluar dari kamar mandi dan telah berpakaian rapi. lalu mengajak mamanya Evano untuk sholat.


Dafa sebagai imamnya karena sudah sering sebagai imam di dalam keluarganya.


Saat akhir sholat dan salam, mamanya Evano meneteskan air matanya ketika Dafa salin ke tangan mamanya Evano.


Kemudian Dafa memanjatkan doa, agar Evano lekas sembuh. doa yang tidak berbelit-belit dan kemudian menoleh kebelakang.


"Ngak, kok sayang. hanya terharu saja melihat Dafa sebagai imam seperti ini." jawab bu Hana.


Untuk menenangkan hati bu Hana, bocah yang cerdas itu memeluknya dengan erat.


"Terimakasih ya, Bu. terimakasih atas baju koko dan sarungnya. Dafa suka." ucap Dafa setelah melepaskan pelakunya.


"Sama-sama Dafa, oh iya. Dafa dapat beasiswa juga di sekolah?" tanya bu Hana.


"Iya, Bu. Dafa sudah tiga kali juara dua lomba matematika tingkat kota dan dua kali juara satu." jawab Dafa dengan semangatnya.


"Hebat, Ya. Dafa sama kak, Asna. kok bisa, juara satu selalu." tanya bu Hana yang masih penasaran.


"Berkat doa mama dan papa, serta makan ikan yang banyak.


Dafa sama kak Asna, jarang makan ayam atau daging lainnya. selalu ikan dan ikan, karena opa atau kakek kami, adalah seorang nelayan yang tiap hari mengirimkan ikan segar ke rumah kami." jawab Dafa lalu tersenyum.


"Begitu rupanya, tapi kak Evano. selalu ibu beri makan ikan kok, tapi kenapa nilai-nilainya bisa bobrok gitu ya." tanya bu Hana lagi.


"Pasti karena rambut kak Evano yang gondrong, vitamin dari ikan nya pada nyangkut di rambut nya." jawab Dafa yang terlihat serius.


hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' Evano tertawa mendengar jawaban dari Dafa.'


Evano masih tertawa sampai dirinya buang angin yang dan itu sangat kuat.


Mendengar Evano yang buang angin, lantas bu Hana yang masih memakai mukena langsung berdiri dan bersama dengan Dafa menghampiri Evano di ranjangnya.


Bu Hana langsung menekan bel yang ada diatas ranjang Evano, dan seketika itu juga dokter dan dua perawat menghampiri mereka.


"Evano sudah buang angin, Dok!" ujar bu Hana.


Dokter itu tersenyum dan kemudian memeriksa kembali kondisi Evano.


Sudah jauh lebih baik, setelah makan. kami hanya memberi obat saja. mudah-mudahan besok pagi setelah ronsen sudah bisa pulang.


"Alhamdulillah...!" ucap Dafa yang bersamaan dengan bu Hana.


Dafa dan bu Hana, saling bertatapan dan kemudian tertawa karena pandangan mata mereka berdua saling bertemu.


Kedua bola mata Evano, terlihat berbinar-binar melihat mamanya yang tertawa bersama Dafa.


Setelah dokter dan kedua perawat itu pergi, Dafa membantu Hana untuk melepaskan mukenah yang dikenakannya.


"Cilubak...!" ujar Dafa, ketika mukena itu berhasil di buka.


Hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' Evano tertawa.'


Tawa Evano menular dan mereka bertiga sama-sama tertawa, layaknya sebuah keluarga yang sedang bahagia.


Tanpa terasa waktu terus berlalu dan sudah pukul delapan malam.


"Iya, ampun...!" ujar mamanya Evano di sela-sela tawa canda mereka.


"Kenapa, Ma?" tanya Evano.


"Dafa harus pulang, karena sudah jam delapan malam." jawab mamanya.


"Dafa tidur disini saja." pinta Evano.


"Kasihan Dafa, kasihan harus menginap di rumah sakit. hawa rumah sakit kurang bagus untuk Dafa." sanggah mamanya Evano yang meraih handphone dari tasnya.


"Bagi preman ngak berlaku yang begituan ma, badan Dafa itu tahan segala kondisi." kata Evano yang masih cemberut.


"Dafa bukan si Pitung, tahan segala kondisi dan tahan bacok. dasar ngaco...!" sanggah Dafa.


Mereka bertiga kembali tertawa, selama Dafa bersama mereka berdua. hanya tawa kebahagiaan yang menyertai mereka.


Ternyata bu Hana, menelpon supir pribadinya. tidak berapa lama kemudian, pak supir itu langsung masuk ke ruang inap.


Kemudian mengajak Dafa untuk pulang, sebelum pulang Dafa mencium pipi mamanya Evano lalu salin dan pamit pulang.