LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Di Kejar Polisi.



Ramon sempat membantu Evano lepas dari kejaran polisi pemburu preman tersebut, akan tetapi Evano, tidak bisa mendengar instruksi dari Ramon.


Alhasil Evano, menjadi terpisah dari Ramon. mau tidak mau Evano, harus mencari jalannya sendiri.


Karena terdesak dan akhirnya Evano, masuk ke dalam gang pemukiman warga. lalu terus masuk gang demi gang.


Sampailah dalam suatu gang yang sangat sunyi, dan Evano. mematikan motor, bermaksud untuk bersembunyi dari kejaran polisi pemburu preman tersebut.


"Syukurlah, kalau polisi itu sudah ngak ada lagi." ucap Evano.


Evano merasa aman dari kejaran polisi pemburu preman itu, dan akhirnya bisa bernapas lega.


Saat hendak membuka helmnya, terdengar suara motor dari polisi pemburu preman tersebut dan seketika itu juga Evano, terlihat panik.


Lantas Evano, langsung menyalakan motornya lagi dan kemudian tancap gas meninggalkan tempat persembunyian.


Sebenarnya Evano, tidak mengenal lokasi saat ini dia berada. saat ini terpenting adalah lepas dari kejaran polisi pemburu preman tersebut.


Pemukiman warga yang padat, dan gang demi gang yang tidak ada putusnya yang mirip seperti labirin.


Evano tidak memperdulikan keberadaan saat ini, yang penting bisa terhindar dari kejaran polisi pemburu preman.


Gang yang lumayan lebar dan kemudian sempit, begitulah seterusnya yang di lalui oleh Evano.


Sepanjang gang itu tetap di telusuri oleh Evano, untuk menghindari kejaran polisi pemburu preman.*


Dari rumah yang sederhana, terlihat Asna. belajar bersama adiknya yang bernama Dafa. Meja belajar mereka berdua adalah rakitan papanya.


Terbuat dari sisa kayu dengan besi sebagai penopang, diatasnya ada komputer dan printer yang merupakan hadiah lomba yang di menangkan oleh Asna.


"Kak, sepertinya printer ini rusak, Lah!" kata Dafa, yang hendak memakai printer tersebut.


"Bentar, biar kakak lihat," ucap Asna, seraya bangkit dari tempat duduknya.


Asna memperhatikan printer dan tidak berapa lama kemudian Asna, menatap adiknya dengan tatapannya yang kesal.


"Bukan rusak Dafa, tapi belum kamu colok." ujar Asna seraya mencolokkan kabel ke sumber listrik.


"Oh...!" kata Dafa terkekeh.


Lalu Dafa, langsung mencetak tugasnya. sepertinya Dafa menikmati suara printer yang bekerja itu.


"Napa, itu kepala! kok geleng-geleng gitu?" tanya Papa nya keheranan.


"Tuh, suara printer sudah kayak dangdutan." jawab Dafa.


Hahahaha... hahaha...haha... hahahaha...haha.


Mereka tertawa lepas, demikian juga mamanya Asna yang baru selesai beres-beres di dapur.


"Printer itu sudah lama Dafa, tapi masih berfungsi, Kan!" ucap Asna.


Hanya karena bunyi printer yang sangat nyaring, dan hal itu bisa membuat keluarga sederhana itu bisa tertawa.


Lalu Dafa beranjak ke kamarnya, dan berapa lama kemudian datang membawa celengan yang terbuat dari bahan keramik.


brak... pram...brak... ' suara celengan yang di pecahan '


Dafa memecahkan celengannya dengan cara di jatuhkan ke lantai.


"Astagfirullahaladzim, Dafa...!" mamanya istigfar karena kaget.


Bukan hanya mamanya yang kaget, demikian juga Asna dan papa nya. tapi Dafa, hanya tersenyum.


Lalu memungut uang yang berserakan di lantai, uang yang berasal dari celengan ayam yang terbuat dari keramik miliknya.


"Buat apaan, Dafa. memecahkan celengan mu?" tanya Asna yang terlihat kesal.


"Beli printer baru kak, Asna!" ucap Dafa, yang masih memungut uang yang berserakan.


"Ngak perlu Dafa, selama printer masih bisa digunakan. untuk apa beli baru!" ungkap kakaknya.


Kemudian mereka bersama-sama memungut uang Dafa, selesai mengumpulkan uang dari celengan tersebut, mamanya membersihkan pecahan celengan tersebut.


Terlihat Dafa dan kakaknya menghitung uang dari celengan yang di bantu oleh papanya.


Uang pecahan yang paling kecil senilai lima puluh ribu rupiah dan terlihat begitu banyak, dan setelah di jumlahkan totalnya mencapai delapan juta rupiah.


"Iya...!" sanggah Asna.


Sebagai ibu rumah dan mama mereka, langsung mendekati Dafa.


"Pasti dari dompet mama, Kan!" ucap mamanya seraya tersenyum.


"Enak, Aja...! semua ini uang Dafa," kata Dafa.


Lalu Dafa menyerahkan uangnya kepada Asna, uang yang telah di rapikan olehnya.


"Dafa, dapat uang dari mana sebanyak ini?" tanya kakaknya.


"Om, Bayu. itu buat mainan anak-anak dan Dafa, menjual produknya di sekolah. selisih jualnya Dafa, tabung deh." jawab Dafa dengan wajah seriusnya.


"Dafa, yakin!" tanya mamaknya.


Dafa mengganguk dan seketika itu mamanya meraih handphonenya dan terlihat menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian setelah selesai berbicara melalui handphone, mamanya Dafa tersenyum ke arah Dafa.


"Maafkan mama, Ya. Mama, hanya memastikan ke om Bayu, saja." uncap namanya seraya memeluk Dafa.


"Dafa, ngerti. Kok." sanggah Dafa.


Asna meletakkan uang di atas meja, lalu menatap Dafa dengan tatapan yang sangat serius.


"Dafa, bisa jualan di kelas?" tanya kakaknya yang penasaran.


"Begini, kakak sayang. Dafa, meminjam salah satu mainan dari om Bayu, lalu jam istrihat Dafa. memainkan mainan tersebut.


Ada teman Dafa, yang tertarik. lalu di pesannya ke Dafa. pulang sekolah Dafa, ke rumah om Bayu, untuk mengambil mainan yang di pesan.


Esoknya paginya, Dafa. membawa ke sekolah lalu menyimpannya di loker, pulang sekolah baru Dafa berikan ke yang pesan berikut dengan uangnya.


Setelah itu baru Dafa, menyetor uangnya ke om Bayu dan Dafa, dapat komisi." jawab Dafa seraya tersenyum.


"Begini saja Dafa, besok Papa temani ke bank. untuk membuka rekening khusus anak-anak dan kelak nanti uang ini, sebagai dana pendidikan mu kelak nanti." kata Papanya


"Emangnya ada bank khusus anak-anak?" tanya Dafa dengan begitu serius bertanya.


"Ada, Dong. pokoknya besok Papa temani sehabis pulang sekolah ya." jawab Papa nya.


Tanpa sepengetahuan mereka, mamanya sudah menarik beberapa lembar uang Dafa yang terletak di meja.


"Mama...!" kata Papa mereka berdua.


hehehe... hehehe...


Mamanya hanya tertawa kecil karena ketahuan mengambil uang Dafa beberapa lembar.


hahahaha... hahahaha... hahahaha... hahahaha...


Mereka tertawa lagi, tertawa karena karena tingkah mamanya yang lucu saat ketahuan mengambil beberapa lembar uang Dafa dari atas meja.


Brak...prak... ' suara yang sangat keras dari arah belakang rumah.'


Suara itu mengagetkan keluarga yang sederhana yang berbahagia itu, dikala tawa mereka.


"Apa itu, Pak." tanya Dafa."


"Entah...! biar papa, cek dulu." jawab papa nya.


Tapi Dafa dan kakaknya serta mamanya, mengikuti papa mereka dari belakang dan mereka bersama-sama menuju ke arah belakang.


Mereka berjalan dengan mengendap-endap dan akhirnya mereka tiba di area dapur, terlihat mamanya mengambil sutil.


Asna mengambil sapu, sementara Dafa mengambil batang besi yang terletak di bawah meja.


Begitu juga dengan papanya, mengambil batang besi yang sama persis seperti yang di ambil oleh Dafa.


Lalu bapaknya perlahan-lahan membuka pintu dapur dan brak...


Seseorang terjatuh dari motor besar dan tepat di depan mereka, dan motor besar tersebut menimpa orangnya.