LOVE FIGHTER

LOVE FIGHTER
Evano Terluka Lagi.



Acara perayaan ulang tahun Kiara, sudah hancur dan papanya menyuruh teman-temannya Kiara untuk pulang.


Hanya Evano yang disuruh masuk oleh papa nya Kiara ke ruang keluarga.


"Evano...! kamu sudah tahu, Kan. kalau kamu sudah di jodohkan dengan Kiara?" ucap papanya Kiara.


"Iya, tapi itu hanya berlaku bagi papa. sementara Evano dan mama sudah mengganggap Papa mati.


Evano ngak pernah menyukai Kiara, karena kelakuan yang diluar nalar manusia."


"Cukup Evano, jangan merendahkan putriku seperti itu. lebih baik kau pulang sekarang." sanggah Papa nya Kiara yang memotong pembicaraan Evano.


Evano langsung pulang dari rumah Kiara, terlihat Kiara sangat terpukul akan kejadian dan juga ucapan dari Evano.


"Nanti papa akan bicara dengan papanya Dewa." ucap papanya untuk menenangkan hati Kiara.


"Sekarang, Pah. jangan tunggu nanti." tiba-tiba saja mama nya Kiara nimbrung.


Seketika itu juga papanya Kiara langsung meriah handphonenya dan melakukan panggilan.


"Halo pak Arka." sapa papanya Kiara.


"Iya,.." jawab dari seberang sana melalui panggilan telepon.


"Evano mengingkari pertunangan dengan Kiara, lantas bagiamana dengan semua." ucap papanya Kiara.


"Saya akan bicarakan dengan mamanya Evano. mohon sabar, karena masalah ini tidak bisa di buru-buru." jawab papanya Evano dari seberang sana.


Akhirnya panggilan telepon tersebut berakhir dan kedua orangtuanya berusaha menenangkan Kiara.**


Dari arah pinggir jalan raya, Evano berhenti disebuah warung dan minum teh kemasan. terlihat wajahnya begitu lesu.


"Kenapa mas bro?" Ramon menegurnya yang sudah ada ditempat tersebut.


"Loh, kok disini?" tanya Evano yang terlihat terkejut.


"Jelas ada disini, susah banget dihubungi. mau ngajakin ke acara ulang tahunnya Kiara, tapi malas jadinya karena mas bro susah di hubungi.


Oh, Iya. lupa deh, yang punya orang ini adalah pak Deh ku. dari bengong di rumah, lebih kemari." jawab Ramon yang cengengesan.


"Gitu...! handphone ku disita mama, karena masalah kemarin, Maaf, Iya." ucap Evano.


Ramon terlihat heran, karena ini pertama kalinya mendengar Evano mintak maaf.


"Busset dah, baru satu kali di ajari Asna dan adiknya dan sudah membuat menjadi Evano yang luar biasa."


"Apaan, Sih!" sanggah Evano yang memotong pembicaraan sahabatnya itu.


Kemudian Evano menghela napasnya lalu menatap sahabatnya itu.


"Emangnya apa salah Asna? sampai segitunya kamu berbuat demikian."


Evano menatap Ramon akan pertanyaan itu, sepertinya sukar untuk untuk dijawab.


"Ngak tahu karena benci melihat Asna tersenyum kepada laki-laki lain, sementara selalu kecut padaku." Evano menjawabnya tapi masih terlihat kebingungan.


"Eh kampret...! berani mengejar kami?" ucap seseorang yang mengendarai motor besar.


Empat motor yang sama besarnya dengan motor milik Evano.


Jika dilihat dari jaket pemilik motor itu, dan sudah jelas bahwa mereka adalah anggota geng motor merah yang di ketuai oleh Irvan.


Nampaknya Evano tertantang dan langsung mengejar ke empat geng motor tersebut. Sementara Ramon hanya terduduk di kursi karena tidak membawa motornya.


Ngeossssss..... ngeossssss....


ngiungggggggg..... ' suara motor dengan kecepatan tinggi.'


Evano terus mengejar empat anggota geng motor tersebut hingga ke suatu tempat dan terus menerus hingga Evano memimpin.


Ngiungggggggg...... ' suara motor Evano yang masih terus melaju dengan kecepatan tinggi.'


Prak...bram...krak... ' suara motor yang terjatuh.'


Evano terjatuh karena kehilangan keseimbangan yang disebabkan kurangnya konsentrasi.


Evano tergeletak di dekat apotik dan disaksikan oleh seorang perempuan dan anak kecil yang kebetulan membeli obat.


Ternyata Asna dan adiknya yang membeli sesuatu dari apotik tersebut dan langsung menolong Evano yang sudah tergeletak.


Terlihat Asna sangat penasaran melihat pemilik motor besar itu dan langsung membuka helmnya.


"Pria tengil ini lagi, coba kakak cek. mudah-mudahan belum mati." kata Dafa yang terlihat kesal.


"Masih bernapas, Kok." ucap Asna.


Asna dan adiknya serta pemilik apotik itu langsung membantu Evano agar tidak ditindih oleh motor nya.


Pemilik apotik itu membawa Evano ke dalam apotik dan beberapa saat kemudian pria tengil itu sadar.


"Kenapa ngak mati sekalian, sungguh merepotkan." kata Dafa dengan tatapan sorot matanya yang marah.


"Kalian saling kenal?" tanya pemilik apotik itu.


"Ngak kenal amat sih, Kant. sebenarnya ogah mengenal si tengil ini." jawab Dafa yang terlihat kesal.


Pemilik apotik itu terlihat bingung akan jawaban dari Dafa.


"Satu kelas Asna, Kang. kami pamit dulu, usir saja pria ini. ntar menyusahkan lagi disini." sanggah Asna.


Ketika Asna dan adiknya hendak pergi, Evano memaksa dirinya untuk mengikutinya.


"Ngapain ngikuti kami?" tanya Dafa yang terlihat sudah mulai emosi.


"Aku ikut ke rumah kalian, Iya." pinta Evano yang terdengar memelas.


"Rumah kami ngak ada AC nya, rumah kumuh dan makannya ngak. Pulang ke rumah mu, ngapain pula harus ikut ke rumah kami." kata Dafa yang tidak mau mengajak Evano ikut ke rumahnya.


"Tolonglah..! kalau aku pulang ke rumah, nanti mama akan marah melihat keadaan ku seperti ini" Evano memohon.


"Lehernya berdarah, Kak." kata Dafa tiba-tiba.


Leher Evano mengeluarkan darah, sehingga mereka berdua membawa Evano ke apotik itu.


"Asna...! Dafa...! aku hanya lulusan apoteker, mana bisa mengobati seperti itu.


Kalian bawa saja ke puskesmas, nantinya motonya biar akang yang membawa ke rumah kalian." ujar pemilik apotik.


Sehingga Asna dan Dafa membawa Evano ke puskesmas, dan beruntungnya dokter Bagus sedang bertugas.


"Kamu lagi, hobi benar menyakiti diri sendiri." ucap dokter bagus.


Dokter Bagus dan perawat itu langsung memeriksa luka pada leher Evano dan kemudian melakukan pengobatan.


Leher Evano sudah dibalut dengan perban dan nampaknya pengobatan itu sudah selesai.


Saat Evano hendak berdiri, tapi terlihat oleng karena kakinya yang tidak mampu menahan beban tubuh Evano.


Dengan bantuan dokter Bagus, pria tengil itu membuka sepatu dan juga celananya.


Ternyata pergelangan kaki kirinya memar, demikian juga dengan paha kirinya.


"Langsung ke rumah sakit, biar mas buatkan pengantar nya." Ucap dokter Bagus.


Berhubung dokter Bagus tidak bisa meninggalkan puskemas, alhasil Asna dan Evano yang membawa Evano ke rumah sakit dengan naik taksi.


Rumah sakit swasta yang besar, Evano dibawa ke rumah sakit tersebut oleh Asna dan adiknya.


Melalui IGD ' instalasi gawat darurat' Evano langsung ditangani oleh dokter.


"Evano...!" seorang dokter yang sudah senior menegur nya.


Dokter senior itu langsung memberikan perintah agar segera dilakukan yang terbaik untuk Evano.


"Celana pendek pria tengil, rada-rada aneh." Dafa berbisik ke kakaknya.


"Sssstttt...!" Asna meminta adiknya untuk diam.


"Kamu Asna, Kan?" dokter senior itu bertanya.


"Iya, Dok." jawab Asna dengan pelan tapi terlihat kebingungan karena dokter itu mengetahui namanya.


"Om ini papanya Ramon." jawab dokter itu.


Asna hanya berkata ' oh ' lalu memberi salam ke dokter senior itu.