
Asna tersenyum setelah selesai memeriksa tugas yang dikerjakan oleh Evano, terlihat pria tengil itu terpesona melihat senyuman Asna.
"Biasa saja matanya, ntar ku jongkok itu biji mata." Dafa protes ke Evano karena tatapannya ke Asna.
"Maaf...! dah bisa makan?" tanya Evano.
"Lanjutkan, Kak. biar Dafa menyuapi bocil tengil ini." sanggah Dafa tanpa menjawab pertanyaan dari Evano.
Dafa mengambil mie goreng dan kemudian menyuapi Evano seraya mendengarkan penjelasan dari Asna yang sedang mengajar.
"Sudah kenyang." ujar Evano, hal membuat Dafa kesal.
Kesal karena mie baru dua suapan masuk ke mulutnya.
"Ngak seperti itu, habiskan." Dafa memaksanya.
Akhirnya Evano menghabiskan mie goreng tersebut dan sampai Asna selesai mengajarkan satu topik.
Akhirnya Evano selesai makan dan kemudian Dafa memberikannya minum.
"Evano, inilah yang akan kita praktekkan di laboratorium nantinya. mudah-mudahan kamu paham, Iya!" ucap Asna.
Evano hanya mengganguk dan kemudian mengerjakan tugas sekolah dari ibu guru kimia yang di pandu oleh Asna.
Selesai mengerjakan tugas sekolah tersebut, Dafa kemudian mengeluarkan buku Iqro dari tasnya.
"Kita sholat dulu, Yuk. habis itu baru belajar sholat dan ngaji." sanggah Dafa.
Asna mengangguk sementara Evano hanya terdiam.
"Ayo...!" Dafa mengajak Evano untuk wudhu, karena pria tengil itu hanya bengong.
"Sarungnya dan sajadah ada di kamar." kata Evano.
"Terus...! Dafa harus menemani mu ke kamarmu?" tanya Dafa dengan sinis.
Evano mengganguk karena Evano mintak di ajarin secara khusus untuk wudhu dan sekaligus cara memakai sarung.
Dafa akhirnya mengikuti Evano ke kamarnya, sementara Asna pergi ke arah kamar mandi para asisten rumah tangga untuk wudhu.
"Waouu...! pantas saja kak Evano, menghina rumah kami, Ya.
Kamar kak Evano saja seluas rumah kami, sangat bagus dan semuanya lengkap." ungkap Dafa yang mengagumi kamar pribadi Evano.
Mereka berdua masuk ke kamar mandi, untuk wudhu. tapi...
"Iya ampun lelet benar, Dah. sudah kayak pengantin saja deh." Dafa protes karena Evano terlihat sangat lelet.
"Makanya ajarin, bocillll!" sanggah Evano yang mulai kesal melihat Dafa.
"Uhmm...! mampus...!" ucap Dafa yang menyiram tubuh Evano dengan air shower tersebut.
Bukan wudhu tapi malah berantam di kamar mandi dan saling menyiram satu sama lainnya.
Tok...tok...tok... ' suara pintu di ketuk '
Tapi sepertinya Evano dan Dafa tidak mendengarkannya karena asyik bermain di kamar mandi.
"Ya, ampun...! Dafa ngapain sih, lama benar wudhu nya." ujar Asna yang datang bersama bu Hana.
Mereka berdua menghela napasnya ketika melihat Evano dan Dafa yang sudah basah kuyup karena bermain air.
"Untung ibu sudah beli pakaian baru Dafa, kalau ngak basah kuyup dah." kata bu Hana dan kemudian tersenyum.
"Buruan wudhu, biar kita sholat berjamaah." pinta Asna. lalu mengajak bu Hana untuk pergi dari kamar Evano.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' Evano dan Dafa malah tertawa.'
Lalu mereka berdua akhirnya wudhu dan tentunya Evano diajari oleh Dafa.
Selesai wudhu lalu mereka berdua keluar dari kamar mandi dan kemudian memakai pakaian.
Lagi-lagi Dafa harus mengajari Evano untuk mengenakan sarung dan akhirnya kelar juga dan kemudian menemui bu Hana dan Asna yang sudah berada di ruang sholat.
Bu Hana tersenyum menanggapi ucapan Dafa, lalu mereka sholat berjamaah dimana adiknya Asna yang menjadi imamnya.
Selesai sholat, Dafa salim kepada bu Hana, Evano dan kemudian kakaknya. lanjut Evano yang salim ke mamaknya dan di susul oleh Asna.
"Sudah pada makan malam, apa belum?" tanya bu Hana.
"Belum, Ma!" Evano menjawabnya.
plak... ' Dafa memukul paha Evano dengan tangannya.'
"Kok, belum! kita sudah makan tadi sore. nanti saja makan, kita ngaji dulu." ujar Dafa.
Evano terlihat kesakitan atas pukulan Dafa, tapi bu Hana dan Asna malah tersenyum. sementara Dafa beranjak menuju meja belajar.
"Dafa di pecat saja, Mak! guru yang satu itu sangat kejam." pinta Evano ke mamaknya.
"Enak saja main pecat," sanggah Dafa yang sudah tiba seraya membawa tasnya.
Kemudian Dafa duduk di hadapan Evano, lalu Dafa meraih Iqro dari tasnya.
"Lagian, Iya. kak Evano itu, jadi laki-laki terlalu lemah.
Tadi saat pulang sekolah, ada teman sekelasnya kak Asna menghampiri Dafa, namanya Keran." ucap Dafa yang terlihat sangat serius.
"Keran, keran air." sanggah Evano.
"Bukan, Loh. Nanya Keran, mobilnya serba warna pink gitu." kata Dafa yang sudah membuka halaman pertama iqro.
"Kiara namanya, bukan keran." sanggah Evano yang terlihat kesal.
"Terserah siapapun namanya, kata si serba pink itu, kak Evano cemen dan lemah. masa bisa di banting cewek." ujar Evano yang bermaksud meledek Evano.
"Maksudnya gimana, Nak?" tanya bu Hana.
"Begini, Bu! tadi siang, kak Evano mengganggu kak Asna di sekolah. karena merasa terganggu sehingga kak Asna membanting kak Evano.
Kak Evano...! sekali lagi Dafa, peringatkan. Jangan pernah ganggu kakak ku lagi, jika itu terjadi lagi, Dafa akan berbuat dan jauh lebih parah dari kemarin itu.
Dafa ngak perduli, kalau harus di tangkap polisi, karena kak Asna adalah kakak kesayangan ku." Dafa mengancam Evano.
Terlihat bu Hana sangat kebingungan akan ucapan Dafa barusan, dan meminta untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Akhirnya Asna mengklarifikasinya, semua ucapan Dafa benar adanya.
"Dafa sama kak Asna, terpaksa datang kemari hanya karena janji, tapi sepertinya kak Evano susah untuk menepati janjinya." sanggah Dafa.
Dengan rendah hati, bu Hana memohon maaf kepada Dafa dan juga Asna. melihat ketulusan dari mama nya Evano, sehingga Dafa dan kakaknya memaafkannya.
"Kak, Evano. buku ini adalah buku petunjuk wudhu seperti yang kita lakukan, lalu ini bacaan sholat.
Nanti saja di baca, Ya. kita belajar ngaji melalui Iqro terlebih dahulu. Untuk baca Alquran, kita sama-sama belajar sama pak ustadz." ucap Dafa dengan suara yang lembut.
"Tumben nada bicara mu lembut." sanggah Evano.
"Ngak usah banyak bacot, Ya. baca tuh." kata Dafa yang sudah kembali ke stelan awalnya.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' Evano tertawa.'
Evano yang tertawa membuat mamaknya dan juga Asna serta Dafa menjadi bengong.
plak... ' suara yang timbul karena Dafa memukul paha Evano.'
"Konsentrasi...! main saja kerjanya." ucap Dafa.
Seketika Evano terdiam, dan mulai membuka Iqro dan membacanya.
"Bagus, permulaan yang bagus. yuk kita lanjut." ucap Dafa yang terlihat semangat.
"Lapar...!" sanggah Evano.
Akhirnya mereka makan malam bersama, sudah seperti keluarga yang bahagia ketika mereka makan malam.