
Asna masih kepikiran akan bukti yang baru saja di dapatkannya dari Irvan, sesungguhnya Asna masih belum memercayai bukti tersebut.
Asna langsung menuju puskesmas tempat dokter Bagus praktek, beruntungnya dokter Bagus sedang praktek.
"Asna lemas banget, sakit?" tanya dokter Bagus.
"Ngak mas Bagus, tolong buka email Asna." pinta Asna.
Seketika itu juga dokter Bagus langsung membuka email.
"Coba mas Bagus cek email masuk." pinta Asna lagi.
Asna menuliskan email dan juga password-nya di secarik kertas, lalu menyerahkannya kepada dokter Bagus.
Tanya bertanya dokter itu langsung membuka email tersebut dan kemudian membuka email Asna.
Dokter Bagus mengakses video yang dikirim melalui email dan betapa terkejutnya dokter Bagus melihatnya.
"Teman sekelas ku yang mengirimkan itu mas, pengendara motor itu adalah Evano. pasien luka-luka yang sudah pernah mas rawat." ucap Asna.
"Tahu alamat rumah pemilik motor ini?" tanya dokter Bagus.
Asna menggelengkan kepalanya, lalu dokter Bagus memintanya untuk mengantarkannya ke alamat Evano.
Tapi mereka terkejut melihat kehadiran Evano yang sudah ada di puskesmas tersebut.
"Mau ngapain ke sini? bukannya masih di rumah sakit setelah menabrak dinding apotik." tanya Asna ke Evano.
"Aku hanya merindukan mu." ucap Evano.
Dokter Bagus memintakannya untuk duduk dihadapannya dan kemudian menunjukkan video rekaman sisi tv kepada Evano.
"Kamu pemilik motor itu, setelah menabrak keponakan sampai tewas di tempat. lalu kamu kabur ke luar negeri dengan dalil sekolah." ujar Asna seraya menatap tajam ke arah Evano.
Evano tidak mengindahkan ucapan Asna dan tetap fokus menonton rekaman sisi tv itu.
Beberapa saat kemudian, Evano menatap wajah Asna yang terlihat sedih.
"Motor itu dulu milikku dan kemudian diberikan pada Irvan, aku dan Irvan adalah sepupu.
Ayah kami kakak beradik kandung, itulah awalnya aku membenci papa dan Evano. karena papa selalu membuat Irvan speasial.
Motor itu di beli mama untukku, tapi Papa memberikannya pada Irvan.
Aku tidak pernah memakainya, karena motor itu sudah diberikan pada Irvan saat ulang tahunnya.
Aku dan mama ke luar negeri, karena kami berdua sangat jijik melihat papa kami. dan akhirnya kedua orang tua bercerai.
Papa terlalu memaksa kehendaknya dan papa yang menjodohkan ku dengan Kiara.
Jika Asna dan dokter Bagus tidak percaya, ayo kita temui mama dan pengacara kami. biar semuanya jelas." ujar Evano dengan begitu seriusnya.
Dokter Bagus dan Asna sepertinya setuju dengan ucapan Evano, mereka bertiga langsung bergerak menuju kantor mamanya Evano.
Mereka bertiga naik taksi dan hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sudah tiba di kantor mewah itu.
Dari arah lobby dan langsung masuk lift menuju ruangan bu Hana yaitu mamanya Evano.
"Mbak...! mama ada di dalam?" Evano bertanya pada sekretaris mamanya.
"Ada...! langsung masuk saja." jawab sekertaris itu.
Evano membawa dokter Bagus dan Asna ke dalam ruangan mamanya.
"Asna...!" ujar bu Hana, ketika melihat mereka bertiga masuk ke ruangannya.
Evano yang maju menghadap mamanya dan kemudian menunjukkan video rekaman sisi tv yang diperolehnya dari email Asna.
"Syukurlah kalau kalian menemukan video ini, mohon tunggu sebentar. ibu mau memanggil pengacara kami yang menangani ini." pinta bu Hana.
Lalu mereka bertiga duduk di sofa yang ada di ruangan yang luas itu.
"Ma...! namanya dokter Bagus, sepupunya Asna. dokter yang memberikan pertolongan pertama pada Evano.
Bocah malang yang tertabrak itu adalah anak dari dokter Bagus, anak yang sudah di tunggu setelah tiga tahun pernikahan." ucap Evano yang memperkenalkan dokter Bagus.
Bu Hana bersalaman dengan dokter Bagus, lalu bu Hana mengambil sesuatu dari lacinya dan itu adalah flashdisk.
"Vano..! tolong ambil laptop mama di laci meja yang besar itu." pinta bu Hana.
Lantas Evano mengambilnya dan kemudian menyalakan laptop tersebut.
Setelah laptop itu menyela dan bu Hana mencolokkan flashdisk yang diambil dari laci meja.
"Video surprise untuk Evano, ibu membelikannya motor besar dan motor itu adalah motor yang sama dalam video yang kalian dapatkan.
Video selanjutnya adalah motor tersebut di ambil oleh mantan suami ibu untuk diberikan kepada ponakannya yang bernama Irvan.
Kala itu orang Irvan sangat menginginkan motor besar itu, motor yang sudah tidak di produksi lagi.
Motor itu sangat di inginkan oleh Evano, sebenarnya bukan hanya itu yang menyebabkan perdebatan kami waktu itu.
Selain papanya Evano yang suka main serong dengan perempuan lain, tapi keluarganya yang selalu ikut campur dalam rumah tangga kami.
Hal itu membuat kami menjadi bercerai, gara-gara motor itu dan kami bertengkar hebat dan mengungkit kembali dari masa lalu.
Biar pengacara yang menyelesaikannya dan untuk menghilangkan rasa trauma dan kebosanan, ibu dan Evano jalan-jalan ke Eropa.
Kami tidak tahu menahu mengenai kejadian naas itu dan tiba-tiba saja aku di panggil polisi akan kepemilikan motor tersebut.
Memang benar kalau ibu yang membeli motor tersebut, untuk hadiah pada Evano. tapi motor besar itu di ambil papanya Evano untuk Irvan."
Bu Hana berhenti bicara karena dua pengacaranya sudah tiba di ruangannya tersebut.
Video itu langsung diberikan oleh bu Hana kepada pengacara dan langsung di tonton oleh kedua pengacara itu.
Lalu bu Hana memperkenalkan dokter Bagus dan menceritakan bahwa dokter tersebut adalah ayah dari korban yang tewas itu.
"Akhirnya kita dapat video ini, dengan ini kita bisa meluruskan permasalahan yang belum terselesaikan." ujar pengacara itu.
"Benar dokter, dengan adanya videonya sehingga saksi mata itu tidak bisa bisa berbohong lagi.
Bukan hanya almarhum anak dokter yang tidak mendapatkan keadilan, begitu juga dengan bu Hana dan Evano yang dituduh.
Kala itu kuat dugaan kami bahwa Irvan pelakunya, akhir dari rekaman sisi tv yang lupa di potong dan terlihat pengendara motor tersebut membuka helmnya.
Coba perhatikan akhir video, dan aku sangat yakin bahwa itu adalah Irvan." ujar pengacara yang satunya lagi.
Secara bersama-sama mereka kembali menonton video tersebut dan benar saja videonya terpotong.
Dimana potongan ada adegan buka helm dan sangat jelas itu adalah Irvan.
"Waktu itu Irvan pernah datang ke rumah dan membawa flashdisk, tapi ketinggalan di rumah.
Saat aku buka, semua filenya seperti di kunci dan Evano ngak bisa mengakses file-file dalam flashdisk tersebut." ujar Evano.
Lalu Asna meminta flashdisk tersebut dan kemudian mencoba membuka file dalam flashdisk.
Hanya butuh lima menit dan Asna bisa mengaksesnya.
Ternyata file itu berisi video full dari rekaman sisi tv yang didapat dan benar saja bahwa Irvan yang menabrak anak dokter Bagus hingga tewas di tempat.