
Asna terlihat sangat mencemaskan Evano, sementara Dafa sibuk memperhatikan peralatan dokter di ruang IGD itu.
"Kenapa Evano bisa seperti ini?" tanya dokter itu.
"Karena kak Evano menabrak dinding orang, Dok.
Sekalian tolong dokter periksa isi otak kak Evano, karena dia sangat suka menabrak dinding rumah orang.
Kemarin itu kak Evano menabrak dinding dapur kami, dan sekarang menabrak dinding toko obat.
Aneh kan, Dok? jadi tolong dokter periksa otaknya, kali aja ada kabel putus si kepalanya itu." Dafa menjawabnya dengan santai.
"Ada-ada aja, Deh. nanti om periksa." sanggah dokter itu.
Terlihat beberapa perawat menahan tawa karena jawaban Evano yang terdengar aneh.
"Dokter...! Gimana keadaan kak Evano?" Dafa bertanya yang tidak sabar menunggu kabar dari Evano.
"Nah...! itu dokternya." ucap dokter senior itu.
"Dokter... dokter.... dokter...! gimana keadaan si penabrak dinding itu?" tanya Dafa yang terlihat sedikit panik.
Dokter yang baru datang sempat tertawa karena ucapan Dafa tentang si penabrak dinding.
"Leher sebelah kanan hanya sedikit robek, tapi sudah ditangani dengan benar dan tepat oleh dokter Bagus dari puskesmas itu.
Kaki pasien terkilir atau keseleo, nanti akan di terapi untuk proses penyembuhannya. untuk pahanya yang lebam sudah dilakukan pengobatan yang tepat.
Tidak ada fatal, hanya memerlukan pengobatan saja." jelas dokter tersebut.
"Alhamdulillah...!"
Dafa mengucap syukur karena Evano sudah mendapatkan penanganan yang tepat.
"Dokter...! Ntar tolong di ganti celana pendek yang dikenakan kak Evano." pinta Dafa yang terlihat sangat serius.
"Emangnya kenapa, Dek?" tanya dokter.
"Masa warna kolor anak geng motor berwarna kuning ngak jelas, Kan norak?" jawab Dafa dengan santai.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa dari dokter itu.'
Hanya dokter dan Dafa yang tertawa, sementara para perawat dan juga dokter senior yang merupakan ayah Ramon hanya bisa menahan tawa.
"Maaf...! adikku kadang-kadang rada aneh-aneh.
Apakah kami sudah bisa menjenguk Evano? mau pamit untuk pulang." kata Asna yang meminta untuk bertemu dengan Evano.
Dokter senior itu membawa Asna dan Dafa ke ruang rawat Evano.
Sesampainya di ruang rawat VVIP tersebut, Dafa terlihat sangat mengagumi ruangan yang mewah itu.
Lalu Asna yang memegang tangan Dafa, terus berjalan menuju kasur Evano.
hahahaha... hahahaha... hahahaha.... ' Dafa tertawa.'
Dafa membuka selimut yang menutupi tubuh pria tengil itu, Dafa tertawa melihat kolor atau celana pendek yang berwarna kuning yang dikenakan oleh Evano.
"Kenapa ketawa?" tanya Evano yang terlihat kesal dan kemudian menarik kembali selimut itu.
Tapi tapi Dafa menarik selimut itu lagi dan tertawa lagi.
"Ngakunya anak motor, tapi kolor nya warna kuning, ngak sekalian warna pink." ucap Dafa dan kemudian tertawa.
Hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' Dafa dan Evano tertawa.'
"Bahagia benar sampai tertawa lepas seperti itu." ujar mamanya Evano yang sudah tiba di ruang rawat Evano.
"Kak Evano, Bu. anak geng motor tapi kolor warna pink." jawab Dafa yang menunjukkan celana pendek yang dikenakan oleh Evano.
Akhirnya Asna mengambil selimut yang di pegang oleh adiknya itu, kemudian menyelimuti Evano dengan selimut tersebut.
Setelah agak tenang, terlihat bu Hana mendekati anaknya.
"Apa yang kamu lakukan Evano? kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya bu Hana ke anaknya itu.
Bu Hana tersenyum mendengar jawaban Dafa yang spontan.
"Vano... Vano...! emangnya dinding itu salah apa?" tanya mamanya Evano.
Evano hanya bisa terdiam tapi terlihat malu, karena Dafa masih menertawai nya.
Kemudian Dafa mendekati mamanya Evano lalu memberi salam dengan mencium tangan. demikian juga dengan Asna.
"Tadi itu Dafa dan kak Asna beli persediaan lotion dan juga ice di toko obat yang tidak jauh dari rumah kami.
Kami ngak jadi beli ice cream karena kak Evano menabrak dinding dan juga tempat ice cream itu." kata Dafa yang menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Emangnya toko obat menjual lotion dan ice cream, Iya?" tanya mamanya Evano yang terlihat heran.
"Iya bu, lebih murah di toko obat itu." jawab Dafa dengan jelas.
"Bu...! tolong berikan kami uang untuk ongkos pulang, karena uang kembali beli lotion dan uang untuk beli ice cream kami gunakan untuk membayar taksi." pinta Dafa dengan ekspresi wajah yang sok imut.
"Tenang saja Dafa, nanti akan diantar oleh supir, Ya." sanggah mamanya Evano.
"Ngak usah bu, takut merepotkan ibu." kata Dafa yang terlihat sungkan.
"Ibu yang merepotkan kalian berdua, sebelumnya ibu mengucapkan terimakasih kepada Asna dan Dafa.
Terimakasih karena telah menolong Evano, terimakasih." ujar bu Hana dan kemudian memeluk Asna dan adiknya.
"Ngomong-ngomong ibu membeli kolor kuning itu dimana?" Dafa bertanya tiba-tiba saat masih di peluk bu Hana.
Lantas bu Hana melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dafa.
Nampaknya masalah kolor kuning belum selesai di bahas, tapi wajah Evano terlihat memerah karena masalah kolor kuning yang dikenakannya.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa bu Hana.'
Bu Hana gagal menahan tawanya karena kolor kuning yang dibahas oleh Dafa, sementara Asna hanya tersenyum.
Berbeda dengan Evano yang sudah memalingkan wajahnya karena malu.
Mereka tidak menyadari kedatangan pak Rohim, supir pribadinya bu Hana karena tertawa.
"Kalian berdua pulang, Iya. sampaikan salam ibu kepada kedua orangtuanya kalian.
Terimakasih karena telah menolong Evano dan sudah repot-repot seperti ini." kata bu Hana dan kemudian memberikan uang kepada Dafa.
"Ibu menyuruh Dafa untuk membeli kolor kuning, Iya." dengan polos Dafa bertanya seperti itu.
Hal itu membuat bu Hana tertawa lagi, dan kali ini Evano tersenyum melihat mama nya yang tertawa lepas seperti tanpa beban.
Asna mintak ijin pulang dan kemudian menarik tangan adiknya.
"bu...! kirim salam sama pemilik kolor kuning itu." ucap Dafa seraya mengikuti kakaknya.
Bu Hana tertawa lagi, tertawa karena ucapan Dafa barusan.
"Evano bahagia melihat mama tertawa seperti ini, seperti tidak ada beban. mama terlihat jauh lebih cantik saat tertawa seperti ini." kata Evano dan kemudian tersenyum lagi.
"Idihhhh...! si kolor kuning menggombal." sanggah mama nya.
Bu Hana dan anaknya kembali tertawa, dan kemudian tersenyum lagi.
"Evano ngambek karena mama sita handphonenya?" tanya bu Hana ke anaknya.
"Ngak, Ma. hanya apes saja hari ini." jawab Evano.
Evano juga cerita kalau Kiara hendak mempermalukan Asna saat acara ulang tahun Kiara.
Lalu Evano memuji Asna yang luar biasa dan mampu keluar dari permasalahan yang di hadapinya.
"Apa Papa menghubungi mama?" tanya Evano setelah menceritakan kejadian di acara ulang tahun Kiara.
"Ngak, kalau dia menelpon mama pasti ngak bisa. karena sudah mama blokir."
Jawaban dari mama nya membuat Evano tersenyum dan kemudian mengucapkan terimakasih karena mamanya tertawa bahagia, dan sang mama terkejut ketika anaknya mengucapkan terimakasih kepadanya.