
Dafa meronta-ronta saat di gendong oleh Evano, hingga ke meja makan dan Evano baru melepaskan Dafa, setelah mendapatkan kursi.
"Kak, Asna. kenal ngak sama orang ini?" tanya Dafa kepada kakaknya.
"Baru kenal, anak baru stok lama." jawab Asna.
Mereka kemudian tertawa bersama karena jawaban dari Asna, lalu bersama-sama sarapan sebelum beraktivitas.
Selesai makan Asna, langsung membereskan meja makan yang di bantu oleh Dafa, sementara mama mereka harus berangkat kerja terlebih dahulu.
Asna dan adiknya sudah selesai mencuci piring dan kemudian kembali ke arah meja makan.
Lalu bersiap-siap berangkat sekolah, Papanya mengeluarkan motornya sementara Dafa mengeluarkan sepeda miliknya.
"Nak, Evano. berangkat sama Dafa ya, tentunya naik sepeda." ucap papanya Asna.
Evano mengganguk dan langsung mengambil sepeda dan meminta Dafa duduk dibelakangnya karena Evano lah yang akan mendayung sepedanya.
Setelah salin ke papanya Asna, lalu Evano mendayung sepeda.
"Ayo! dayung terus." ujar Dafa yang berteriak memberikan semangat kepada Evano.
Evano terus mendayung sepedanya, dengan semangat dan tiba-tiba Asna bersama Papanya sudah mendahului mereka.
"Kejar mereka...!" teriak Dafa.
"Ayo, kejar...! teriak Evano yang menyahut ucapan Dafa.
hahahaha... hahahaha... hahahaha... ' suara tawa Evano dan Dafa.'
Mereka berdua tertawa seraya mengejar Asna yang di bonceng oleh papanya.
Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh dari sekolah, oleh karena itu Dafa. memilih naik sepeda ke sekolah.
Akhirnya Dafa, sudah tiba di sekolahnya dan Evano masih tersenyum melihat Dafa yang tersenyum.
"Gimana kakak menghubungi mu, kalau mau ngaji di masjid itu?" tanya Evano dengan begitu serius.
"Mintak saja nomor handphone kak, Asna. nanti biar kakak yang memberitahukannya." jawab Dafa.
Kemudian pamit masuk kedalam sekolah seraya menuntun sepedanya.**
Dari arah sebuah mobil mewah, yaitu mobil yang dikendarai oleh Kiara dan gengnya. mereka melihat Evano, yang sangat akrab dengan Dafa.
"Evano, punya adik cowok ya?" tanya Amira yang terlihat penasaran.
"Kayaknya enggak, Deh. tapi siapa bocil itu, Ya! kenapa Evano terlihat akrab sekali?" ucap Kiara, yang begitu sangat penasaran.
Pernyataan yang nihil jawaban, lalu kelompok gadis modis itu. memilih untuk masuk ke sekolah.
Kiara dan gengnya menunggu Evano, di pintu masuk sekolah. tetapi yang di tunggu-tunggu tidak kunjung datang.
Sepertinya Evano menuju koperasi sekolah, untuk membeli dinas untuknya. karena dari rumah Asna, dirinya tidak memakai dinas.
Bosan menunggu, akhirnya Kiara dan gengnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan.
Akan tetapi Kiara, tidak menemukan Evano disana.
"Hei, cewek kampung. liar Evano?" Kiara bertanya dengan menghina Asna.
"Ngak." jawab Asna singkat.
Karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Kiara kembali ke kelompoknya. terlihat Kiara sedang bergurau dengan kelompoknya.
Tiba-tiba...
tasssss.... ' suara bungkus plastik yang berisi pakaian dilempar '
Evano melemparkan plastik yang berisi pakaian ke depan Asna, begitu terkejut Asna sampai tasnya dan plastik tersebut jatuh dari kursi citos.
"Pakaian bokap, Lo. sampaikan rasa terimakasih ku karena bersedia meminjamkan pakaian lusuh itu untuk aku pakai." ucap Evano dengan penuh kesombongan.
Seketika itu juga kedua bola mata Asna, berkaca-kaca dan hanya bisa terdiam membisu.
Lalu Asna mengambil tasnya yang di lantai dan berikut plastik tapi...
plak... prassss... ' suara plastik yang berisi pakaian karena di tendang.'
"Iuhhh...! masih jauh lebih bagus, pakaian tukang kebun di rumahku." ujar Kiara dengan sombongnya.
Hahahaha... hahahaha... hahahaha... hahaha... ' suara tawa dari geng Kiara.'
Hanya Kiara dan gengnya yang tertawa, sementara yang lainnya terdiam. lalu Asna kembali mengutip pakaian tersebut dan memasukkannya kedalam tasnya.
"Good morning everyone." sapa bapak guru yang langsung dari Inggris tapi sudah berkewarganegaraan Indonesia.
"Good morning, Sir!" jawab para siswa serentak.
Semuanya kembali tertib untuk mengikuti pelajaran bahasa Inggris.
"Asna, what's up? why you so sad?" tanya pak guru itu.
"Nothing sir, but eyelashes fall on to my eyes, and it's tradition that someone misses Asna." jawab Asna seraya tersenyum.
(Ngak apa-apa pak, hanya saja bulu mata jatuh ke mata ku, dan menurut tradisi bahwa seseorang merindukan Asna ).
"Nice your jokes." Sanggah pak guru.
hahahaha... hahahaha... hahahaha...hahaha... ' suara tawa'
Satu ruangan tertawa mendengar jawaban Asna yang asal, walaupun itu jawaban adalah sebuah kebohongan dari mulut Asna.
Tapi kesedihan Asna, langsung hilang saat pelajaran di mulai. kemudian sangat aktif dalam hal mengikuti pelajaran.
"Asna, bisakah kamu mengajari Evano untuk bicara bahasa manusia?" tanya pak guru bahasa Inggris.
Hahahaha... hahahaha... hahahaha... hahaha..
Cara ucapan pak guru yang lamban, dan khas orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia.
Pertanyaan dari guru itu, disambut tawa oleh para murid, karena di kelas tersebut hanya Evano yang tidak bisa sama sekali berbahasa Inggris.
Sementara Asna, siswi yang paling lancar berbahasa Inggris. itulah sebabnya pak guru meminta Asna untuk mengajari Evano.
"Thank you, but no for Evano. I'm giveup. Nania doesn't have any special skills to teach non-humans." jawab Nania.
(Terimakasih pak, tapi aku menyerah untuk mengajari Evano. karena Nania, tidak memiliki keahlian untuk mengajari yang bukan manusia.)
Hanya Evano dan Kiara yang tidak tertawa, karena mereka tidak tahu arti apa yang di ucapkan oleh Asna.
Sepertinya pak guru itu, paham akan keadaan. sehingga tidak memaksa Asna untuk mengajari Evano.
Lanjut lagi pelajaran dan terasa waktu sudah habis dan akan lanjut pelajaran selanjutnya.
tak... ' suara kaki citos yang ditendang '
Kiara menendang citos yang di duduki oleh Asna, ketika guru bahasa Inggris itu keluar dari kelas.
"Kenapa Evano, memakai pakaian bokap, Lo?" tanya Kiara yang terlihat penasaran dan emosi.
Tapi pertanyaannya tersebut tidak dijawab oleh Asna, karena guru biologi sudah tiba di kelas dan menyapa para murid.
Setelah dua jam lebih dan pelajaran biologi akhirnya selesai dan saatnya istirahat.
Asna langsung di kelilingi oleh Kiara dan gengnya. nampaknya mereka ingin mengintrogasi Asna.
"Ir...Irvan!" ucap seorang siswi dengan napasnya yang tersengal-sengal.
Hal itu membuat perhatian Kiara dan gengnya teralihkan.
"Ngomong yang benar, Irvan. kenapa?" tanya Amira yang terlihat cemas.
Amira membenci Asna, karena Irvan. menyukai Asna.
"Irvan, ditangkap polisi tadi malam bersama tiga gengnya." ungkap siswi itu.
Ketika Evano kebenarannya dan Ramon, membenarkan ucapan siswi tersebut. Evano sangat mempercayai Ramon, dan selalu mengetahui berita terupdate.
Ternyata Irvan tertangkap karena menabrak mobil seseorang yang sudah hampir berhasil lolos dari kejaran polisi pemburu.
Setia kawan dalam geng dan membantu Irvan, dan akhirnya mereka ikut tertangkap juga dan saat ini sedang berada di kantor polisi.