Lady Engagement

Lady Engagement
Part 6: He’s Back



Ntah, hari apa atau bulan ke berapa. Tapi yang pasti, hari itu, Ollie datang menepati janjinya.


Tepatnya saat aku mendengar suara kereta kuda yang samar-samar menelusup masuk ke ruang belajarku. Awalnya aku mengira itu adalah Ayah ku yang baru pulang dari kota namun, saat aku mendengar suara ketukan di jendela ruang belajarku, aku tau itu Ollie.


Aku segera menarik ujung gaunku lalu meninggalkan guruku yang sibuk memperkenalkan para tokoh filsafat yang telah udzur dan berlari membuka jendela besar dan bertemu dengan nya.


"Ollie! Kau kembali!" Pekikku girang lalu menggapai bahu pria yang kini jauh lebih tinggi dariku itu


"Victoria, my dear. Hati-hati, kau akan jatuh," ucapnya bersamaan dengan tangannya yang menangkapku dan memberiku pelukan hangat


Aku menghirup sebanyak mungkin wangi rambut Ollie yang kini jauh lebih panjang dari sebelumnya.


"Kau wangi sekali, Ollie!" Kataku saat kami melepaskan pelukan kami


Ia tersenyum, senyum yang rasanya sudah lama sekali tidak aku lihat. Melihatnya dengan jarak sedekat ini membuat ku bisa dengan leluasa memperhatikan wajahnya yang sedikit berubah.


Rambutnya jauh lebih rapi, wajahnya lebih dewasa dari yang kuingat, "kau tumbuh dengan cepat ya Ollie," kataku tak bisa menahan mulutku untuk mengatakannya


Ollie tertawa, dan baru kusadari, suaranya berubah. "Aku terkejut, ternyata Victoria kecilku tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang cantik," katanya membuat pipi ku memerah dengan mudah


Aku memukul bahunya menahan malu dan ia malah tertawa terbahak-bahak. "Oh Tuhan, ampuni aku karena telah membuat seorang wanita perkasa menjadi malu-malu," katanya menggodaku membuat pipiku semakin memerah


"Ollie!!!"


Momen indah kami di interupsi begitu saja dengan kedatangan adik-adikku yang masuk begitu saja ke ruang belajarku dan langsung melompat dari jendela untuk memeluknya. Untung saja, Ollie sigap menangkap Louis dan menyelamatkan kaki adikku dari cedera akibat jatuh dari ketinggian satu meter


"Kapten kecilku ternyata sudah besar sekarang!" Kata Ollie sambil tertawa


Aku menikmati pemandangan di depanku sambil berpangku tangan dan sesekali ikut tertawa saat Alex, Louis, dan Ollie mulai bertingkah layaknya bocah laki-laki dengan menarikan tarian ala mereka


"Victoria, apa kau tidak ikut?" Tanya Alex menghentikkan tarian mereka


Aku mencuri pandang ke arah guru filsafat ku yang tampaknya tidak peduli lalu dengan hati-hati aku memanjat jendela itu dan melompat ke luar.


"Well, sepertinya jiwa perkasa-mu tidak hilang," ucap Ollie mengomentariku


"Bagaimanapun aku adalah Lady Sir geng kita," kataku lalu ikut bepartisipasi dalam tarian persahabatan ala kami


Rasanya, kedatangan Ollie benar-benar membuat hari ini spesial. Kami mendapatkan izin dari Ibu untuk pergi ke kota, lalu berjalan-jalan dan menikmati manisan buah persik sembari menyusuri jalanan yang penuh dengan etalase toko di kanan dan kiri kami.


"Ollie, Louis ingin lihat ikan!" Ucap Louis lalu berlari menuju sungai yang tak jauh dari kota


"Louis! Tunggu!" Alex segera berlari mengejar Louis dan menyisakan aku dan Ollie berdua


Berada di sebelah Ollie begitu dekat rasanya membuat hatiku berdetak tak karuan. Oh Tuhan, ada apa denganku? Ucapku pada diriku sendiri sambil memegang pipiku yang memerah


"Sudah lama rasanya aku tidak berjalan-jalan ke kota," ucap Ollie mengagetkan aku yang sedang sibuk dengan pikiranku sendiri


Aku tersenyum lalu mensejajarkan langkah kami, "Ollie," panggilku


Ia berhenti lalu menatapku dengan senyum khas dirinya. Melihat senyum itu, aku menahan degub jantungku yang tak mau berkompromi. Aku membalas senyumnya sambil mengumpulkan keberanianku sebelum berkata


"Terima kasih telah memenuhi janjimu," kataku lalu mencuri kesempatan untuk mencium pipinya


Ollie diam di tempatnya. Ia menatapku dengan wajah yang tak bisa ku definisi kan. Namun, karena sudah terlanjur malu, aku segera menjauh dari Ollie dan menyusul Alex dan Louis yang sudah sampai di tepi sungai


Saat Ollie telah sampai di pinggir sungai, ia hanya terus diam seperti saat aku menciumnya tadi.


Aku menahan rasa penasaranku sampai kita pulang ke rumahku kembali dan usai makan malam bersama keluarga Monteque, aku memberanikan diriku untuk menghampirinya yang sudah mulai berkemas untuk pergi


"Ollie, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku berbisik sambil mengintip keluarga kami yang sedang bercengkrama di ruangan sebelah


Ollie menatapku, lagi-lagi dengan tatapan yang tak dapat aku artikan. "Aku tidak tau," jawabnya terlihat bingung lalu melanjutkan memakai jasnya kembali


Aku menahan tangannya yang hendak memakai jasnya lalu saat matanya bertemu denganku, aku membuka mulutku kembali


"Aku tidak tenang melihatmu seperti ini. Aku hanya ingin berterima kasih padamu tadi. Apa aku tidak boleh menciummu? Apa kau tak suka bila adik kecilmu mencium pipimu?" Tanyaku menahan tangis


"Tidak. Bukan seperti itu, Victoria. Aku—"


Ollie berhenti saat seorang pelayan keluar dari ruang makan membawa nampan, lalu untuk pertama kalinya aku melihat Ollie yang amat marah.


Ia mengepalkan tangannya dan memukul dinding di sebelahnya sementara matanya memerah.


Aku menarik kembali tanganku yang memegang lengannya dan menunduk. Ollie marah padaku


"Seorang adik kecil tidak mencium kakaknya seperti itu, Victoria," ucapnya terlihat begitu menyedihkan


Aku mendongak dan menatap manik Ollie yang melihatku dengan tatapan yang tidak bisa aku pahami


"Louis mencium pipi ku setiap ia ingin tidur, Alex juga begitu. Terus kenapa aku salah hanya karena aku mencium pipimu?" Tanyaku tak paham


Louis bahkan biasanya tidur denganku kalau hujan badai membangunkannya dari tidur. Ia akan masuk ke kamarku dan tidur bersamaku hingga pagi. Tapi, kenapa mencium pipi Ollie dilarang?


"Kau tidak mengerti, Victoria. Aku seorang pria, dan.. dan.."


Ia tampak sulit merangkai kata-kata. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ollie yang kukenal adalah Ollie yang suka berpidato di depan kami layaknya Raja Britania Raya


"Ollie?" Panggilku saat aku melihatnya keringatan


Ia hendak berbicara saat seseorang lagi-lagi menginterupsi kami namun kali ini, orang itu adalah Bibi dan Paman Monteque


"Roland? Apa yang kau lakukan? Ayo pergi!" Ujar Bibi Emily


Ollie memandangku sekilas sebelum pergi mengikuti Ibunya.


Keesokan harinya, aku tidak bisa menemukan Ollie dimanapun dan hanya mendapat kabar bahwa Ollie telah pergi kembali ke sekolahnya.


Rasa penasaranku kembali dan aku memutuskan untuk menemui Bibi Emily yang kebetulan sedang minum teh dengan Ibuku


"Bibi Emily, bisakah aku berbicara dengan Bibi sebentar?" Ujarku menginterupsi acara minum teh Ibu


Bibi Emily meletakkan cangkirnya lalu menghadapkan tubuhnya padaku, "ya, ada apa, anakku?"


"Kenapa Ollie tidak pamit padaku, Bi?"


Bibi Emily mengerutkan alisnya sebelum mengambil tanganku yang berada di sisiku lalu membawaku mendekat padanya, "apa Ollie dan kau sedang berkelahi?"


Aku menggeleng, "tidak, tapi Ollie bertingkah aneh semenjak aku mencium pipinya,"


Bibi Ollie mengangkat kedua alisnya sebelum membagi pandangannya dengan Ibuku yang juga menatapku dengan senyuman


"Oh, kenapa tidak kau tanya saja sendiri dengan Ollie? Kirimlah surat di alamat ini dan semoga saja Ollie mau membalasmu," Bibi Emily menuliskan alamat di secarik kertas dengan pena yang berada di atas meja lalu memberikannya padaku


"Terima kasih, Bibi," kataku sebelum pamit dan kembali ke kamarku untuk segera menuliskan Ollie surat


Namun, baru saja aku menyentuh lantai marmer ruang tamu mansion kami, guru dansa ku telah tiba.


Setelah kegiatan belajar dansa ku usai, akhirnya aku bisa menuliskan surat untuk Ollie.


Aku segera berlari kembali ke kamar setelah makan malam dan membersihkan diri, lalu membawa lentera yang berada di atas nakas dan menaruhny di meja rias.


Aku telah menyiapkan kertas serta pena lalu mulai menulis dear Ollie diatas kertas.


Setelah percobaan yang kesekian kalinya, akhirnya surat ku telah rampung.


Kupandangi lagi tiga baris kata-kata yang kutulis sebelum memasukkan nya ke dalam amplop dan meng-stempelnya dengan cap keluarga Maxwell.


"Sincerely, your dearest cousin, Victoria," bacaku membaca tulisan akhir di suratku


***


TBC