
"Sometimes things need to be let go of. If it's meant to be, you'll find each other again,"
***
"Selamat siang, my dear Victoria,"
Aku memberi salam pada Nenek Margaret yang berdiri menyambutku, "selamat siang, your grace. Semoga kesehatan dan kesejahteraan selalu terlimpah kepada anda,"
"My.. my... mulai sekarang kau bisa memanggilku Nenek, my dear,"
Ketika aku hendak memprotes karena protokol istana yang sangat keras terhadap sopan santun, Nenek Margaret mengangkat tangannya.
"Aku memaksa,"
Mau tidak mau aku pun mengangguk walaupun ada sedikit rasa tak nyaman melihat beberapa selir dan wanita bangsawan lain cemburu dengan kedekatan kami.
"Senang rasanya bertemu denganmu kembali, my dear Victoria. Maafkan aku tidak dapat menghadiri pesta pertunanganmu dikarenakan tubuh keriput ini harus beristirahat di dalam kamar,"
Aku menggeleng, "merupakan suatu kehormatan untukku bisa berjumpa dengan anda kembali, Nenek,"
Nenek Margaret tak melepaskan genggaman tangan kami sampai ia menepuk kursi kosong di sisinya sambil berkata, "kemarilah cucuk ku, tolong temani aku,"
Aku mengamati sekitarku sebelum duduk di antara Nenek Margaret dan ketiga istri Duke Charles yang menatapku dengan menahan gigi mereka yang hendak bergemelatuk kesal.
Ntah kenapa, sejak pertemuan kami di malam Henry membagikan hadiah-hadiah untuk para rekan dan kerabatnya, ketiga wanita itu selalu menatapku dengan tatapan membunuh saat aku keluar begitu saja dari tempat itu.
Aku memutuskan untuk mengabaikan mereka dan melirik ke arah kepala meja panjang ini. Disana, Henry sedang menatapku dengan tangan yang memangku dagunya.
Mata kami bertubrukan tanpa ada satupun yang memutuskan untuk menyudahinya. Mata itu mengingatkanku akan kejadian kemarin malam. Kira-kira, apa dia ingat apa yang di lakukannya sebelum tertidur pulas?
"Dari dulu aku selalu yakin kalau kau akan menikahi cucukku, my dear Victoria. Terima kasih telah menerima lamarannya, aku ikut senang saat ia akhirnya menemukan belahan jiwanya,"
Aku segera mengalihkan mataku kearah Nenek Margaret yang mengenggam tanganku, ia tersenyum padaku menampakkan jejeran giginya yang bisa dihitung dengan jari.
Aku balas meremas tangan hangatnya karena bibirku tak bisa berkata apa-apa. Semua ketulusan yang terpancar dari bibir Nenek Margaret seakan mengingatkanku akan kejadian tadi pagi.
Apa perlakuanku sudah keterlaluan? Mengingat buku yang kubaca mengenai politik dan hukum di kerajaan ini selama berabad-abad, segala perlakuanku selama ini pada Henry pantas di hadiahi dengan kepalaku tergantung di luar tembok istana.
Namun, tidak ada yang lebih membuatku terpukul selain fakta bahwa aku tidak pernah memikirkan perasaan Henry terhadap semua perlakuan ku. Perasaannya ketika harga diri seorang Raja Britania Raya tergores begitu saja ketika aku meninggalkannya tidur di lantai marmer semalam suntuk.
Terlebih lagi, aku tidak pernah menyadari betapa baiknya perlakuan Henry padaku sampai aku melihatnya tersenyum padaku seperti mengatakan bahwa ia bahagia melihatku berada di ruangan yang sama dengannya.
Kenapa setelah perlakuan kasarku padanya, setelah semua makian kasarku, semua amarahku yang kulampiaskan padanya. Kenapa pria itu masih tetap tersenyum padaku ketika mata kami bertemu?
Mendadak dadaku terasa sesak. Perasaan bersalah menggerogotiku. Aku adalah wanita yang jahat untuk pria tulus sepertinya. Ya benar, pria sebaik dirinya tidak pantas mendapatkan wanita kasar sepertiku.
"Cucukku, ada apa? Apa makananya tidak enak?"
Mendengar tawa Henry bersama Paman Charles dan ketiga istrinya, tanpa bisa kucegah, air mata ku menetes. Aku dengan cepat mengusapnya. Namun, air mata itu tetap keluar tak peduli seberapa banyak aku mengusapnya dengan kasar.
Nenek Margaret terus mengelus tanganku hingga suara kursi yang berdecit membuat perhatian Nenek Margaret teralihkan dariku. Aku tak mampu mengangkat kepalaku ketika suara Henry terdengar dari balik punggungku
"Nenek, maafkan ketidak sopananku. Bolehkah aku meminjam calon istriku untuk beberapa saat?"
"Tentu saja, sayang. Tidak ada yang dapat menghalangimu,"
Henry menarik lenganku dengan sekali sentakan membuatku mau tak mau beranjak dari kursi dan mengikutinya. Dua puluh pasang mata yang menatap kami keluar adalah pengiring ku keluar dari ruang makan.
Bibirku bergetar menahan isak tangis kala merasakan genggaman erat Henry yang membawaku terus menjauh.
Badan tegap Henry seakan tak memperdulikan betapa kerasnya ia menggenggam tanganku hingga akhirnya ia berhenti di dalam labirin yang berada tepat di samping istana Buckingham
"Bisa katakan padaku alasanmu mempermalukanku di depan keluarga dan para kolega ku?"
Aku mengadah, menatap manik biru Henry tak percaya. Inikah yang membuatnya semarah ini? Dia malu terhadapku?
Henry mengacak rambutnya. Ia mengerang frustasi, "Apa sebegitu bencinya kau menjadi tunanganku? Apa ciumanku membuatmu merasa jijik denganku hingga aku harus tidur di bawah kakimu? Apa duduk bersamaku membuatmu merasa tak nyaman hingga kau menangis?"
Melihat wajah terlukanya, air mataku semakin deras. Isak tangis lolos dari bibirku.
"Demi Tuhan, Victoria! Berhenti menangis! Kau membuatku gila!"
Aku tak dapat berkata-kata kala melihat wajah terluka Henry. Matanya memerah, tangannya bergetar. Aku hendak meraih tangannya yang bergetar itu. Namun, Henry menjauh, ia menghindariku.
"Apa sedetik saja kau bisa memikirkan perasaanku seperti kau memikirkan pria itu?"
Apa Henry mengetahui segalanya? Apa Henry mengetahui hubunganku dengan Ollie? Tapi sejak kapan? Kenapa dia tidak pernah mengatakan apapun?
"Henry aku—"
"Tidak. Apapun yang kau katakan aku tidak akan mendengarkannya. Kalau kau berharap aku akan membatalkan pertunangan ini. Simpan pikiranmu. Kau tidak akan pergi dari tempat ini sampai waktu pernikahan kita tiba,"
Setelah mengatakan kalimat penuh penekan itu, Henry pergi begitu saja.
Aku memegang dadaku yang sesak. Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku tak pernah ingin menyembunyikan hubunganku dengan Ollie. Aku selalu mencari kesempatan untuk memberitahunya perasaanku yang sesungguhnya.
Tapi, sekali lagi, aku seharusnya sadar. semua ini sudah terlambat. Henry sudah muak denganku. Dengan wanita kasar yang hanya bisa membuatnya terluka.
Ya, sudah dari dulu aku yakin bahwa hubungan tanpa pondasi selama bertahun-tahun diantara kami memang seharusnya tidak terjadi.
Seorang Raja tidak seharusnya menikahi wanita berdarah Perancis yang tidak membawakan keuntungan apapun untuknya. Baptiste benar, aku tidak pantas untuk Henry.
***
TBC