Lady Engagement

Lady Engagement
Part 32: Mourning



"It's sad, but life is full of sudden goodbyes,"


-source


***


Setelah acara pemakaman Ayah, rumah ini terasa bagaikan rumah hantu. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang makan, tidak ada satupun yang dapat tersenyum.


Berminggu-minggu terlewati, Ibu akhirnya kembali membaca koran pagi. Dan Louis perlahan mulai memasukkan makanan ke mulutnya


"Bisa aku cicipi pancake mu?" tanyaku melirik pancake yang terlihat enak di piring Louis


Adikku seperti biasa tidak menjawab, ia hanya menyodorkan piringnya


Aku mengambil satu suapan besar ke mulutku lalu mengambil satu suapan lagi untuk Ibu


"Ibu, kau mau?"


Ibu mengalihkan mata nya dari koran pada garpu yang mengambang diantara kami, ia menggeleng


Aku menarik tanganku kembali dan melahapnya, lalu menyodorkan piring pada Louis


"Bolehkah aku—"


"Tidak! Tidak ada lagi yang boleh keluar dari rumah ini!"


Ibu tak lagi sama seperti yang dulu-dulu. Ibu berubah sangat protektif setelah kematian Ayah. Aku tidak menyalahkannya, ia pasti masih berduka. Namun, aku tidak tahan hidup seperti tahanan penjara di rumah besar ini! Aku butuh udara segar!


"Very well," jawabku lalu beranjak dari kursiku dan pergi ke kamarku


Maria yang melihatku menaiki tangga segera mengikutiku, "apa dilarang lagi?"


Aku membuang tanganku ke udara, "kau sudah tau jawabannya,"


Aku menutup pintu kamarku dengan keras saat kami sudah sampai disana. Aku memandang sekelilingku sebelum terduduk di kasur dengan frustasi


"Aku tidak tahan hanya berdiam diri di ruangan ini dengan kanvas bodoh dan cat kering itu! Aku harus keluar, Maria! Harus!" Tekanku penuh keyakinan


Maria menatapku tanpa mengatakan apa-apa membuatku mengerang frustasi. Aku harus keluar atau aku akan menjadi gila disini.


"Nona, anda mau kemana?"


Aku mengangkat tanganku, menyuruhnya untuk tidak mengikuti ku, lalu berjalan keluar kamar dan berjalan melewati ruang makan yang kini diisi oleh Ibu dan tamunya.


Aku mengambil kesempatan ini untuk berjalan menuju pintu samping. Namun, sewaktu aku melewati kamar Louis, kakiku berhenti bergerak.


Mataku tak dapat berpaling dari celah kecil pintu kamar nya yang menampakkan Louis sedang merakit sesuatu yang sangat asing di mataku.


Kuputuskan untuk memenuhi rasa penasaranku sebelum keluar dari rumah ini


"Hey, apa yang kau lakukan?" Tanyaku ketika kakiku bergerak mendekatinya


"Darimana kau belajar membuat semua ini?" Tanyaku lagi yang kini tak di gubrisnya.


Baiklah, dia kembali memainkan permainan bisu nya. Aku tidak akan memaksanya untuk membuka mulut, lebih baik aku mencari taunya sendiri


Ada tiga buah lempeng tembaga, kaca, beberapa potongan sesuatu berwarna hitam, setumpuk buku yang tidak kupahami, dan terakhir gambar kubus dimana-mana.


"Demi Tuhan, apa yang sebenarnya kau kerjakan, Louis? Jika kau tidak memberitahu ku akan ku adukan pada Ibu,"


Louis kembali mendongak menatapku, ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya meletakkan alat-alat bertukangnya di lantai


"Kubus di sudut sana namanya kamera, dan yang akan kubuat adalah kodachrome. Cara kerjanya itu, perak halida ini—" Louis menunjuk lempengan logam di kiri kami—"akan mengalami reaksi kimia begitu diekspos ke cahaya. Reaksi tersebut menghasilkan gambar laten yang belum terlihat di lembaran film. Gambar itulah yang kemudian dimunculkan lewat proses pencucian dengan cairan kimia," ia lalu menunjuk wadah berisi air di ujung kamarnya


Kamera? Kodachrome? Perak Halida? Bahasa apa yang bocah ini gunakan?


Louis menghela napasnya sebelum mengacak rambut panjangnya, "intinya, aku sedang membuat alat untuk memudahkan kita mengambil setiap momen di hidup ini agar tidak ada satupun yang terlewatkan,"


Sekarang aku mengerti.


"Oh! Menarik sekali, aku tidak menduga kau menyukai hal-hal seperti ini,"


aku lebih tidak mendunga dia berbicara panjang lebar padaku.


"Apa kau tau Joseph Nicephore Niepce?"


Aku mengambil tempat di sisinya sebelum menggeleng.


Louis memberiku pahat sebelum tersenyum dengan bangga,


"Dia adalah pencipta plat logam berlapis Bitumen yang sensitif terhadap cahaya untuk menangkap foto pertama di dunia pada tahun 1827! Kameranya bahkan hanya alat sederhana berupa camera obscura," ujar Louis berapi-api, seakan ia tersenyum dan berbicara tidak lah cukup untuk membuatku terkagum-kagum


"Apa kau selama ini menghabiskan waktu untuk membuat semua ini?"


Louis mengangkat bahunya acuh, "Baptiste kadang membantuku kalau dia tidak sibuk berperang,"


Baptiste? Pria berhati batu itu?


"Oh, Victoria! Kau harus mencoba hasil penemuan nya! Tunggu disini, akan ku perkenalkan mahakarya Sang Legenda,"


Aku menatap punggung lebar Louis yang beranjak dari sisiku menuju salah satu lemari di sudut kamarnya. Melihatnya tumbuh besar di ruangan ini dan menghabiskan waktunya membuat barang-barang ini sudah lebih dari cukup untukku. Setidaknya, adik bungsuku itu tidak berlarut dalam kesedihan seperti Ibu. Dan setidaknya, ada satu orang di keluarga ini yang dapat tersenyum.


Niat awalku untuk kabur dan berkuda keluar sana seketika sirna melihat Louis menertawaiku saat ia melihatku berpose bak patung buatan Praxiteles yang terkenal akan kecantikannya itu.


"Kau terlihat lebih mirip dengan ikan lumba-luma ketimbang Aphrodite," ucapnya di sela-sela tawanya


Dasar.


***


TBC