Lady Engagement

Lady Engagement
Part 34: Leaving



"Patience is, when you supposed to be mad, but you choose to understand,"


-Hailey Bieber


***


Bukan main lajunya tangan kanan Henry itu memacu kudanya, kalau saja aku tidak pintar mengambil jalan pintas, sudah dapat dipastikan aku hanya akan melihat tapak kaki kudanya saja. Jarak diantara kami terpangkas dengan mudahnya hingga sekarang akulah yang memimpin


"Bersiaplah untuk kalah, Baptiste!" Pekik ku dengan sombongnya


Kami telah memasuki area hutan, dan dua puluh meter di depan sana, aku akan menang. Ah, mudah sekali!


"Victoria Heart Maxwell akan mengalahkan Sang Ksatria Baptiste!" Pekikku kegirangan setelah mengintip ke belakang punggungku dan tak menemukan Baptiste dimanapun


Sekonyong-konyong, dari arah kiri ku, seekor kuda melompat memotong jarak hingga membuat kudaku kaget dan meringkih.


"Dasar curang!"


Aku berusaha mengendalikan kudaku sementara Baptiste telah melaju di depanku bagaikan angin


"Ayolah Roger! Seorang Maxwell tidak pernah kalah!" Seru ku pada kudaku lalu menarik tali kekangnya


Roger mengamuk, ia tak mau dikendalikan. Ia terus meringkik dan meloncat hingga membuatku kehilangan keseimbangan dan hal terakhir yang aku lihat adalah rintik hujan yang turun mengenai wajahku


***


Kesadaranku kembali saat aku mendengar suara seseorang marah. Kupaksa mataku terbuka dan hal selanjutnya yang kurasakan adalah punggungku yang ngilu


"Hati-hati, tubuhmu masih belum beradabtasi,"


Aku memandang perban yang melilit sekujur tubuhku lalu mengalihkan tatapanku pada Henry


"Bagaimana kau—"


"Ibumu yang mengutus Paul padaku. Aku tidak dapat duduk dengan tenang ketika mendengar wanita bodoh melukai dirinya sendiri,"


Aku hendak protes namun, Henry kembali membuka mulutnya, "kemana otak pintar yang selama ini selalu kau banggakan? Apa mengingat waktu makan pun kau tidak bisa? Joki macam apa yang berpacu dengan perut kosong?"


Bangun tidur dan diomeli adalah satu-satunya alasan kenapa aku selalu ingin tidur lebih lama.


"Baik, Ibu," sindirku.


Dari sudut mataku, dapat kulihat Baptiste yang menunduk tajam menatap karpet di kakinya sementara punggungnya menempel di dinding. Tampaknya tangan kanan Henry itu dimarahi habis-habisan


"Aku akan mencabut hukuman matimu karena sekarang Victoria telah sadarkan diri. Aku harap kau menyadari dimana posisimu dan lebih bijak dalam bertindak,"


Aku menatap Henry tak percaya. Pantas saja Baptiste bisa ketakutan setengah mati, pria ini benar-benar pandai menggunakan kekuasaanya.


"Terima kasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia,"


Setelah melihat Henry memberikan kode untuk Baptiste pergi dan menyisakan aku dan Henry seorang


"Apa kau baik-baik saja?"


Aku mendongak dari kegiatanku mengecek luka-luka di tubuhku lalu tersenyum pada pria yang pucat pasi di hadapanku itu


"Tenanglah! Badan ku hanya memar-memar saja, aku tidak akan mati hanya karena jatuh dari kuda,"


Aku melihat Henry yang meremas lututnya sebelum ia memberiku tatapan marah, "kau tidak bisa bercanda begitu saja tentang kematian di saat kau tidak sadarkan diri selama tiga puluh delapan jam, Victoria,"


Aku tertegun. Apa aku tidur selama itu?


"Well, aku merasa sehat sekarang. Kau tidak perlu khawatir," balasku sedikit berbohong dan memutuskan untuk melihat sekeliling kamar untuk menutupinya


"Ibu dan Louis telah tidur satu jam yang lalu, mereka menitipkanmu padaku,"


Tidak ada yang memulai percakapan setelahnya. Aku menyibukkan diriku mengamati kembali perban-perban yang begitu tebal melapisi kulitku sementara Henry. Ntahlah, aku tidak begitu yakin dia sedang apa. Rasanya begitu canggung berduaan bersamanya mengingat terakhir kami berdua, terjadi sesuatu di luar ekspetasiku.


Walaupun mulut pedasnya tidak selaras dengan matanya yang tampak begitu khawatir, aku bisa katakan ia peduli padaku. Dengan jarak sedekat ini, dapat kulihat peluh menyucur deras dari pelipisnya, pakaiannya kusut, dan rambutnya adalah satu-satunya aspek yang enak dipandang


"Aku ingin makan sandwich buatanmu,"


Henry tersenyum, aku bingung. Ia membunuh jarak diantara kami, dan belum sempat aku menolaknya, ia mencium keningku, "perutmu butuh yang hangat," ujarnya sembari melepas ciumannya dari keningku


Aku pura-pura kesal dengan menyilangkan kedua tanganku di depan dada, aku tidak ingin Henry mendengar degub jantungku yang meledak-ledak. Henry tertawa, ia mencubit pipiku sebelum berjalan keluar


Rasanya aneh melihat Henry ada di kamarku. Hatiku rasanya menghangat terhadap setiap perlakuan baiknya padaku. Ia mengingatkanku pada Ayah. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku mengunjungi makam beliau. Seharusnya, bunga-bunga disana sudah layu dan harus diganti. Sudah sebulan lamanya beliau meninggalkan kami


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Aku terperanjat ketika suara Henry menginterupsiku. Ia telah duduk di kursinya kembali yang ntah sejak kapan dengan semangkok bubur gandum di tangannya


"Tidak ada, hanya perlakuanmu mengingatkanku akan Ayahku,"


Wajah Henry berubah, ia terlihat begitu sedih sekarang, "maafkan aku Victoria. Aku seharusnya menemanimu di saat pemakaman—"


"Shush! Omong kosong! Negara ini jauh lebih membutuhkanmu daripada aku. Lagipula, sekarang kau disini dan itu sudah lebih dari cukup untukku,"


Aku tak dapat mempercayai diriku sendiri mengatakan semua itu dengan lemah lembut pada pria yang dulu pernah ku cekik. Sepertinya kepalaku tadi membentur tanah


"Terima kasih, V. Sekarang, bantu aku dengan membuka mulutmu," Henry mengangkat sendok berisi bubur gandum ke hadapanku. Aku akan membiarkannya merawatku bagaikan anak bayi kali ini, setidaknya dengan begitu ia tidak akan mengkhawatirkanku lagi


Tanpa bisa kucegah, suapan demi suapan ku terima dengan senang hati sampai aku teringat tentang sesuatu, "Apa kau tau bagaimana kabar Alex? Ketika aku mengunjungimu di camp, aku berencana untuk bertemu dengan Alex. Sudah satu setengah tahun ia tidak mengirim kabar kepada kami bahkan ia tidak datang ke pemakaman Ayah,"


Aku memperhatikan gerak-gerik Henry yang menaruh mangkuk berisi bubur gandum di nakas lalu membetulkan jasnya, dan kini memberiku segelas air.


Ia tampak berusaha menyembunyikan perasaannya sementara aku bisa melihat dengan jelas rahangnya yang mengeras walaupun bibirnya tersenyum tipis, "Dia baik-baik saja,"


Aku mendorong gelas air di tangannya, dan Henry tidak memaksaku, ia mengembalikan gelas itu ke posisi semula tanpa menatap mataku. "hanya itu? Apa kau tidak mengetahui dia ada dimana?"


Aku menghela napas saat kurasakan pusing menyerangku, perutku mendadak mual. Aku mengeratkan peganganku pada sisi tempat tidur, mengembalikan energi ku yang hilang, ini tidak bisa dibiarkan. Ia tau sesuatu dan tidak ingin memberitahukannya padaku.


"Demi Tuhan, Henry! Kau memimpin perang ini, tak bisakah kau mengatakan apapun selain 'dia baik-baik saja'?"


Henry mengabaikanku, ia dengan santai mengambil selimut lalu bergerak meniup lilin di nakas menyisakan perapian hangat yang memberiku sedikit penerangan, lalu Henry menyelimuti dirinya sendiri dan duduk di dekat perapian. "Selamat malam, V,"


"Pauvre naze! Dégage!" Balasku sebelum baring dan menutup wajahku dengan selimut. Baru kali ini rasanya aku dapat berbicara dengan normal padanya dan lihatlah! Betapa egoisnya pangeran itu? Apa dia pikir aku ini anak kecil yang tidak perlu tau apa-apa?


"Sweet dreams,"


Aku membuka selimut yang menutup wajahku dan memandang wajah lelah Henry yang masih saja terlihat tak beriak itu.


Aku mengambil bantal kecil di sisi ku lalu melempar asal ke arahnya "Va te faire foutre!"


Tak lama kemudian, aku mendengar pintu kamarku di banting. Sempurna, ia menuruti kemauanku. Tapi kenapa bukan senyum yang ada di wajahku melainkan air mata?


Kenapa?


Kenapa aku tidak bahagia ketika ia pergi?


***


TBC


Glosarium:


•) Pauvre naze\= useless person


•) Dégage\= piss off


•)Va te faire foutre\= f*ck off