
"The sound of a kiss is not so loud as that of a cannon, but its echo lasts a deal longer."
-The Professor at the Breakfast Table by Oliver Wendell Holmes, Sr.
***
Ada perasaan yang meledak di dalam diriku ketika dengan amat sangat lancangnya, Henry menciumku. Ntah kenapa kepalaku tidak bisa berpikir jernih ketika ia memaksaku untuk membalas ciuman nya. Sensasi di perutku terasa menggelitik hingga tanganku ntah kenapa sudah berada di dada bidangnya.
Mataku mulai terpejam dan menikmati tautan bibir kami dan setelahnya, yang kuingat hanya ucapan Henry yang berkata
"Apa kau sekarang sadar pangeran manja ini telah menciummu?" katanya dengan begitu angkuh
Butuh waktu beberapa menit untukku mencerna apa yang terjadi sampai Henry kembali berkata, "aku harus pergi sekarang atau Paman akan mencariku. Aku harap kita akan melanjutkan nya kembali di lain waktu,"
Pipiku memanas sesaat ketika mendengar penuturannya. Pria ini benar-benar tidak bisa ditebak.
"Oh, aku hampir saja lupa tujuanku kemari,"
Ia membenarkan letak dasinya lalu menatapku lurus, "ciuman itu pertanda bahwa mulai sekarang, kau telah resmi menjadi tunanganku. Aku berencana akan mengumumkan pernikahan kita setelah perang di perbatasan berakhir. Sampai saat itu tiba, pengawalanmu akan diperketat, tangan kananku akan turun langsung untuk menjagamu. Dan untuk membantumu memahami peraturan dan kehidupan istana, aku akan mengirimkan tutor jika kau mau," katanya sebelum menarik tanganku dan menciumnya dengan lembut
"Aku tidak mau tutor—"
"Aku mengerti, itulah kenapa aku bertanya padamu. Kalau begitu, aku pamit, my dear fiancè," ucapnya sebelum meninggalkanku dan pergi keluar dari ruang belajarku.
Oh sial! Aku mencium pangeran dan sekarang aku benar-benar telah menjadi tunangannya! Tunggu sebentar, sepertinya ada yang janggal dengan semua ini. Aku melupakan sesuatu yang penting.
Lima menit kemudian, setelah letih memutar otakku untuk mengingat 'hal' apa yang penting aku menyerah. Sebaiknya aku lekas tidur dan melupakan hari berat ini.
***
"Lady Victoria, selamat atas pertunanganmu!"
Mataku langsung terbuka sempurna ketika aku mendengar penuturan Maria yang membangunkanku. Ia menangkup kedua tanganku dan menatapku dengan berseri-seri
"Anda tidak tau betapa bahagianya aku ketika mendengar kabar itu dari Madam,"
Aku meringis sebelum menarik tanganku dan menutup wajahku dengan bantal.
"Ini masih terlalu pagi untuk berkhayal, Maria" kataku membalas halusinasi pelayan ku itu
"Memang semua ini terasa bagaikan mimpi, my lady. Oh indahnya! Aku tidak menyangka akan melihat anda tumbuh begitu cepat,"
Menikah? Tunangan? Bloody hell! Ini bukan mimpi! Aku benar-benar mencium pangeran manja itu!
"Astaga Nona!" Maria terpekik kaget ketika melihatmu bangun dan melompat dari tempat tidurku, aku segera turun ke lantai bawah dan mendapati Ibu, Ayah, Alex, dan Louis sedang menikmati sarapan mereka sambil bersanda gurau
"Oh, selamat pagi, putriku," sapa Ayah ketika ia melihat aku mendekati meja makan
"Ganti bajumu sebelum menyentuh makanan, bagaimana bisa seseorang yang hendak menikah masih mengenakan gaun tidurnya ketika sarapan," Ibu mulai mendumel ketika melihat ku datang
"Pagi, Mrs," sapa Alex dengan nada menggoda
Mendengar semua itu aku menutup mataku dan membuang napasku lalu memaki dengan bahasa Portugis.
"Kalau kau punya waktu lebih kenapa tidak kau pakai untuk mengganti bajumu dahulu?"
Ayah memegang Ibuku sebelum menatapku dan berkata, "Apa kau membenci Pangeran Henry?" tanyanya begitu tiba-tiba
Sekelebat bayangan kemarin malam berputar diingatanku. Apa mencium pria yang kita benci menandakan kalau kita benci padanya?
"Sepertinya dia bingung, Ayah. Biarkan dia mengisi perutnya dahulu," ujar Alex lalu memberiku selembar roti tawar
"Ini, Victoria, ambilah punya Louis juga!" kata adik laki-laki termanisku itu sebelum meletakkan selai apricot kesukaannya ke atas roti tawar yang kuterima dari Alex
"Terima kasih, tapi aku tidak ingin meni—"
"Jangan bicara sewaktu kau makan," potong Ibu membuatku mendengus kesal. Apa ia tidak lihat aku bahkan belum menggigit roti tawarku
Aku hendak berbicara pada Ayah namun, beliau terlihat pura-pura sibuk dengan sarapannya. Bagus, sekarang aku harus bicara pada siapa lagi?
Usai sarapan singkat kami, aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk berbicara pada Ayah karena Ayah terlihat buru-buru untuk pergi.
"Bukankah kelas filsafatmu akan di mulai satu jam lagi?" Suara Ibu kembali berkumandang di telingaku. Aku memutar mataku sebelum berjalan kembali ke kamarku
"Victoria! Mau kemana kau?"
Aku berhenti di jalan sebelum berbalik dan menatap Ibu yang berdiri di anak tangga, bersiap memberikan Ibu ilmu sarkastik yang kupelajari di pasar sebelum suara Alex menginterupsi kami
"Ibu, apa Ibu tidak pergi ke pabrik kain hari ini?"
Alex menyuruhku untuk pergi dengan matanya saat Ibu berbalik dan menatap adik laki-laki ku itu.
Aku berhasil lolos dari omelan Ibu di pagi hari dan masuk ke kamarku. Sepertinya kabar pertunangan kami itu membuat pikiranku buyar. Aku melupakan sesuatu yang harusnya penting dan sekarang, lihat aku. Berdiri di depan rumah keluarga Montesque berharap Ollie ada disana
Baru saja aku hendak menngetuk untuk ketiga kalinya, seseorang telah membuka pintu itu.
"Ollie!"
Ollie tampak amat sangat berhati-hati sebelum ia melihat sekeliling kami dan menarikku menjauh.
"Ollie?" Panggilku lagi ketika ia terus berjalan hingga akhirnya ia berhenti ketika kami berada di base camp. Ollie menatapku dan mengusap wajahnya kasar. Ia terlihat letih sekali. Melihat kondisinya, aku merasa amat bersalah sekarang. Kenapa aku bisa melupakan janji dengan orang paling penting di hidupku ini?
"Maafkan aku Ollie, kemarin ada sedikit masalah di rumah, karena aku pulang telat," ujarku lalu menarik tangan Ollie dan menggemgamnya, aku tidak ingin ia marah padaku
"Sampai kapan kau akan bilang padaku bahwa kau telah bertunangan dengan Pangeran Henry?" ucapnya begitu pedih dan sarat akan kesakitan. Suaranya parau dan dalam, ia seperti sedang menahan sesuatu
Aku mengambil tangannya dan menempatkan tangannya di pipiku sebelum menatap maniknya yang menatapku lemah, "aku tidak menginginkan pertunangan ini Ollie, percayalah. Hanya kau orang yang ingin kunikahi di dunia ini,"
Ollie menggeleng, ia terlihat begitu terluka lalu menarik kedua tangannya, "aku mencintaimu," katanya begitu manis dan penuh keyakinan di setiap kata-katanya
Aku mengangguk dan hendak mengatakan sebaliknya namun, bibirku terdiam kala melihat sebilah pedang terhunus di sisi lehernya.
***
TBC