
"You will forever be my always,"
-Victoria M.
***
Satu hal yang tidak berubah setelah sekian lama waktu berjalan adalah surat dari Henry. Surat itu berstempel kerajaan dengan keharuman khas milik Hery dari campuran citrus dan oud ketika lembaran kertas itu terbuka. Tidak hanya itu, surat khusus itu hanya di antarkan oleh pelayan setianya yang tidak memiliki hati, Baptiste.
"Sudah berapa kali kukatakan kalau kau harus mengetuk pintu jika masuk ke dalam ruang belajarku, Baptiste?"
Pria berbadan kekar itu berdehem membersihkan tenggorokkannya sebelum meletakkan sepucuk surat di atas meja
"Yang Mulia Pangeran Henry mengharapkanmu datang di hari penobatannya,"
Baptiste berdiri di sebelahku, ia tampak canggung mengatakan sesuatu tanpa urat nadinya keluar
"Jika perang sudah dimenanginya, kenapa dia tidak datang sendiri kemari?"
Karena Baptiste tidak kunjung menjawab, aku menutup buku tebalku dengan keras sebelum menghela napas
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa pergi mencari jawabanku sendiri dan melihat bagaimana reaksi Henry nanti,"
Mendengar nada sarkastik ku, Baptiste tampak gusar. Ia bergegas membuka mulutnya saat aku melangkah keluar dari ruangan ini
"Tidak ada yang pernah pergi begitu saja setelah mengancamku," desisnya
Aku tersenyum tipis sebelum berbalik dengan gemulai, umpanku berhasil
"Tantangan diterima,"
Seperti yang kuperkirakan, pria kasar itu mulai emosi setelah mendengar jawabanku
"Wanita berdarah campuran dengan kasta rendahan sepertimu bahkan tidak layak berada di belakang Yang Mulia saat beliau berdiri di podium istana Buckingham,"
aku mendengus, mengambil sepersekian detik berharga untuk melihat wajah emosinya sebelum membalasnya, "Tentu saja aku tidak layak berada di belakang Pangeran ketika sejatinya aku lah yang bersanding dengannya sambil melambaikan tanganku pada rakyat Britania Raya,"
Telak! Baptiste tak dapat membuka mulutnya. Ia kehabisan kata-kata.
Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya aku melihat senyum tipis di bibir Baptiste yang sangat tidak cocok ada di wajahnya sebelum wajahnya kembali memasang tampang dinginnya, "aku bisa melihat kenapa Yang Mulia tergila-gila pada wanita sepertimu,"
"Aku akan memberitahumu semua yang kau mau tau tentang Yang Mulia Pangeran,"
Aku memberinya tatapan curiga lalu menyilangkan kedua tanganku di dada, "pria bengis sepertimu tidak akan memberi sesuatu dengan cuma-cuma. Katakan apa syaratnya,"
Baptiste lagi-lagi memberiku senyum anehnya, "dasar gadis pintar. Baiklah, syaratnya gampang. Kau hanya harus menang pacu kuda melawanku,"
Sesaat aku bisa membayangkan betapa mustahilnya aku melawan seorang prajurit garis depan yang mengalahkan musuh dengan pedang panjangnya. Namun, ketika aku mendengar suara gemuruh yang menandakan hujan akan turun. Aku menyanggupinya
"Sangat bijak. Akan kuberitahu saja, selama dua belas tahun karirku di dunia militer, tidak ada yang dapat mengalahkan ku berpacu kuda,"
Aku tertegun. Tak akan ku biarkan kesombongannya menginjak harga diri putri satu-satunya dari keluarga Maxwell yang terhormat, "biarkan aku mengatakannya padamu sekarang sebelum kau menangis di kubangan lumpur. Jika aku menang, bersiaplah untuk memoles sepatu ku," kataku final sebelum mengajaknya untuk melirik kaki kecilku
***
Tiga puluh menit setelah pedebatan panas antara aku dan Baptiste, aku tak dapat mempercayai diriku sendiri saat aku telah duduk diatas pelana kuda hitamku dengan celana panjang di balik gaun hijauku serta sepatu boot kulit dombaku. Kami semua sudah berada di salah satu rute pacuan kuda yang banyak digunakan oleh penduduk lokal
"Kau belum telat untuk mengakui kekalahanmu," ujar Baptiste dari atas kudanya
Aku mengeratkan peganganku pada tali kekang kudaku, kemudian memandang Paman Paul dan Louis yang berdiri di sebelahku. Walaupun aku harus megikuti permainan si gila Baptiste, aku tidak akan mengakui kekalahanku, tidak saat adikku sedang berharap padaku
"Itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu, Baptiste!"
Baptiste tidak lagi membalasku, ia hanya menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan sebelum mata kami beralih dan fokus memandang tangan Paman Paul yang mengangkat bendera Britania Raya tinggi-tinggi
"Satu.."
Aku menghirup napas sebanyak mungkin sambil melirik Baptiste yang terlihat santai di atas kudanya
"Dua.."
Aku kembali mengingat rute kami yang memutari perkampungan warga dan menuju garis finish yang berada di luar hutan
"Tiga!"
***
TBC