Lady Engagement

Lady Engagement
Part 37: Coronation Day part 3



"Honestly, I always feel jealous whenever you give someone the kind of attention that I want from you,"


-King Henry


***


Ada secercah rasa kagum melihat Henry dengan balutan jubah kebesarannya berdiri memegang tongkat serta mengenakan mahkota berhiaskan berlian, batu rubi, sapphiere, mutiara, serta berbagai jenis batu permata dengan kerangka emas yang mengkilat.


Dari sini, dari jarak yang lima belas meter dari tempatnya, aku bisa merasakan betapa jauh kedudukan ku dengan Henry.


Ia tampak berbeda dengan pria yang kemarin kulempari bantal. Ia tampak begitu berwibawa, penuh kekuatan, tak tertandingi. Tidak, nyatanya, memang akulah yang tidak pernah menyadari betapa berbeda kasta kami.


Lamunanku buyar ketika orang-orang bertepuk tangan dan melantunkan puji-pujian pada Henry. Bahkan, tak luput dari perhatianku, Ale pun juga terlihat begitu antusias menyambut Sang Raja. Semua tepuk tangan dan sorak sorai para tamu terhenti ketika Henry mengangkat gelas berisi anggur merah di tangannya


"Untuk kemakmuran, kejayaan, dan kemenangan Britania Raya!" seru Henry yang langsung diikuti segenap tamu undangan


Para pelayan berjalan cepat menyusuri ruangan agar setiap orang kebagian gelas ketika Henry menegak habis anggur di gelasnya lalu seluruh tamu hadirin mengikutinya


"Rakyatku yang tercinta, terima kasih telah mengirimiku hadiah serta ucapan rasa syukur kalian. Di malam yang berbahagia ini, aku ingin mengumumkan sesuatu,"


Seketika aku dapat melihat wajah para perdana menteri serta para keluarga kerajaan yang berdiri di sisi nya kebingungan. Mereka saling memberi tatapan satu sama lain menduga-duga pengumuman seperti apa yang Henry akan katakan?


"Hari ini aku akan mengumumkan pertunanganku dan memperkenalkan kalian kepada wanita yang akan menjadi Ratu Britania Raya sekaligus Ibu dari anak-anak ku,"


Sontak gemuruh suara para tamu mendominasi seisi ruangan. Aku bisa menangkap beberapa wanita bangsawan saling mengangkat dagu mereka dan membanggakan status mereka, ada pula yang jatuh pingsan dan berkelahi. Semua wanita lajang itu saling memperebutkan posisi paling depan ketika Henry berjalan menuruni anak tangga.


Melihatnya berjalan begitu tenang melewati satu demi satu wanita bangsawan yang memiliki sanggul setinggi gedung pencakar langit, seketika membuatku gugup.


Tanganku terpaut, mataku terpejam, bibirku tak hentinya merapalkan do'a agar ia berjalan melewatiku. Namun, kali ini do'a ku tampaknya tak terkabul karena aku bisa mendengar suara Henry di telingaku


"Victoria, buka matamu, sayang,"


Mataku terbuka lebar ketika kurasakan Henry menarik tangan kananku, menyematkan cincin berlian di jari manisku lalu menciumnya, "cincin ini sangat pas di jari mungilmu,"


Bibirku kelu melihat mata Henry yang menatapku begitu lekat penuh kelembutan. Ia tampak begitu serius dan gugup di saat yang bersamaan sebelum mengangkat tanganku tinggi-tinggi dan disambut sorak sorai para tamu yang hadir.


"Biarkan aku memperkenalkan kalian pada calon Ratu Britania Raya, Victoria Heart Lionel Maxwell!" Serunya menambah keriuhan ruangan ini


***


"Tangkap!"


Henry melempar sebatang emas ke arah salah seorang pangeran dari negeri sahabat yang duduk di sisi nya. Ia kini tengah membagi-bagikan hadiah dari para tamu kepada keluarga dan kerabatnya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat ia akhirnya selesai membagi-bagikan hadiahnya.


"Apa aku boleh pergi sekarang?" kataku menatap sangkar burung cendrawasih beraneka warna di hadapanku tanpa minat


Henry yang telah menegak habis gelas demi gelas akhirnya berhenti berbicara dengan para petinggi kerajaan dan orang-orang yang akan menyokongnya dari balik kursi Rajanya itu.


Para petinggi kerajaan sibuk memberi wanita penghibur di pangkuan mereka daei gelas berisi anggur, lalu wanita-wanita itu akan terpekik senang dan semakin bergelanyut mesra mencumbu tubuh mereka.


Ntah kenapa, Henry tampak biasa-biasa saja. Ia menoleh dan menatapku. Namun, seberapa lama pun aku menunggu ia tak kunjung berkata apa-apa seolah-olah ia ingin memperkenalkan ku dengan lingkungan istana yang sebenarnya tak seindah dinding-dinding megah nan kokoh di luar sana.


Aku membuang napasku kesal lalu beranjak dari tempat duduk ku dan kuputuskan untuk keluar dari ruangan ini.


Tiga jam setelah berkenalan dengan kerabat serta para petinggi istana sudah lebih dari cukup membuatku ingin meninggalkan istana sesegera mungkin.


Gaya hidup para lelaki hidung belang yang memanggil diri mereka sendiri menteri dan Duke itu benar-benar sudah melampaui batas. Bahkan Ale, pria yang tadi berdansa denganku kini sudah mabuk dan menciumi wanita di pangkuannya. Aku benar-benar muak sekarang.


"Pesta pertunangan macam apa ini?" Protesku selagi berjalan menuju lorong ntah berantah


Pikiranku buyar saat tanganku di tarik oleh seseorang. Aku menoleh, menatap siapa gerangan yang berani menarik tanganku itu


Aku memutar badanku dan mengikuti langkah Baptiste yang menuntunku kembali ke jalan utama lalu pergi ke sayap kiri. Kami terus berjalan, melewati kamar demi kamar, ruangan demi ruangan hingga akhirnya kami berhenti di salah satu ruangan dengan pintu bercat putih yang dihiasi ornamen bunga myrtle di sekitarnya. Baptiste membuka pintu besar itu lalu mempersilahkanku masuk ke dalam.


Ruangan ini tidak sekecil yang aku perkirakan. Ada tempat tidur dari bulu angsa yang berukuran sama seperti tempat tidurku di Perancis, lalu ada perapian yang menyala memberi rasa hangat, kertas dinding berwarna putih dengan rangkaian bunga myrtle mungil, rak buku, meja belajar, meja rias, serta chandelier, dan jendela besar yang mengarah pada balkon.


"Ini kamar impianku!" Pujiku sungguh-sungguh. Aku tidak menyangka ada kamar seperti ini disini


Aku mengitari kamarku, mengambil setiap buku yang tersedia di rak ku, merasakan karpet bulu domba di dekat perapian, lalu terakhir merebahkan badanku di kasur empuk dan nyaman. Kamar ini benar-benar mengembalikan suasana hatiku kembali


***


Tok! Tok!


Dengan cepat aku mengenakan gaun tidur berbahan satin yang disediakan dari dalam lemari lalu membuka kan pintu kamarku.


Betapa terkejutnya aku ketika melihat Henry berdiri disana masih dengan mahkota dan jubah kebesarannya. Ini sudah larut malam, apa yang ia lakukan di depan pintu kamarku?


"Bolehkah aku masuk?"


Aku mundur beberapa langkah dan mau tidak mau membiarkan nya masuk. Toh istana ini miliknya, aku tidak punya hak apapun untuk melarangnya.


"Terima kasih,"


Aku mengangguk sekilas sebelum mengambil mantel wol ku dan mengenakannya.


"Apa badanmu sudah membaik?"


Dia masih mengkhawatirkanku dengan kondisinya yang setengah mabuk seperti itu?


"Berkat perawatanmu dan tabib istana yang selalu mengontrol asupan makanku, kondisi ku sudah jauh lebih baik dari dua minggu yang lalu," ujarku menyebut tabib yang dikirimnya jauh-jauh dari istana hanya untuk mengatur pola makan ku itu


Henry duduk di depan perapian, ia menaruh mahkotanya di meja riasku lalu melepaskan jubah Rajanya.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku waspada jikalau dia berani macam-macam.


Henry terus melepas helai demi helai pakaiannya hingga kini ia bertelanjang dada


"Apa kau gila? Keluar dari kamarku!" Titahku sambil menutup mataku. Demi Tuhan, apa yang pria gila ini lakukan?


"Kenapa kau tampak begitu nyata di mimpiku, V?" racaunya


Aku memberanikan mataku untuk melihatnya yang masih bertelanjang dada dengan sengit, "kau sudah mabuk parah. Kembali lah ke kamarmu,"


Henry mengerucutkan bibirnya, ia menggeram, "bahkan di dalam mimpiku kau tidak pernah berkata baik padaku. Apa aku kalah dengan pria yang menjadi pasangan dansa


"Henry," panggilku dengan nada penuh peringatan.


"Lihatlah! Lagi-lagi kau memperlakukanku seakan aku adalah anak kecil!"


Ia berdiri dari duduknya, dan hanya butuh tiga langkah sampai Henry berhasil mengunci pergerakanku. Ia memegang kedua lenganku, matanya menatapku begitu dalam seakan ia ingin memberitahu bahwa hatinya tengah terluka sekarang


"Ap—apa maksudmu?"


Degub jantungku mulai berdetak kencang melihat tubuh polos Henry yang menampakkan otot-otot kekarnya.


Hembusan napas Henry di wajahku memberikan sensasi aneh yang membuat sekujur tubuhku bergetar. Dan tangannya, astaga tangannya! Tangan itu mulai bergerak!


***


TBC