Lady Engagement

Lady Engagement
Part 27: Betrayal



"Love grows where trust is laid, and love dies where trust is betrayed,"


-Tigress Luv


***


Ntah kenapa, perjalananku menuju Henry berbelok arah dan sekarang aku sedang berdiri di rumah yang jauh lebih kecil dari rumahku di Wistler itu


"Silahkan masuk, Tuan. Pelayanku akan mengantarkan anda ke kamar mandi,"


Aku mengangguk lalu mengikuti dua pelayan yang tampaknya tak suka denganku itu dan memasuki rumah yang interior dalamnya membuatku tergelak


Dinding yang dipahat indah serta aksen kayu yang membuat kesan rumah ini berbeda dengan rumah yang pernah kumasuki sebelumnya


Aku memuji selera wanita bangsawan itu sebelum melangkah lebih jauh


"Kamar mandinya ada di sebelah kiri, Tuan."


Pelayan itu mencegatku yang hendak memasuki sebuah ruangan dengan lukisan pohon berbunga merah muda di sekelilingnya


Salah satu dari mereka hendak mengatakan sesuatu namun, seorang gadis kecil berambut brunetta dengan mata biru terangnya keluar dari ruangan itu dengan riang sambil membawa boneka di tangannya


"Nona Fiona! Jangan berlari banyak lumpur di lantai!" Teriak kedua pelayan itu tampak bodoh mengejar gadis yang kuperkirakan berusia lima tahun itu


Aku mengambil kesempatan ini untuk memasuki ruangan tersebut namun, sayangnya, pintu itu telah tertutup


***


Usai membersihkan diri dan mendapati tangan dan kaki ku terluka. Untungnya bukan luka ringan namun, amplop ku tidak bisa di selamatkan dari lumpur itu dan hanya menyisakan kertas berlumpur dengan tinta yang luntur


Setelah membalut amplop itu dengan kain bersih, aku memasukkannya kembali ke dalam jasku dan mematut tubuhku yang lagi-lagi mengenakan pakaian pria


Aneh rasanya, ketika mengetahui bahwa jas ini memiliki aroma yang membuatku nyaman.


"Dasar gila," makiku pada pantulan diriku di cermin sebelum berjalan keluar kamar mandi dan menemukan dua pelayan tadi menungguku


"Mr. dan Mrs. Montesque menunggu anda di meja makan,"


Ada perasaan tak nyaman kala mendengar nama itu disebutkan namun, aku segera menepis perasaanku dan mengikuti kedua pelayan itu menuju ruang makan


"Ah! Itu dia!"


Aku mendengar suara Lady Carry ketika kakiku masuk ke dalam ruangan ini. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati pria yang kucintai selama ini sedang duduk di kepala meja tepat berada diantara gadis kecil dan Carry


Mataku tak dapat mempercayai pemandangan di hadapanku ketika aku kembali mendengar suara Carry


"Perkenalkan, ini suamiku, Roland Montesque dan ini anak kami, Fiona,"


Rasanya jantungku berhenti berdetak mendengar penuturan Carry sementara pria itu mengenggam tangannya dan memberikan Carry tatapan lembut yang selama ini selalu ia berikan padaku


Aku tak dapat berkata apa-apa. Mulutku terasa kering. Tubuhku seakan terpaku di tempat ini menyaksikan keluarga harmonis mereka


"Tuan? Apa kau baik-baik saja?"


Kedua pelayan itu mengguncangku membuat diriku tersadar akan semua kenyataan ini. Ini bukan mimpi.


Aku berbalik, berjalan menuju ruangan dengan lukisan pohon berbunga merah muda itu dan membukanya.


Benar saja, di ruangan itu terdapat lukisan pohon sakura dan di sudut ruangan, tergantung dengan rapi, baju tentara dengan nama Roland Olliver Montesque di dadanya


Tanpa sadar air mataku keluar dan membasahi pipiku. Semua dugaanku benar. Perasaan tak enak yang sedari awal aku rasakan ternyata benar


Pria yang kucintai selama ini ternyata telah menikah dengan temanku sendiri.


"Tuan? Apa kau ingin ti—"


"Lady Carrisa! Apakah ini lukisan Pohon Sakura?"


Ia tampak terkejut sebelum senyum manis menghiasi wajahnya, ia menatap lukisan itu, matanya tampak menerawang jauh sebelum berkata


"Benar. Pohon ini merupakan simbol cinta kami. Ia adalah saksi bisu yang menyaksikan betapa kami saling mencintai saat itu,"


Aku mengusap air mataku yang kembali turun. Kenapa? Kenapa Ollie melakukan ini padaku yang selalu setia menunggu nya sedari kecil?


"Oh Tuan! Apakah anda baik-baik saja?"


Aku mengusap air mataku untuk terakhir kalinya sebelum mengangguk. "Aku baik-baik saja,"


Ketika ia tidak menemukan ku menjawab, Lady Carrissa memutuskan untuk membawaku kembali ke ruang makan dan bertemu dengan suami tercintanya


"Ada apa sayang? Kenapa lama sekali?"


Suara itu. Suara yang kurindukan selama ini. Suara pria yang mengisi hatiku


"Maafkan aku sayang, tamu kita tampaknya sedang bersedih," ujarnya sambil melirikku yang duduk di sebelah buah hati mereka


"Oh, benarkah? Apakah ia tidak keberatan kalau aku tau kenapa Tuan.."


Ia sengaja menggantungkan perkataanya agar aku dapat menjawab, tapi, hatiku rasanya begitu panas sekarang. Butuh beberapa puluh detik untukku agar dapat menetralkan perasaan ku sebelum mendongak dan menjawab


"Victor, sir,"


Ollie yang memang menunggu ku menjawab mengangguk paham, "kudengar dari istriku, kau di ganggu oleh para prajurit Bruce itu,"


Aku menatapnya lalu mengangguk. Apa dia ingin pura-pura tak mengenaliku atau memang ia tak dapat mengenali wajahku karena kumis palsu ini?


"Aku meminta maaf atas perlakuannya padamu. Kuharap kau tidak memasukkan nya ke dalam hati toh Bruce memang seperti itu. Bertindak bagaikan seorang penguasa di kota kecil ini,"


Aku menatap hidangan di atas meja tak nafsu. Mendengar perkataan baiknya padaku seakan mengingatkan ku bahwa tidak ada apa-apa diantara kami. Namun, semua perlakuannya membuat rasa kesal di hatiku melunjak. Aku ingin melakukan sesuatu padanya agar rasa ini terangkat


"Apa kau tau apa yang lebih membuat pria malang seperti ku menangis, sir?"


Dari sudut mataku, aku bisa menangkap pergerakkan tangan Ollie yang tampaknya memasang telinganya baik-baik


"Victoria, sahabatku yang menyedihkan. Ia telah menunggu seorang pria berhati batu yang akan melamarnya selama sepuluh tahun lamanya," aku sengaja menghentikkan ucapanku untuk melihat reaksi Ollie


Namun, ia tampak biasa-biasa saja seakan Victoria yang aku ceritakan bukanlah wanita yang ia kenal. Aku mengeratkan peganganku pada garpu saat kudengar Carissa berkata


"Victoria? Aku memiliki teman yang bernama Victoria. Ia tinggal di Perancis, kami bertemu saat ia akan berlibur kemari,"


Aku tersenyum kala mendengar penuturan Carrissa karena sekarang aku bisa melihat wajah Ollie berubah pucat


Kau masih ingin bermain permainan tak mengenalku? Baiklah, kita akan mulai permainannya


"Mungkin saja Victoria temanku adalah Victoria yang sama dengan temanmu, Lady—"


"Ibu! Apakah aku boleh pergi main?" Fiona menginterupsi kami dan membuat perhatianku buyar


Gadis brunetta itu menatap Carrissa dengan wajah polosnya sesaat berhasil membuatku ingin menunda ucapanku


"Apa kau sudah memakan semua warna hijau di piringmu?"


Fiona mengangguk dengan polos


"Baiklah, kau boleh pergi,"


Fiona tersenyum dengan manis sebelum beranjak dari kursinya lalu mencium pipi Ollie dan pergi dari ruang ini


"Bisa kau lanjutkan kisah nya?"


Aku mengangguk, sambil memainkan gelas berisi anggur merahku aku melanjutkan permainanku


"Victoria adalah cinta pertama seorang pria bernama Ollie, sepupu dan juga pria yang mengilang tanpa jejak setelah ia berjanji akan menikahi temanku itu,"


Aku melihat Ollie sedang menatapku terang-terangan kala Clarissa tampaknya mulai curiga


"Suamiku juga memiliki nama tengah yang—"


"Apa aku mengenalmu, Tuan Victor?"


Aku menancapkan garpuku ke dalam roti kering di piringku sebelum menatap Ollie dengan tajam, dan tidak perlu lama ketika mata Ollie mendarat padaku, sontak kegiatan makannya terhenti dan kini ia tersedak


"Ya Tuhan! Pelan-pelan sweetheart. Aku tau ini tidak wajar, tapi dia melakukannya untuk mempertahankan diri,"


Mata Ollie tak dapat lepas dariku walaupun istrinya sedang mengelap bajunya yang ketumpahan kentang tumbuknya


"Tolong tinggalkan kami sendiri, Carrissa,"


***


TBC