
"No one in this world can love a girl more than her father,"
***
Malapetaka telah terjadi, perutku rasanya sangat mual saat kulihat keadaan di dalam rumah begitu kacau. Orang-orang desa mulai berbisik saat aku menjejaki kakiku di lantai marmer rumah kami hingga rasanya rumah ini penuh dengan suara manusia.
"Astaga! Apa kau lihat penampilan pria malang gelandangan itu?"
"Oh! Benarkah dia putra Tuan Maxwell yang sedang bertempur di medan perang? Kupikir dia telah meninggal,"
"Apa kau tau tentang putri mereka? Katanya dia adalah wanita cacat, maka dari itu dia tidak menikah,"
Aku melirik sekilas wanita berpakaian hitam di sisi ku, aku ingin menghampirinya dan memberitahu pada mereka kalau putri cacat yang mereka maksud ada baru saja tiba disini namun, tangan Baptiste sudah lebih dulu menghalangiku.
Aku mendongak, memandang wajah kerasnya yang menggumankan bahwa mereka tidak layak mendapat perhatianku.
Aku memalingkan wajahku, dia benar. Ada yang lebih penting daripada meluruskan gosip yang menyebar di masyarakat.
Semakin jauh kakiku melangkah, aku dapat melihat para perawat yang biasa mendampingi dokter yang datang ke rumah kami untuk memeriksa keadaan Ayah.
Ketika mata mereka akhirnya bertemu denganku, aku dapat melihat wajah iba mereka.
"Miss. Victoria.."
Aku tak lagi mendengar ucapan mereka karena kakiku sudah berlari menaiki tangga dan membuka pintu kamar tidur kedua orang tuaku. Betapa terkejutnya aku ketika ruangan ini terasa begitu dingin dan asing
"Victoria putri ku, kemarilah," panggil Ayah yang terbaring tak berdaya dari atas kasurnya. Suara Ayah begitu pelan dan tidak bertenaga, ia tampak begitu sengsara sembari memegang tangan Ibu di sisi tempat tidur
Dokter Arnold memberiku tatapan iba sebelum ia keluar dari ruangan bersama Mr. Carlos dan Florest, sementara Louis memeluk Ibu yang mulai menitikkan air matanya
"Ayah, aku pulang," ujarku sambil berlutut di sebelah tempat tidurnya dan memegang tangannya yang terasa begitu dingin saat ini
"Putri kecilku, apa kau senang berpetualang di luar sana?"
Aku menatap wajah Ayah yang menatapku penuh kasih sayang seakan ia tau apa yang telah kualami saat pergi dari rumah diam-diam
Aku mengangguk melepas topiku dan membiarkan rambut ku terurai dengan bebasnya, "aku menyukainya, Yah,"
Pria yang selalu melindungi ku saat Ibu mulai memarahiku yang juga pria yang membawa kami jauh-jauh ke desa kecil ini agar kami terlepas dari ancaman di Perancis, kini mengambil napas berat sedalam mungkin sebelum berkata
"Kuharap kau juga akan bahagia berpetualang bersama Pangeran manja itu, my intrépide* girl,"
Aku tertawa mendengar penggambarannya tentang Henry, Ayah juga ikut tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya
"Lupakan pria yang kini sudah memiliki keluarga kecilnya, anakku. Kau berhak bahagia dengan pria yang mencintaimu. Dia—uhuk!"
Aku menatap Ayah yang terbatuk dengan keras, ia berusaha menghirup udara sebanyak mungkin seakan ada seseorang yang mencekiknya. Keadaan semakin genting kala Ibu mulai menangis memanggil nama suaminya, dan Louis yang ketakutan.
Ayah mulai sesak napas, ia menatap Ibu seakan meminta pertolongan, dengan sigap Ibu beranjak dari duduknya dan berlari keluar memanggil dokter.
Sementara itu, aku tak dapat bergerak saat melihat mata Ayah perlahan menutup dan pegangannya pada tanganku melemah. Semuanya bagaikan kilatan cahaya saat sepersekian detik berikutnya, dada Ayah berhenti bergerak dan deru napasnya menghilang.
Rumah ini mendadak diselimuti aura duka disaat semua pelayan kami menangis, Ibu yang terus merapalkan kata maaf, Louis yang tersedu-sedu, dan aku yang bahkan tidak dapat menitikkan air mataku.
Kenapa Tuhan? Kenapa kau melakukan ini pada ku?
***
TBC
Glosarium:
•) intrépide artinya fearless