
"Love isn't soft, like those poets say. Love has teeth whic bite and the wounds never close,"
-Stephen King
***
Dadaku sesak dan aku benci itu. Aku benci mengakui kalau aku sudah jatuh terlalu dalam pada pria yang selalu kubenci. Terlalu dalam hingga rasanya begitu sesak.
Aku menangis sepanjang malam, rasanya erangan para wanita itu masih terdengar di telingaku. Sementara jemariku terus mengusap cincin berlian yang melingkar di jari manisku.
Apa yang harus kulakukan?
Tok! Tok!
"Selamat pagi, My lady. Yang Mulia mengharapkan kehadiran anda di meja makan,"
Aku memandang langit mendung dengan gumpalan awan kelabu di luar sana tak memperdulikan perkataan pelayanku itu. Lihatlah, bahkan langit pun tau bahwa hatiku bersedih tapi kenapa pelayan itu tidak?
"Madam?"
Aku mengusap air mataku yang mengerung di pipiku lalu bangkit dari kasur. Tidak ada lagi yang boleh menyakitiku seperti ini. Aku sudah lelah berada di istana megah ini. Aku harus menunjukkan pada mereka, bahwa Victoria Maxwell tidak akan dipermalukan seperti ini.
"Denish, siapkan gaun terbaik yang ada di almari. Keluarkan semua perhiasan yang ada di kamar ini, pilihkan aku parfum terbaik kalian, dan kita lihat siapa yang akan menang sekarang,"
***
Aku mematut sekali lagi penampilanku di cermin. Rambut ku sudah di sanggul rapi, wajahku sudah cantik dengan lipstick merahnya, gaun indah yang menunjukkan lekuk tubuhku terlihat begitu menawan, terlebih lagi perhiasan yang menonjolkan karisma ku terlihat begitu mengintimidasi bagi siapa saja yang berani mempertanyakan statusku.
Sesaat aku tidak bisa mengenali wanita di hadapanku. Ia begitu asing, jauh dari kesederhanaannya. Ia terlihat sama seperti para gadis bangsawan di luar sana.
Lama aku mematut diriku di cermin sebelum kuputuskan untuk menepis pikiranku jauh-jauh. Jika harus seperti ini, maka tidak ada jalan kembali.
"Ayo pergi!" Titahku lalu berjalan menuju ruang makan
Di perjalanan kesana, aku bisa melihat para pelayan, tamu, bahkan para pengawal yang seharusnya berjalan sempat berhenti untuk sekedar menatapku atau menyapaku.
Aku suka dengan perubahan sikap mereka yang memandang ku hanya dari cara ku berpakaian. Well, mereka tidak salah, itu wajar mengingat kau berada di tempat termegah di kota London.
Ketika pintu ruang makan terbuka, hatiku seakan diuji kembali disaat seorang wanita yang berbeda dari malam kemarin duduk di kursiku. Pintar sekali dia duduk di kursiku selagi tiga belas kursi lainnya kosong.
"Selamat pagi, Yang Mulia," ucapku sopan sambil memberi hormat
Aku bisa melihat keterkejutan di mata Henry sebelum ia mengalihkan tatapannya pada gundik lancangnya itu.
Aku melangkah menuju kursi yang berada persis di depan wanita itu. Lalu kutatap tajam matanya.
Ketakutan yang berusaha ia sembunyikan nyatanya terlihat jelas sekali di mataku kala tangannya yang memegang gelas air bergetar hebat.
"Kalau boleh tau, siapa namamu, Ms? Aku tidak melihatmu kemarin malam?"
"Na... Nama saya Patricia, Ma'am,"
Aku mengangguk, setelah menelan butiran bubur granola di hadapanku, aku kembali bersuara
"Keajaiban. Nama yang cocok dengan empunya," ucapku menyindir arti namanya
Patricia mulai tak nyaman duduk di kursinya, ia terus menatap Henry dan aku secara bergantian. Sementara ia sedang mencerna maksudku, aku menikmati sarapanku dalam diam
"Kehadiranku memang suatu keajaiban di dalam hidup Yang Mulia, Ma'am,"
Kini, arah obrolan kami menjadi semakin menarik.
"Oh ya?" Tantangku.
Patricia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, ia mulai mendapatkan kepercayaan dirinya kembali disaat Henry tidak mengatakan apa-apa
"Walaupun kau adalah calon istrinya, tapi aku adalah.. adalah calon Ratu Britania Raya! Aku adalah kekasih Paduka Raja!"
Wow. Kuberi tepuk tangan untuk sikap tak bermatabatnya.
"Patricia!" Henry menegurnya. Calon suamiku itu tampaknya mulai kesal dengan omong kosong wanita ini
"Yang Mulia! Katakan padanya bahwa kau mencintaiku! Kita akan bercinta sepanjang malam dan—"
Patricia memekik kaget ketika ucapannya ku interupsi. Ia menatapku berang, "beraninya kau!! Dasar wanita—"
Aku kembali menyiram air yang ada di gelas ke wajahnya. Ia berdiri dari duduknya, matanya memandangku sengit
"Astaga, maafkan aku. Kupikir kau sedang mabuk dan meracau," ungkapku dengan santai
Patricia mengelap wajahnya yang basah dengan tangannya yang tanpa ia sadari menghancurkan riasan tebal miliknya. Ia kemudian beranjak dan pergi dari ruangan ini dengan suara hentakan kaki yang memekak kan telinga
Setelah semua drama itu, aku kembali mengambil pisau dan garpuku lalu memotong salmon di piringku yang baru tiba. Berlagak seakan tidak terjadi apa-apa
Tanganku yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutku seketika berhenti di udara saat Henry menggemgamnya erat.
Mata kami bertemu. Untuk pertama kalinya, aku dapat memahami perasaan Henry hanya dari tatapannya padaku. Ada rindu yang amat besar disana. Namun, ego kami seakan menolak untuk bicara
Henry melepas pegangannya padaku lalu berdiri dan meninggalkanku sendirian di ruangan ini.
Bagus. Sekarang tanganku memar dan hatiku sakit. Seharusnya aku senang bisa membalas rasa cemburuku padanya, tapi kenapa air mataku malah jatuh kembali?
***
TBC