Lady Engagement

Lady Engagement
Part 40: Naked Soul



"I don't get it, you don't want me gone but you don't want me with you either,"


-Victoria M.


***


Sudah seminggu lamanya aku 'dikurung' di dalam Istana. Megahnya pilar-pilar istana seakan menutup aksesku untuk bertemu dengan Henry. Di saat waktu makan tiba pun aku tidak pernah melihatnya duduk di kursinya.


Bohong rasanya jika aku tidak merasa kesepian di tempat indah nan asing ini. Meski Nenek Margaret selalu menyempatkan waktu untukku. Namun, hariku lebih banyak di temani oleh kumpulan buku sejarah dan politik di ruangan ini.


"Baiklah, Henry. Aku aku aku salah, aku minta, minta... maa—Ah! Kenapa sulit sekali sih mengucapkan kalimat itu?"


Aku menutup buku puisi yang sudah kubaca dua kali berturut-turut. Susah sekali rasanya mengatakan maaf. Terakhir kalinya aku mengucapkan maaf, hidupku berubah total. Ia menyuruhku menandatangani perjanjian konyol dan lihat lah dimana aku berpijak saat ini.


Aku penasaran, apa yang akan terjadi jika aku meminta maaf padanya setelah sekian lama? Apa dunia akan berhenti? Apa akan terjadi malapetaka besar di hidupku?


Ah, tapi. Dia juga salah! Dia selalu meninggalkanku dengan rasa bersalah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf padaku?


Tok! Tok!


Aku menoleh saat Baptiste datang. Walaupun seminggu sudah aku tidak bertemu dengan Henry, namun, kehadiran Baptiste tidak pernah absen dari sisiku.


"Selamat sore, Bap!"


"Selamat sore, Miss. Victoria,"


Baptiste duduk di kursi yang ada di depanku, sejauh ini, badai diantara kami sudah mereda. Aku dan Baptiste sekarang bisa saling menatap tanpa harus melempar sarkasme satu sama lainnya


"Apa kau bisa membantuku merangkai permintaan maaf yang baik untuknya?" tanyaku sambil meraih cangkir teh yang disodorkan salah satu pelayan padaku


Aku berdehem lalu menegakkan badanku dan mengambil kuda-kuda, "Wahai Paduka Raja Henry yang terhormat! Aku, Victoria Heart Lionel Maxwell, mengakui kesalahanku padamu dan meminta maaf dan pengampunanmu atas kesalahanku di masa lalu,"


Aku mendongak saat Baptiste tidak memberiku respon apapun, ia hanya memandangku tanpa berkata apa-apa


"Bap! Kenapa kau hanya diam saja? Aku perlu pendapatmu,"


Baptiste mengerjap lalu segera menyeruput teh di cangkirnya. Satu hal yang aku tau tentang Baptiste adalah ia tidak akan memberitahu apapun tentang Henry padaku jika tidak terpaksa.


"Yang Mulia pasti akan memaafkanmu," katanya acuh


"Kenapa kau yakin sekali? Aku dengar, jika ada orang yang berani menghina Sang Raja maka kepalanya akan tergantung keesokan harinya. Mungkin saja sekarang Henry sedang mencari pasak mana yang tersedia dan menunggu waktu yang tepat, bukan?"


Baptiste berdiri dari duduknya, ia sekarang tampak murka. Apa aku salah berbicara?


"Kurasa aku salah menilaimu sebagai seorang wanita yang cerdas,"


"Bap?" Tanyaku heran. Ada apa dengan dia?


"Kau benar-benar tidak pernah menyadari betapa besar perasaan Yang Mulia kepadamu,"


Aku menaruh kembali cangkir teh di meja, seminggu memang waktu yang lama untuk saling menahan amarah antara satu sama lain. Tapi, aku paling tidak senang jika Baptiste selalu marah hanya karena aku membicarakan Tuannya


"Apa kau tidak tau kalau Yang Mulia mengorbankan segalanya untuk bisa menikahimu?"


"Aku tidak mengerti,"


"Tentu saja pikiran egoismu tidak mengerti. Kau terlalu diperdaya oleh teori yang ada di kepalamu sampai kau tidak menyadarinya. Cincin yang ada di jemari tanganmu adalah milik mendiang Ratu. Yang Mulia menyimpannya dan terus berkata bahwa ia akan melamarmu sejak pertama kali ia menghadap Ayahmu,"


Ketika melihat kami berdua menatapnya sinis, mereka menunduk, "maafkan kami telah mengganggu kenyamanan anda, Nyonya dan Tuan,"


"Mau apa kalian?" Tanyaku memperhatikan kotak besar yang mereka bawa


"Ini adalah kiriman dari Yang Mulia Raja. Beliau baru saja tiba dari Perancis dan menyuruh kami membawakannya langsung kepada anda,"


Baptiste yang mendengar kabar tersebut langsung memberi hormat padaku dan melenggang pergi.


Aku mengabaikan kepergiannya dan memusatkan perhatianku pada tiga orang pelayan yang membuka kotak besar yang terlihat berat itu. Aku penasaran apa isi kotak itu. Apakah guci mahal? Gaun pesta berlapis berlian? Atau mungkin itu adalah bangkai burung sebagai tanda kematianku?


Saat mereka membukanya, aku langsung berdiri dan menghampirinya. Dan betapa terkejutnya aku melihat isinya.


"Apa mataku tidak salah melihat? Apa benar itu adalah perlengkapan melukis?"


Ketiga pelayan itu tersenyum dan mengangguk antusias, "anda tidak salah Nyonya. Ini semua adalah perlengkapan melukis,"


Aku mengambil salah satu kuas lukis dari dalam kotak dan meraba ujung kuas. Lembut sekali. Aku memperhatikan kuas itu dan mendapati ada inisial namaku tertera di sudut ganggang kuas


"Dimana Yang Mulia sekarang?"


Aku tidak akan membiarkan perasaan bersalahku berkarat. Aku harus menemuinya dan mengucapkan rasa terima kasih ku atas segala perlakuan baiknya padaku.


"Yang Mulia sedang menuju kamar tidurnya, Nyonya,"


Aku segera pergi dari kamarku dan berjalan menuju kamar tidur Henry yang kudengar berada di sayap kanan istana.


Mataku terpaku ke jalanan dan mengabaikan para menteri yang memberi salam serta para tangan kanan Henry yang penasaran kemana aku akan pergi.


Ketika kakiku telah sampai di depan pintu asing yang dijaga oleh dua orang pengawal, aku segera membukanya.


"Anda mau kemana, my lady?"


Salah satu pengawal menahan langkahku yang ingin masuk lebih jauh menuju pintu putih di ujung sana


"Bisa kau turunkan pedang itu? Apa kau tidak tau siapa aku?" Ucapku tanpa melihat nya


"Maafkan aku, Lady Victoria. Tapi, Yang Mulia berpesan untuk tidak ingin diganggu siapapun," jawabnya menekan kata terakhir yang ia ucapkan


"Baiklah. Begini saja, bagaimana kalau kita bermain batu-gunting-kertas? Dan yang menang boleh masuk?"


"Batu-gunting-kertas?" Beo nya tak paham


Aku melihat kedua pengawal yang kuperkirakan sudah berumur lima puluh tahun lebih itu dengan sabar


"Itu permainan yang mudah sekali. Kau hanya harus—Nenek Margaret!" Aku berpura-pura berteriak kearah kanan mereka dan ketika keduanya melihat ke samping, aku segera berlari menaiki anak tangga dan membuka pintu kamar Henry


Sungguh tak terduga, pemandangan yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri membuat pipi ku merona.


Sedetik aku mengaguminya dan detik selanjutnya aku tersadar bahwa kesucian mataku terenggut.


***


TBC