Lady Engagement

Lady Engagement
Part 21: Temptations



"The only way to get rid of a temptation is to yield to it,"


-Oscar Wilde


***


❗️WARNING❗️


This chapter contains mature content. Read at your own risk.


***


Sedetik rasanya jantungku berhenti berdetak, mataku terpejam, dan napasku tercekat ketika kurasakan bibir tipis Ollie yang lembut. Namun, rasa itu hanya bisa kurasakan sesaat saja sebelum Ollie mendorongku dengan amat sangat kuat hingga aku terjungkal kebelakang.


Aku mengusap bokongku yang kebas sambil melihat sekelilingku


"Owh ya Tuhan, tutup matamu anak-anak!" Seorang wanita paruh baya melewati kami sambil memberi tatapan menjijikkan kepada Ollie


"Tidak waras!"


"Queer tak tahu malu!"


"Sial sekali aku mengejar seorang banci gila,"


Dan komentar terakhir itu dikatakan oleh janda tua yang mengejarku tadi.


"Aku tidak terima uang receh!" Pekikku pada sisa penontonku sebelum berdiri lalu berlari mengejar Ollie yang telah pergi terlebih dahulu


"Kau bisa membohongi semua orang tapi kau tidak bisa membohongiku, Maxwell,"


Seluruh tubuhku menegang kala mengetahui penyamaranku terbongkar dengan sempurna.


Aku berdehem, membersihkan tenggorokkan ku yang gatal sebelum menarik topiku lebih dalam lalu berkata kepada Ollie yang berjalan dengan langkah lebarnya itu, "Kau tau aku terpaksa,"


Ollie melihat sekeliling kami lalu berbelok ke arah gang kecil yang diapit dua bangunan besar di sisinya. Gang ini buntu, tidak ada jalan keluar selain jalan kami masuk. Sangat berhati-hati khas Ollie yang kukenal. Sejenak pikiranku yang handal ini ingin memikirkan strategi apa untuk mengetahui niat nya namun, lagi-lagi, pikiranku diinterupsi oleh suara perintah Ollie


"Jelaskan,"


Ku tatap wajah kerasnya yang terlihat tak sabar mendengar jawabanku itu lalu menelan salivaku sebelum menceritakan semuanya.


"Kau tau aku tidak bisa keluar rumah dan seperti yang kau lihat, aku berhasil lolos dari kejaran janda tua itu. Tapi, kenapa reaksimu seperti itu? Apa kau sedang dikejar-kejar? Kenapa kau berjalan seakan ada ****** pelacak di belakang kita, dan tunggu dulu. Kenapa kau selalu mengenakan jas hitam tebal itu dan topi jendralmu? Pekerjaan seperti apa yang kau—"


Ollie tiba-tiba menarikku dan memelukku dengan amat erat.


"Apa kau ingin dikira penyuka sesama—"


Mulutku langsung di bungkam dengan tangannya yang lebar. Bertepatan dengan itu, aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan tergesa-gesa, "Apa kau yakin dia pergi ke arah sini?" tanya pria itu yang memiliki suara cempreng dan aksen Selatan


"Aku yakin sekali. Siapkan pistolmu, aku tau dia tidak akan pergi jauh,"


Setelah suara kaki itu menghilang, Ollie melepaskan tangannya dari bibirku.


"Aku harus pergi," katanya begitu saja tidak memberiku waktu untuk bernapas sejenak. Mendengar itu, aku pun menarik lengan Ollie agar pria itu tidak meninggalkanku seorang diri dengan pertanyaan yang tak terjawab


"Apa kau akan pergi begitu saja? Bagaimana dengan pertanyaanku? Tidak! Yang lebih penting, seharusnya hari ini adalah hari dimana kau melamarku kan?"


Ollie tampak gusar, matanya berkedip beberapa kali sebelum ia menangkup wajahku dan menatapku dengan seksama, "pergilah ke tempat base camp kita malam ini, jangan sampai ketahuan, mengerti?"


"Keuntungan apa yang akan aku dapat dengan menurutimu?"


"Aku akan menjelaskan 'semuanya'," katanya dengan penuh penekanan di akhir kalimat


Aku mengangguk mengabaikan seribu pertanyaan di kepalaku dan memilih untuk mempercayainya. Ia tersenyum padaku sebelum mencium keningku dan pergi dari sana. Sejenak, setelah ku lihat punggung nya menghilang. Ada rasa penasaran yang begitu besar yang muncul dalam diriku. Sepertinya dugaan ku benar, Ollie bukan sembarang prajurit.


***


Malam ini aku sudah memantapkan niatku untuk menguak misteri siapa sebenarnya Ollie. Namun, semua niat baikku itu di gagalkan ketika aku melihat kereta kuda dan beberapa tentara kerajaan di depan pintu masuk mansion kami.


Aku segera turun di belakang kandang kuda yang sedikit jauh dari pintu belakang rumah kami, dan mengendap-ngendap di kegalapan malam guna mendekati bangunan persegi dua lantai yang sekarang terlihat terang benderang itu.


Ini salahku ketika aku terlalu lama menghabiskan waktu di jalan hanya untuk sekedar memikirkan 'jawaban' seperti apa yang Ollie ingin katakan padaku hingga ia memintaku untuk datang ke base camp kami larut malam.


Dan sekarang aku harus bersiap untuk menerima hukuman dari Ibu atau lebih buruknya, aku dipenjara karena menyamar menjadi pria. Memikirkan nya saja membuat bulu kudukku berdiri. Aku harus mengganti pakaianku secepatnya sebelum mereka menemukanku.


Jantungku berpacu kencang, tanganku tak dapat berhenti bergetar, dan napasku tidak stabil saat suara berderit dari jendela ruang belajarku terbuka berbunyi nyaring.


Aku segera menunduk ke dalam semak-semak sambil memantau keadaan sekitar, kalau-kalau para penjaga istana itu mendengarnya.


Dua menit berikutnya, aku berdiri dan melompat menggapai bibir jendela, lalu merangkak masuk dengan amat sangat perlahan. Napasku yang tertahan sedari tadi keluar begitu saja saat akhirnya aku bisa menutup jendela itu.


Keadaan ruangan belajarku yang hanya diterangi lampu belajarku membuat jantungku dapat berdetak normal kembali. Dengan santai, aku mendekati lemari yang menyimpan gaun mekarku itu lalu menariknya keluar.


Baru saja aku hendak membuka mantelku, suara Ayah yang berbincang di luar bersama dengan tamunya lewat. Aku menunggu beberapa menit hingga suara itu hilang, lalu segera melepaskan baju Alex dan memakai korsetku. Agak susah memang saat kau harus menyimpul tali korsetmu sendiri.


"ah, sial! Andaikan Maria disini, pasti ia akan terpasang lebih cepat," makiku sambil menalikan korsetku dari paling bawah. Tanganku hendak menggapai sisi korsetku yang paling atas. Namun, berapa kali pun aku mencobanya, tali itu masih tidak terjangkau juga dan perutku terasa terlilit sekarang


"Demi Tuhan! Siapa pun tolong aku," ujarku lagi pada diriku sendiri sambil berusaha menggapainya


"Terima kasih, Tuhan!" ucapku pada Nya


Lalu aku melanjutkan dengan mengambil gaunku dan memakai kain demi kain, hingga di detik selanjutnya, gaunku telah terpasang dengan rapi. Well, menjadi anak seorang perancang busana ternyata ada gunanya.


Aku berbalik dan memungut pakaian Alex yang tadi kukenakan di lantai. Namun, ada yang aneh. Aku tidak ingat memakai sepatu kulit mahal tadi. Aku ingat hanya memakai sepatu kulit bekas Paman Paul yang ia sering simpan di sebelah kandang kuda kami. Aku sangat yakin itu bukan milikku.


Mataku berjalan naik ke atas dan mendapati sepasang celana wol buatan tangan yang pas membingkai kaki jenjangnya. Sudah jelas sekali, aku tidak memiliki celana seperti itu, apalagi Ibu yang tidak mungkin memiliki boneka peraga setinggi manusia asli.


Aku membiarkan mataku semakin naik keatas dan berharap menemukan pencerahan namun, alangkah malangnya aku ketika gelapnya ruangan ini menghalangi pandanganku.


"Apa kau 'menikmatinya'?"


Aku tidak bisa menahan suaraku untuk tidak memekik kaget mendapati Henry berdiri di depanku dengan gagahnya. Tangan nya bersedekap, dan wajahnya, sial sekali aku tidak bisa melihat wajahnya yang tersembunyi di kegelapan malam.


"Ke-kenapa kau bisa disini?" Hell! Kenapa suaraku mencicit seperti ini?


"Sejak kapan kau disini?"


Ia tak menjawab, ia malah melangkah mendekat


"Jawab atau aku akan berteriak," ancamku sambil menyimpan baju Alex ke belakang tubuhku. Mati aku kalau dia sampai tau!


"Sejak aku membantu mengenakan gaunmu?" jawabnya sarkastik dan penuh nada menggoda


"Ga—"


mulutku membeku sesaat, nyawaku terasa melayang keluar dari tubuhku, dan wajahku memanas! Astaga! Jadi tadi itu bukan tangan Tuhan!?


"Dasar pria mesum!" Pekikku hendak memukulnya sebelum ia tiba-tiba mendekat kearahku dan menutup mulutku. Oh Ya Tuhan, kenapa orang-orang hobi sekali membungkam mulutku?


"Pangeran? Apa kau baik-baik saja di dalam? Kami mendengar suara seseorang,"


Mataku membesar menyadari kecerobohanku. Dasar mulut! Kau bisa membuat ku dipenjara! Batinku pada mulutku sendiri. Sejujurnya, dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan tangan hangat Henry yang mendekap mulutku.


Namun, ada yang lebih mengherankan lagi. Ntah kenapa, mataku tak bisa beralih dari sesuatu yang naik turun kala Henry berucap. "Aku baik-baik saja, menjauh dari pintu sepuluh langkah!"


"Baik, Pangeran," jawab pengawal dari luar


Henry menghela napasnya sedangkan aku mati kutu di tempatku terpesona oleh tubuhnya yang luar biasa mengagumkan. Pantas saja dia terkenal di kalangan para gadis bangsawan! Dia ini cocok sekali menjadi objek fantasi para wanita yang kebelet nikah!


"Jaga suaramu kalau kau tidak ingin berakhir di penjara bersamaku," bisiknya tepat di telingaku sebelum menarik tangannya dariku dan aku bersumpah, aku bisa merasakan bibirnya mengenai telingaku tadi.


Tubuhku enggan bergerak dan memperhatikan Henry yang berjalan menuju meja belajarku, mataku terus terpaku padanya yang dengan santai duduk diatas meja. Lalu kemudian, mata kami bertemu. Beberapa detik berlalu kami hanya saling menatap satu sama lain sebelum mata Henry turun mengamati tubuhku.


Matanya yang menatapku begitu intens membawa sesuatu yang aneh muncul dalam diriku. Aku merasa sangat terekspos sekarang. "Kuakui, kau memiliki tubuh yang menarik, Victoria,"


Menarik? Dari sekian kata yang ada di dunia ini, dan tubuhku hanya tergolong menarik? Sialan. Dia membuat pipiku memanas tanpa sebab!


"Bagaimana kau tau aku ada disini?" tanyaku sambil menghalau pandangannya lalu memasukkan pakaian laki-laki ku ke dalam laci dan menguncinya


Ia tidak menjawabku, namun, aku dapat merasakan matanya menusuk punggungku


"Jangan bilang pada siapa-siapa atau kau akan menyesali konsekuensinya!"


Ketika aku mendengar ia mendengus, aku segera berbalik dan menatapnya yang berjarak satu meter di hadapanku itu


"Tidak ada satupun wanita yang berani berkata seperti itu padaku,"


Kali ini, aku yang mendengus, "tidak juga Ibumu?"


"Tidak juga Ibuku,"


Aku terperangah mendengar penuturannya. Suaranya terdengar jauh dan menyedihkan. Seharusnya aku tidak membawa Ibunya dalam perseteruan kami. Aku tidak sadar mulutku baru saja menyentil luka lama di hatinya. Aku ingin sekali meminta maaf dan memeluknya sekarang namun, ego ku melarang.


"Aku baru tau wanita sepertimu punya hobi aneh menyamar menjadi pria,"


Aneh? Kenapa semua kata-katanya selalu membuatku kesal? Apa ini caranya menjauhkan orang-orang di sekitarnya?


"Aku punya alasan,"


"Tentu saja kau punya alasan untuk mempermalukanku sebagai tunanganmu di hadapan banyak orang," ucapnya dengan nada tajam


Aku mengepalkan tanganku dan mendekatinya. "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menikah denganku! Dan tidak ada yang tau kalau aku wanita kecuali kau!" Jawabku telak


Henry tidak menjawab dan diamnya membuat emosi ku naik. Aku mengambil langkah lebih dekat dan sekarang kami hanya disisakan jarak untuk bernapas. Aku bermaksud mengintimidasinya namun, alih-alih marah, sekarang jantungku berdetak cepat. Ada apa denganku? Kenapa aku malah seperti ini?


"Kalau aku jadi kau, aku akan berpikir dua kali,"


"Untuk apa? Aku melukai harga di—"


Kata-kataku menguap begitu saja ketika Henry menarik kepalaku dan menciumku dengan dahsyat.


***


TBC