
"The worst distance betwen two people is misunderstanding,"
-source
***
Perginya Henry dari kamarku menyisakan satu pelajaran berharga yaitu di tinggal dengan rasa sesal di dalam hati tidak akan bisa membuatmu tidur dengan nyenyak.
"Apa anda tidur dengan nyenyak, Nona?"
Aku menutup wajahku dengan bantal ketika sinar mentari mengenai wajahku. Maria tampak begitu bersemangat seakan fakta bahwa aku bisa saja tidak bangun karena cedera bukanlah masalah utama baginya.
"Aku yakin semalam benar-benar hangat disini," ujarnya sambil cekikikan
Aku membalikkan badanku dari arah datangnya suara Maria lalu menatap pintu kamarku yang sedikit terbuka, aku penasaran, dimana pria itu tidur kemarin malam?
"Apa anda mencari Pangeran Henry? Tadi, dia telah pergi pagi-pagi sekali dengan Tuan Baptiste, katanya ada banyak kerjaan yang harus ia lakukan,"
Tentu saja.
"Nona Victoria, pelan-pelan, tubuhmu masih rentan,"
Maria memapahku yang sudah beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Aku harus menyegarkan kepalaku atau tidak, wajah pria itu akan terus terngiang di benakku.
***
Wajah keras Baptiste berubah ketika ia menjatuhkan pandangannya padaku ketika aku menuruni tangga dengan gaun tercantik yang ada di lemariku.
Ia tampak kikuk saat aku berjalan mendekatinya, hingga akhirnya pria berhati batu itu memberiku salam layaknya melihat seorang bangsawan
"Selamat malam, Miss. Maxwell," sapanya formal
Aku tak dapat menahan tawaku ketika melihatnya bagaikan orang lain di depanku, dengan leluasa, aku memukul bahunya, "ada apa denganmu? Hanya karena Henry mengancam ingin menggantungmu kau jadi berubah seperti ini? Kemana sikap angkuh seorang ksatria kerajaan?"
"Victoria! Jangan lari-lari!"
Aku melemparkan senyum lebarku pada Ibu yang menungguku di depan pintu, lalu menggapai tangan nya yang terulur
"Kau cantik sekali malam ini, anakku," ucapannya berhasil membuatku terkejut. Baru kali ini aku mendengar Ibu memuji ku.
"Pangeran pasti tidak sabar menunggumu," sambungnya lalu mengecup keningku
Tak bisa dipungkiri, mendapat perlakuan hangat seperti ini dari wanita yang selalu mengomeliku benar-benar membuatku takjub. Sebegini kuat kah efek seorang Henry di hidupku?
"Tunggu apalagi? Ini hari besar untukmu, tegapkan punggungmu! Angkat dagumu! Pasang senyum manis di wajahmu! Berjalanlah seakan kau wanita tercantik di negeri ini!"
Komando Ibu sambil menepuk punggungku, menarik daguku keatas, dan mengukir senyum di wajahku dengan kedua jemarinya
"Astaga Ibu! Aku hanya akan datang ke pesta penobatan Henry bukan akan menjadi Ratu Britania Raya!" Erangku walaupun aku juga menurutinya.
"Baptiste! Cepat bawa anakku pergi sebelum dia berubah pikiran dan mengunci dirinya di dalam kamar!"
Baptiste menghampiriku, ia memberiku tangannya lalu ketika tanganku menyentuh nya, ia menuntunku masuk ke dalam kereta kuda berlogo kerajaan
"Sampaikan salamku pada Pangeran!" Pekik Louis yang baru tiba
Aku melambaikan tanganku dari balik jendela kereta yang sudah berjalan menjauhi pelantaran rumahku.
"Jangan lupa misimu, Nona Victoria!" Teriak Maria yang membuatku mengeluarkan kepalaku dan memberinya isyarat untuk diam dengan jariku
Pemandangan ku meninggalkan rumah kami adalah Ibu dan Louis yang segera mendekati Maria dan kutebak sisanya adalah pelayanku itu akan segera di interogasi perihal kenapa aku dengan sukarela menghadiri pesta seperti ini.
***
TBC