
"Honest feelings and bad timing make the most painful combination,"
-sadquotes
***
Ollie perlahan mendorongku menjauh darinya, dan berbalik. Ia menarik belati kecilnya hendak melawan siapapun orang yang mengancamnya namun, Ollie tak kunjung bergerak ketika melihat siapa pria asing yang berani mengancam nyawanya itu
"Baptiste?"
"Jendral Montesque?"
Keduanya tampak saling mengenal, karena setelah Ollie menyebut namanya, pria itu kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.
"Apa kau yang ditugaskan untuk menjaga Victoria?"
Pria itu menatap Ollie dengan asing sebelum berkata, "Yang Mulia memerintahkanku untuk menjaga tunangannya dari jauh, tidak ada yang boleh mendekatinya selain keluarga dan Yang Mulia sendiri," jelasnya lalu memasukkan pedangnya ke dalam sabuknya
"Jadi, maafkan atas kelancanganku, aku harus membawa Lady Victoria kembali ke mansionnya,"
Pria asing yang dipanggil Baptiste itu tiba-tiba berdiri di hadapanku dan memintaku untuk kembali ke rumah. Namun, saat aku mengatakan tidak, ia langsung menarik tanganku begitu saja
"Lancang sekali kau! Lepaskan tanganmu dariku!" Titahku saat ia menarikku dengan paksa menjauh dari Ollie
Aku berharap Ollie akan mengejarku dan menarikku ke sisinya namun, Ollie hanya diam di tempatnya dan menundukkan kepalanya tanpa melakukan apa-apa
Sebersit rasa kecewa menyergapku. Aku akan memastikan Henry mendapatkan balasannya karena telah membuat Ollie tak berdaya di hadapanku.
Aku menarik tanganku kembali dari cengkraman kuat pria asing itu lalu berkata, "aku bisa jalan sendiri,"
Ia tampak tidak percaya dan berjalan tepat dua langkah di belakangku. Inikah pengawal terbaiknya? Ia memperlakukanku tidak lebih dari tawanan yang keluar dari penjara.
***
Perang kali berlangsung sengit dan tak kunjung usai. Banyak warga yang di evakuasi ke tempat yang lebih aman di daerah Selatan Perancis namun, banyak juga warga yang berbalik melawan kekaisaran Perancis
Situasi yang tidak stabil, membuat Ayah segera menyiapkan kapalnya dan memutuskan untuk membawa kami ke rumah Nenek
"Ayah, kenapa kita tidak ikut berperang?" Tanya Louis memecahkan keheningan di dalam kereta dengan santainya
Alex dengan sikap wibawanya menyahut, "duduk diamlah dan jangan banyak bicara,"
"Rumah kita tidak dalam bahaya, kita tidak perlu takut karena ada Ollie! Ya kan, V?"
Aku mengerjap mendengar namaku disebut dalam perseteruan mereka.
Aku melirik Ibu yang sedang menutup matanya enggan ikut campur serta Ayah yang memberiku kode agar mengurusi kedua adik laki-laki ku itu
"V! Katakan sesuatu! Ollie pasti menjaga kita kan? Dia tentara yang kuat!"
Aku mengusap kepala Louis sambil menggeleng, "Ollie sedang berperang membela negara ini, dewasa lah Louis, dan bantu kita dengan tidak membuat gaduh, paham?" Tuturku selembut mungkin
Louis mengangguk, ia bukanlah anak kecil lagi, ia pasti mengerti dengan segala ucapanku.
Kereta ini kembali berjalan dengan ritme stabil menuju pelabuhan, ketika kami melewati salah satu tempat dimana pemberontakan terjadi, bau anyir tercium begitu pekat walaupun jendela kereta ini telah tertutup rapat
Alex tampak gusar di tempat duduknya, Ayah dan Ibu bersikap waspada, dan Louis memegang tanganku sambil membusungkan dadanya
Ntah sudah berapa mil jauhnya dari tempat ini, namun, yang pasti, tidak ada satu suarapun yang keluar dari keluarga Maxwell. Kami semua terdiam layaknya saksi bisu penindasan keji ini. Oh Tuhan, kapan perang ini akan usai?
***
TBC