Lady Engagement

Lady Engagement
Part 41: Pretending



"I want to say I miss you, but it wouldn't change anything so I'll just keep on pretending I don't,"


-Henry


***


"Astaga Henry! Pakai pakaianmu!" Aku segera menutup kedua mataku dengan memberi sedikit celah agar bisa mengintip kedua pengawal istana yang berlari mengejarku. Mereka juga ikut terkejut, bahkan mata mereka tak berkedip saat ini.


"V? Kenapa kau bisa kemari?"


Belajar dari pengalaman yang terdahulu, aku membalikkan badanku yang diikuti kedua pengawal itu. Mereka bahkan ikut menutup mata


"Gentlemans, bisakah kalian meninggalkan kami berdua?"


Kedua pengawal itu tampak kikuk sebelum mengangguk, "baik, Yang Mulia," lalu keduanya keluar dan menutup pintu meninggalkanku sendiri.


Lagi? Kenapa aku selalu berada di posisi canggung sepertu ini? Terakhir kali kami berada di kamar berdua hanya ada perdebatan yang berakhir dengan bibir kami menyatu.


Ya Tuhan, seharusnya aku mengikuti kedua pengawal itu untuk pergi sebelum pintu itu tertutup


"V, buka matamu,"


Aku menggeleng. Bayang-bayang badan polos Henry yang hanya ditutupi handuk kecil diantara kakinya sudah dapat membuat wajahku memanas kembali dan sekarang dia memintaku untuk menatapnya?


"Demi Tuhan, V. Jangan membuatku pergi kesana dan memaksamu untuk membukanya,"


Sontak mataku terbuka sempurna. Kuturunkan kedua tanganku dan berbalik. Persis di posisi yang sama seperti sebelum aku menutup mata, Henry berdiri dengan kemeja nya yang masih dapat memperlihatkan badannya yang berotot juga sepasang celana hitam panjangnya


"Sudah selesai mengamatiku?"


Aku mengerjap, mengalihkan mataku yang tak mau lepas dari maskulinitas tubuh Henry. Lalu perlahan menatap manik kelabunya


"Kita perlu bicara," kataku akhirnya bisa mengendalikan diriku sendiri


Henry menatapku dengan serius sebelum berjalan menuju meja kecil berisi minuman alkohol disana dan menuangkan salah satu botol anggur ke dalam gelas


"Henry. Aku salah, aku minta maaf,"


Aku tertegun beberapa saat. Kupikir dia akan langsung melompat padaku dan kami berpelukan sepanjang malam. Atau setidaknya kami akan kembali akur dan aku bisa memintanya untuk mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik. Tapi, respon dinginnya menghancurkan segala ekspetasiku dan membuatku harus memutar otak


"Lalu? Lalu aku, aku..."


Henry berjalan kearahku dengan sangai sambil memberiku segelas anggur merah. Ia lalu duduk di sofa besar di dekat perapian. Matanya menatapku seakan permintaan maafku adalah permohonan kenaikan gaji para pejabat birokrasi. Wajahnya tak beriak, ia meneguk anggurnya lalu mengisi gelasnya lagi sementara kakiku bahkan tak bisa bergerak saat ini


"Kuas ini! Tidak, maksudku, hadiah perlengkapan lukis yang kau kirimkan—"


"Tidak perlu berterima kasih, itu bukanlah apa-apa,"


Aku kembali terdiam mendengar suara dinginnya. Sikap dinginnya benar-benar membuatku mati kutu. Apa yang harus kukatan agar ia bisa kembali seperti sebelumnya?


"Ah! Cincin ini—"


Kata-kataku terpotong saat suara ketukan pintu terdengar.


Mata Henry yang tertuju padaku beralih kepada siapapun yang sangat lancang menginterupsi kami.


Aku hendak menyuruh orang tersebut untuk menungguku selesai berbicara, tapi bibirku terkatup rapat kala melihat dua orang wanita yang mengenakan make up tebal dan gaun malam tipis memasuki kamar Henry.


"Yang Mulia! Kami merindukan belaian anda!!" rintih salah satu dari mereka dan langsung bergelanyut mesra dengan Henry.


Demi Tuhan! Apa mataku tidak salah melihat? Tangan dua wanita itu bergelanyut mesra dengan Henry! Henry ku!


"Kalau kau sudah selesai bicara.." dia sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat responku.


Aku menahan air mata serta rasa sesak di dadaku sekuat mungkin sebelum balas menatap manik kelabunya dan segera berjalan keluar


Kakiku berhenti melangkah saat Henry kembali bersuara, "Jangan lupa tutup pintunya!"


Dan saat itulah pertahananku hancur. Air mataku jatuh dikala hatiku bergemuruh hebat. Aku menutup pintu kamar Henry bersamaan dengan suara erangan wanita terdengar nyaring.


***


TBC