
"I love showing you how much I love you,"
-Henry
***
Seakan tak ada habisnya perang dingin diantara kami, kini, aku mendapatkan undangan untuk menghadiri salah satu pesta dansa. Tentu saja hanya untuk melihat betapa berbedanya kehidupan sederhana di desa Castle Combe dengan gaya flamboyan seorang bangsawan terpandang kerajaan Britania Raya. Dan jangan ditanya lagi siapa tuan rumahnya. Ia adalah sang wanita 'sah' yang seharusnya menjadi istri Henry sedari dulu.
"Apa kau menikmati pesta malam ini, Lady Victoria?"
Aku mendongak menatap wanita berpakaian amat terbuka itu lalu menaruh cangkir teh ku diatas meja. Ia dan dua wanita bangsawan sedang melayangkan sindiriannya padaku lewat penuturan halusnya itu
"Well, aku tidak bisa meragukan bakatmu untuk menganggarkan pesta semegah ini, my lady," balasku yang bermaksud menyindir tentang cara ia menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk memanjakan kaum bangsawan
Patricia sepertinya paham apa maksudku dan ia maju selangkah, "tentu saja aku pandai melakukannya. Tidak seperti seseorang yang hanya mengandalkan cincin di jari manisnya,"
Baiklah. Dia yang memulai ini. Dia yang akan mendapatkan imbasnya
"Oh ya? Aku penasaran, bagaimana cara wanita itu mendapatkan cincinnya? Hanya sekedar informasi, kupastikan dia adalah seorang cendikiawan yang cerdas,"
Dahi Patricia dan beberapa teman-temannya yang ikut mendengarkan percakapan kami berkerut heran, "cendikiawan?" Beo nya mewakilkan segenap teman-temannya
Aku tersenyum, sebelum melanjutkan, "ya, pasti dia seorang cendikiawan, my lady. Karena kalau bukan, wanita itu pasti berakhir menggunakan tubuhnya untuk membuat pesta semegah ini,"
Patricia dan para antek-anteknya tak dapat berkata apa-apa lagi selain menutup wajah mereka menggunakan kipas bulu nya
"Lihat saja, Lady Victoria. Kita semua akan menunggu saat cincin itu tidak lagi melingkar di jari manismu dan kau akan mengemis di kakiku memohon agar aku dapat mengampuni nyawamu,"
Setelah mengatakan nya, Patricia segera pergi dan mendekati Henry yang sedang sibuk berbicara dengan para teman-temannya.
Dari tempatku berada, aku dapat melihat tawa Ale dan teman-temannya berhenti kala Patricia dan antek-anteknya bergabung. Tak perlu waktu lama sampai Patricia melihat balik kepadaku, ia berbicara sebentar lalu semua orang disana tertawa kearahku
Sementara mendapat perlakuan mereka, dilain sisi, aku, satu-satunya wanita di ruangan ini yang memiliki cincin pertunangan Sang Raja di jari manisku nyatanya hanya bisa duduk di meja dengan dua orang wanita bangsawan yang mencela ku dari balik kipas bulunya
Aku mengalihkan tatapanku pada cangkir berisi teh yang disajikan dengan teko perak di hadapanku. Apa begini rasanya kesepian di tengah kerumunan manusia?
"Yang kudengar malah wanita itu sebenarnya bukanlah tunangan sah Yang Mulia Raja, dan Raja hanya akan menjadikannya selir saja,"
Aku menggigit bibirku agar tidak berteriak pada wanita itu. Setidaknya mereka bisa bertanya padaku daripada harus membicarakan rumor-rumor palsu di luar sana.
"Benarkah? Kudengar dia tidur dengan pengawalnya sendiri dikala Yang Mulia Raja tak ada,"
"Astaga! Picik sekali dia. Apa kau pernah mendengar nama belakangnya? Pamanku bilang bahwa dia anak haram hasil hubungan Ibunya dengan seorang Duke di Perancis,"
"Anak haram! Pantas saja kelakuannya tak bermatabat! Bagaimana bisa dia duduk diantara kita? Ayo kita pergi dari sini, aku tidak ingin nama baik ku tercemar,"
"Kasihan Yang Mulia Raja. Aku tidak menyangka ia menyihir Raja agar mencintainya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Lady Patricia saat ini,"
Aku merasa begitu tak layak berada di ruangan ini. Kalimat pedih yang seakan tidak terdengar itu terus berputar disekitarku. Kemanapun kakiku melangkah, celaan, hinaan, hingga tatapan sinis kaum bangsawan itu selalu menyertaiku.
Ntah darimana munculnya rumor itu tapi, aku tidak dapat melakukan apapun. Aku seorang diri, tidak ada yang ingin mendengar suaraku. Satu-satunya orang yang selalu membelaku, tidak hadir di pesta ini dikarenakan kondisi kesehatannya yang menurun. Tidak, lebih baik ia tidak disini dan membuat kondisi kesehatannya membutuk. Nenek Margaret tak pantas mendengar semua ini.
Pikiranku buyar saat kulihat Ale mendekatiku dengan senyum culasnya, aku segera beranjak dan berjalan cepat menjauhinya
"Lady Victoria!"
Aku menutup telingaku, berpura-pura tak mendengar, lalu mempercepat langkahku untuk keluar dari ruangan ini. Aku tidak ingin berada di sekitarnya setelah apa yang ia katakan di belakangku.
"Lady Victoria! Tunggu!"
Aku terus melangkah menuruni anak tangga, berbelok, berlari menyusuri lorong dingin, hingga akhirnya kakiku menyentuh salju tebal yang menutupi kebun samping istana Buckingham
Aku menatap sekelilingku, dan melihat pancaran obor di belakangku yang mencetak jelas bayang-bayang tubuh Ale yang sedang menuruni anak tangga. Sial! Dia mengikutiku!
Aku menarik ujung gaunku dan berlari menuju labirin dengan pagar rumput tinggi dan memasukinya tanpa pikir panjang.
"Lady Victoria! Aku tau kau disana! Keluar lah! Kenapa kau sampai menghindariku begini? Kau bukan anak kecil lagi, My Lady!"
Tanganku bergetar hebat saat suara lantang Ale seakan berada di belakangku.
Aku berjalan perlahan, berbelok, terus berjalan hingga suara langkah kaki pria itu tidak lagi terdengar. Masih belum yakin, aku pun memutuskan untuk bersembunyi di salah satu jalan buntu dengan tubuhku yang kumasukkan ke dalam semak-semak.
Pikiranku terasa berkecamuk, membayangkan jika Ale menemukanku di tengah malam tanpa satupun orang yang dapat menyelamatkanku. Namun, hatiku ntah kenapa merasa begitu damai. Akhirnya aku tidak lagi mendengar celaan para wanita bangsawan dari balik kipas mahal mereka.
Tak terasa, salju mulai turun menemaniku yang berjongkok di sudut labirin sementara tanganku terulur menikmati sensasi dingin yang membekukkan.
Saat-saat seperti ini mengingatkanku tentang salju pertama ku saat berumur delapan tahun. Dahulu, aku selalu berlomba kereta seluncur bersama Ollie dan kedua adikku.
Dan mengingat Ollie selalu kalah dalam perlombaan, tanpa sadar aku terkekeh geli. Dulu, aku sangat bodoh dan menganggap bahwa pria itu adalah pangeran berkuda putih yang akan menikahiku. Tapi, lihatlah. Takdir berhasil membuka mataku dan menampakkan pria seperti apa ia sesungguhnya.
Aku menarik tanganku yang mulai membeku dan membentuk mangkuk di depan bibirku lalu meniupkan napas ku guna memberikan kehangatan, walaupun aku tau tubuhku sudah mulai mengigil.
Sebersit pikiran gila melintas di benakku.
Anehnya, bayang-bayang wajah orang-orang yang marah dan kecewa ketika mereka mendengar kabar bahwa aku tidur dengan Baptiste, aku menghela napas. Jangan banyak berharap. Saat ini, reputasi ku sedang memburuk karena pertengkaran terakhir kami di depan khalayak umum.
"Aku harusnya bersyukur jika ada yang mau datang ke acara pemakamanku,"
Bagi seorang wanita bangsawan, jika nama baik dia dan keluarganya sudah tercoreng maka, tidak ada satupun kesempatan ia akan diterima kembali oleh masyarakat. Ya, begitulah sistem hierarki disini
Tapi, terlepas dari martabatku dan keluargaku. Aku lebih mengkhawatirkan nasib Henry sebagai Raja negeri ini di masa depan. Jika benalu sepertiku tidak segera di enyahkan dari sisinya. Kepemimpinannya akan dipertanyakan dan semua orang akan meragukannya seperti perkataan Paman Richard tempo hari.
“Beginikah calon Ratu di masa depan?”
Aku mendongak menatap Ellenor, selir termuda Paman Richard yang sering mengomentari hidupku itu
“Apa ada yang salah dari diriku, your ladyship?”
Ia melirik ku dari atas sampai ke jari jemariku lalu menutup tawa mengejeknya dengan meminum anggur putih di sisinya, sementara dua selir lainnya sudah terkik di balik kipas mereka
“Lihatlah cara dia memakai pisau menteganya,”
Aku menoleh ke arah Patricia yang duduk di sebelah selir ketiga, Feranda lalu mereka tertawa
“Apa kau tidak lihat cara dia memakan dengan kedua tangannya? Kutebak dia tidak pernah makan di restoran Britania Raya!” bisik selir pertama, Samantha yang ikut menimbrung tiga penyihir lainnya
“Setidaknya dia harus tau cara memakan selada tanpa harus memotongnya,” timpal Patricia kembali, yang membuat para bangsawan di sekitarku tertawa pelan
Aku menatap piring ku lalu melihat ke delapan piring lainnya yang berada di atas meja makan ini dan baru kusadari betapa berbedanya cara makan orang-orang British ini.
“Shht! Ladies,”
Suara Paman Richard yang duduk di sebelah selir ketiganya menyita semua atensi. Aku bernapas lega ada seseorang yang akan menghentikan
“Jangan mengomentari sopan santun seorang wanita Perancis rendahan. Kalian tidak tau betapa senangnya ia dapat memakan kentang tumbuk di atas meja alih-alih di bawah kaki kalian. Bukankah begitu, Lady Victoria?”
Aku mengeratkan pegangan tanganku pada garpu sambil menatap tajam Paman bermulut pedas tersebut. Aku salah, dia ratusan kali lebih buruk dari yang lain.
“Kau—“
“My lady, ini waktunya minum teh dengan Ratu Margaret,” Baptiste menyela amukan ku, ia memberiku kode dengan tatapan matanya untuk menahan amarahku dengan melirik para bangsawan yang menyaksikan harga diriku di coreng.
“Selamat malam,” ujarku pada akhirnya sebelum berdiri dari kursiku dan melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan tawa penuh kemenangan yang berasal dari sekawanan penyihir tersebut.
Ia menekankan padaku semua lobang pada diriku dengan sempurna. Aku tidak biasanya dijatuhkan seperti itu tapi, kata-kata nya mampu membuat ku menyesal pernah menginjakkan kaki ke Istana.
"Benar kata Patricia, seharusnya aku—"
Tenggorokanku tersekat kala melihat seorang pria yang berjalan melewatiku dengan santainya. Sesaat adrenalin mengalir deras di sekujur tubuhku namun, ketika mataku mengamati dengan teliti, hatiku menghangat.
Punggung tegap nan kokoh yang hanya berjarak lima meter dariku itu terlihat sangat hangat. Rambut pirang keemasan nya mengkilat di bawah guyuran salju yang perlahan makin deras.
Semakin lama kuperhatikan, semakin tampak bahwa ia sudah tiga kali mondar-mandir selama setengah jam. Pemilik punggung tegap itu tampaknya sedang mencari seseorang.
Lamunanku buyar ketika matanya menatapku, pancaran kasih sayang yang bercampur dengan kekhawatiran masih dapat kulihat disana
"Victoria! Apa kau gila?"
Aku mengerjap saat Henry melepaskan jubah Raja nya dan menyampirkannya ke bahuku.
Aku hendak protes saat ia menarik tanganku untuk berdiri. Ntah kenapa aku tidak bisa merasakan kakiku yang sedari tadi berjongkok di tanah. Kakiku terasa seperti jelly belut yang ada di hidangan pie and mash.
Tanpa aba-aba, di detik setelah ia melihat aku kembali terduduk di tanah, Henry langsung mengangkatku bagaikan seorang pengantin di acara pernikahannya
"Henry!"
Aku hendak memberontak namun, perkataannya padaku setelahnya langsung membuat bibirku terkatup rapat
"Jika kau memberontak maka jangan salahkan aku jika malam ini kau akan tidur di ranjangku,"
Apa dia serius? Aku mengintip wajahnya. Rahangnya yang tegas berbanding terbalik dengan tangannya yang memelukku begitu lembut. Sedangkan matanya menatap lurus ke depan.
Aku tersenyum, kali ini aku akan membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan. Kubalas perlakuan lembutnya dengan mengalungkan tanganku di lehernya. Kupeluk ia dengan erat dan memendam kepalaku di dada bidangnya yang hangat. Aku bersumpah aku bisa mendengar suara degub jantungnya yang berdetak cepat.
Aku menutup mataku, menikmati alunan lullaby dari jantung Henry dan menghirup sebanyak mungkin aroma khas tubuhnya.
Biarkan kami seperti ini sebentar saja, Tuhan. Sebentar saja, untuk terakhir kalinya.
***
TBC