
"The smarter you are, the more things can scare you,"
-Katherine Paterson
***
Setelah tiga jam perjalan, akhirnya aku tiba di halaman istana Buckingham yang dipenuhi ratusan orang. Mereka semua mengenakan gaun-gaun indah, perhiasan yang menyilaukan mata menggantung di leher serta telinga mereka. Wajah-wajah penuh riasan menutupi segala kerutan dan noda sementara tangan mereka sibuk mengipasi nya dengan bulu-bulu angsa yang halus.
"Kita sudah sampai, Miss,"
Baptiste membukakan pintu kereta kudaku, tangannya siap untuk membawaku keluar. Baru kusadari ternyata Baptiste tidak lagi mengenakan kemeja lusuh serta sepatu boot ausnya. Ia kini mengenakan setelan jas putih dengan rambut yang tertata rapi.
Oh Tuhan, bahkan pelayan berhati salju si Henry saja bisa mengenakan jas karena pesta ini. Apa aku salah hanya berpakaian gaun tanpa perhiasan, topi, maupun kipas-kipas mahal itu?
"Tunggu apa lagi kau? Cepat turun! Orang-orang menunggu!" Seru Baptiste dengan suara rendahnya padaku
Aku menahan napasku sebelum menerima uluran tangan Baptiste dan turun dari kereta ini. Sontak saja mataku bertatapan dengan puluhan pasang mata di sekitarku. Mereka berhenti sesaat sebelum membalikkan wajah dan menutup bibir mereka yang tersenyum dengan kipas mereka
"Apa aku salah kostum?" tanyaku polos pada Baptiste saat kami telah berjalan menuju karpet merah yang terhampar begitu saja di tanah
Baptiste menggeleng, "kau tidak pernah menghadiri pesta para bangsawan ya?"
"Apakah itu terlihat jelas?"
Baptiste berdehem, aku tau disaat seperti ini, dia pasti menertawaiku
"Bukankah kita sama? Kau juga tidak pintar membaur kan?" timpalku
"Jangan menyamaiku dengan hidupmu yang menyedihkan. Kau tidak punya teman selain Pangeran," ucapnya ringan
Aku tertegun. Pria ini benar-benar pintar merusak suasana hatiku. Tapi khusus malam ini, aku tidak akan membuat komentar pedas Baptiste melunturkan senyumku. Malam ini, aku memiliki tujuan suciku sendiri
"Kau salah. Henry bukanlah satu-satunya temanku,"
Dari sudut mataku aku dapat melihat pria itu mengangkat sebelah alisnya, "apa kau yakin? Selama dua tahun belakangan ini, kurasa aku tidak pernah melihatmu berada di sekitar orang lain selain pelayan—"
"Kau temanku, Baptiste," potongku.
Hanya berjalan beberapa meter bersama Baptiste saja sudah bisa membuat kupingku memanas, maka dari itu aku berjalan cepat melewati tamu-tamu yang lain dan segera masuk ke dalam istana
Setelah namaku di umumkan oleh pengawal yang berjaga di depan pintu, aku sempat sedikit khawatir melihat wajah-wajah asing para bangsawan elit yang mengerumuni ruang dansa yang luas ini. Namun, saat ku lihat Baptiste berjalan mendekat, aku segera menuruni tangga dan melebur di keramaian
Awalnya aku kesusahan mencari sudut mana yang enak untuk ku agar bisa mengamati orang-orang tanpa harus mengenal mereka. Beberapa pemuda sedang melirikku saat salah satu dari mereka mencegatku yang ingin sembunyi di ujung ruangan hall yang besar ini.
Aku menggeser badanku ke kanan dan pria itu juga menggeser badannya ke kanan, aku ke kiri dan dia juga ke kiri. Aku mengangkat tanganku pasrah sebelum menatap pria jangkung di hadapanku
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Miss?"
Aku merengut. Omong kosong macam apa yang pria asing ini ucapkan?
"Maafkan aku, kurasa kau salah orang," ujarku sopan lalu berusaha melewatinya tapi ia kembali melakukan hal yang sama, ia menghalangiku dengan memundurkan badannya. Aku bisa mendengar suara teman-temannya yang menyoraki kami dari samping tapi, aku tidak menggubrisnya
"Aku yakin aku pernah melihatmu dalam salah satu buku mitologi Yunani,"
Ah! Aku mengerti maksudnya sekarang.
Aku tak bisa menahan tawaku untuk keluar kala membalas ucapannya, "Aaah... Pantas saja wajahmu mengingatkan ku dengan Hades,"
Pria itu terdiam sesaat sebelum senyum lebar terukir di wajahnya, "aku suka wanita sepertimu,"
Kali ini aku yang tersenyum, "terima kasih telah menerima pujianku dengan lapang dada,"
“Perkenalkan, namaku Alessio Francesco Pozzi, untukmu, panggil saja aku Ale," ia mengulurkan tangannya disertai senyum hangat
Well, walaupun tujuanku kemari hanya untuk menemui Henry bukan berarti menambah relasi itu tidak penting bukan?
Aku menjabat uluran tangannya dan memperkenalkan diriku.
"Maxwell?" ulangnya terkejut
"Apa kau mengenal Ayahku?"
Ale menghentikan pelayan yang berlalu lalang sebelum menaruh gelas wine kosongnya di atas nampan dan mengambil dua gelas wine yang baru lalu menyodorkan salah satunya padaku,
“Kalau Maxwell yang kau maksud adalah pria Perancis yang suka memakan buah pir dari kebunku maka tentu saja aku mengenalnya. Ngomong-ngomong kemana Ayahmu? Aku tidak pernah menjumpainya sejak terakhir ia memintaku mengurusi tanah nya di London,"
Hatiku menghangat ketika mendengar ia mendeskripsikan Ayah yang memang menyukai buah pir. Ada rasa kehilangan yang besar ketika mengingat sosok Ayah namun, aku meredam rasa itu dengan menyesap wine ku.
"Aku tidak ingin membuatmu kecewa namun, Ayah telah meninggal dunia tiga bulan yang lalu,"
"Aku turut berduka cita. Aku tidak menyangka ini bisa terjadi,"
Aku tersenyum padanya, "terima kasih,"
Ale menepuk lenganku, memberikan semangat, "Sebagai awal yang baru, maukah kau lupakan sejenak masalah ini dan bersenang-senang?"
Tanpa meminta persetujuanku, Ale menuntunku menuju ke tengah ruangan yang kini sudah menjadi lantai dansa.
Pria dan wanita saling menari mengikuti lantunan musik merdu yang di mainkan orkestra di sudut sebelah Barat ruangan ini. Tawa dan hentakan kaki dari sekelilingku terdengar bersatu padu di gendang telingaku.
Tubuhku terhenyak saat Ale memeluk pinggangku dengan sebelah tangannya, lalu ia menaruh tanganku di pundaknya sementara tangan kami yang lainnya saling bertautan. Kaki ku bergerak kaku ketika jarak diantara kami menipis. Ada rasa tak nyaman menyergapku.
"Apa ini pertama kalinya kau menari, my lady?" bisiknya di telingaku
Aku menarik kepalaku kebelakang sebelum menatapnya, "aku hanya tidak terbiasa, Lord Ale,"
"Apa ada yang pernah mengatakan padamu kalau kau begitu cantik, Lady Victoria?"
Aku menahan keinginanku untuk memutar mataku mendengar godaan pria yang baru saja kukenal itu, namun, demi menjaga nama baik keluarga ku, aku tersenyum kepadanya.
"Apakah kau tinggal di sekitar sini? Aku sering menghabiskan waktuku di London, dan hampir tidak ada satupun pesta yang kulewati. Aku mengenal hampir seluruh bangsawan di negeri ini namun, ini pertama kalinya aku melihatmu,"
Begitu terus. Ale bertanya, aku menjawab seadanya dan kebanyakan hanya ku balas dengan senyumku. Ia terus menceritakan tentang betapa sukses usaha kapalnya yang kini sudah mendunia. Sampai suara pengawal yang mengumumkan Yang Mulia Raja telah tiba berhasil membuat mulut Ale terkatup rapat.
Pandangan kami di gilir menuju kearah Henry.
***
TBC