
"Some people are meant to fall in love with each other, but not meant to be together,"
***
Segalanya berjalan bagaikan kilatan cahaya saat aku melihat Henry untuk terakhir kalinya. Ia duduk di singgasananya, matanya menatapku lekat namun, dia tidak bergeming sama sekali.
Dua orang penasihat Raja yang pernah kulihat saat keluar dari ruang kerja Henry tempo hari menatapku dengan wajah dingin.
Aku berhenti berjalan di hadapan Henry, mengunci tatapanku dengannya sebelum memberikan hormat untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih atas keramahan serta perlindungan anda, Yang Mulia," ucapku gentir
Ada rasa tak rela kala melihat Henry untuk terakhir kalinya. Aku ingin berlari ke arahnya, duduk di pangkuannya, dan memeluknya untuk terakhir kalinya.
Namun, semua itu hanyalah khayalan semata karena disaat Henry memberi anggukan singkat padaku, dua orang pengawal sudah siap membawaku pergi.
"Maafkan aku, Henry, maafkan aku Nenek Margaret," lirihku saat istana Buckingham sudah tak terlihat lagi.
Di dalam perjalanan menuju rumahku di desa, sekelebat bayangan tawa Henry bermain di kepalaku.
Dulu, rasanya tak perlu bersusah payah hanya untuk melihatnya tersenyum dan tertawa padaku.
Dulu rasanya begitu biasa saja bercanda dan saling melemparkan guyonan sarkastik satu sama lain.
Dulu begitu tak berarti hingga sekarang, semua itu terasa spesial.
***
Saat aku menginjakkan kakiku pertama kali ke rumah, aku menyadari segalanya berubah. Rumah ini terasa berbeda, rumah besar ini terasa hangat dan begitu penuh kasih sayang.
"Victoria, anakku,"
Ibu lah yang pertama kali kulihat di dalam rumah. Ia menyambutku, memelukku, dan mengusap rambutku.
Aku membayangkan wajah kecewanya dan sederet omelan sadis yang akan diutarakannya karena sebagai seorang putri dan wanita, aku telah mengecewakan keluargaku. Tapi, yang ada, aku malah dibuat terkejut dengan perlakuannya padaku
"Tidak apa-apa, semua ini bukan salahmu. Cinta memang menyakitkan, anakku. Menangis lah, tidak apa-apa. Ibu ada disini untukmu,"
Setelah itu, yang kuingat hanyalah air mataku membanjiri gaun malamnya.
Ntah sudah hari, minggu, atau bulan keberapa sejak saat aku menginjakkan kaki kembali ke rumah. Namun, yang dapat kupastikan adalah aku sudah baik-baik saja. Kondisi hati dan pikiranku sudah tenang. Victoria yang banyak akal dan periang sudah kembali.
"Bonjour, la mère! Bonjour, Louis! Bonjour, Monsieur Ed!" Sapaku pada tiga orang yang ada di meja makan
Hampir saja aku lupa memperkenalkan anggota baru keluarga kami. Dia adalah Mr. Ed atau biasa kupanggil Monsieur Ed.
Kalau kalian ingat dengan Mr. Philiph yang dulu sering mengajarkan ku melukis, maka kalian tidak akan terkejut jika kubilang bahwa Mr. Ed dan Mr. Philiph adalah orang yang sama.
Setelah kepulangan kami kembali ke Perancis, Ibu bertemu dengan cinta pertamanya saat ia sedang menjahit di butik.
Ibu terus menceritakan bagaimana sikap Mr. Ed yang tak berubah dari dulu sejak makan malam pertama mereka. Bagaimana ia bertemu dengan Mr. Ed dan betapa bahagianya ia sekarang. Selama ini, setelah kematian Ayah setahun yang lalu, lalu Alex yang hilang tak ada kabar bagai di telan bumi, aku nyaris tak pernah melihat senyum Ibu.
Tak bisa kupungkiri, pertemuannya kembali dengan Mr. Ed cukup untuk membuat senyum Ibu mengembang setiap hari. Hingga waktu dimana Ibu membicarakan rencana pernikahannya dengan aku dan Louis, kami tidak bisa untuk tidak merestui mereka.
Kami berdua justru sangat berterima kasih dengan Mr. Ed karena tanpa kehadirannya disini, mungkin Ibu tak akan pernah mengenakan gaun berwarna selain warna hitam.
"Apa kau akan pergi ke Holland hari ini, sayang?" Tanya Ibu untuk kedua kalinya ketika aku sudah hampir selesai dengan sarapanku
"Apa kau mau pergi bersama denganku?" Tawar Mr. Ed ketika ia mengiringiku keluar rumah.
Aku tersenyum padanya lalu menggeleng, "ayolah, Mr. Ed! Kau tau aku sedang sibuk membuat strategi bisnis apa yang dapat menyaingi kesuksesanmu, kan?"
Ia tertawa menampakkan deretan gigi putih nya sambil bertolak pinggang. "Astaga, my dear Diana! Victoria sudah besar. Dia sudah pandai mengurusi uangnya sendiri," seru Mr. Ed yang disambut tawa Ibu di sampingnya
Aku mengangkat topi ku tinggi-tinggi sebelum menaiki kudaku dan melaju meninggalkan rumah kami
"Jangan lupa hadiah ulang tahun untuk adikmu!"
Aku mengangkat jempolku ke langit berharap mereka melihatnya sebelum kupacu kudaku dengan kecepatan tinggi.
Berbicara tentang Louis, adik bungsuku itu memutuskan untuk masuk ke sekolah asrama di London guna meraih gelar serta mewujudkan impiannya menjadi seorang ilmuwan tersohor.
Ah, mengingat tentang Louis dan segala kehebatannya, ia selalu berhasil membuatku tersenyum bangga ketika menceritakan prestasinya di hadapan pelangganku.
Seperti saat itu, ketika Madame Mirabella yang menjadi pelanggan tetap di galeriku, sedang melanturkan puji-pujian setelah aku menceritakannya kisah Louis yang mendapat medali penghargaan saat memenangkan olimpiade Fisika di sekolahnya.
"Andai aku bisa bertemu dengan adikmu yang pintar itu, Mademoiselle Victoria. Pasti dia adalah anak laki-laki berbudi luhur,"
Aku tersenyum. Madame Mirabella adalah wanita paruh baya yang bekerja di rumah Opera yang berlokasi tepat di seberang galeri lukisku.
Rumah Opera itu berhasil menarik para pengunjung dan pelancong yang berasal dari manca negara. Sudah dua tahun sejak pertama kalinya Rumah Opera yang bernama Palais Garnier itu buka, lukisan di galeriku pun kecipratan berkah, karena mereka habis diborong oleh para pengunjung yang lewat.
"Mademoiselle Victoria,"
Aku mengerjap, membangunkan diriku dari lamunanku dan menatap Madame Mirabella yang sedang menungguku membungkus lukisan pesanan nya
"Apa kau tau kau adalah wanita muda yang berbakat?"
Aku tersenyum. Kata itu kini sangat familiar di telingaku.
"Jangan berlebihan, Madame. Aku tidaklah sebagus yang kau kira,"
Nenek tua itu tersenyum lalu menepuk punggung tanganku dengan lembut sebelum berkata, “Alangkah sayangnya jika kau tidak memiliki seorang pria disampingmu. Bagaimana kalau kau menjadi menantuku?"
Sudah kuduga. Tidak jarang orang-orang akan menyuruhku untuk menikahi cucuk maupun anak mereka jika mereka mengetahui bahwa aku masih lajang di umur ku yang kedua puluh ini.
Ntah darimana rumor beredar namun yang pasti aku akan melakukan hal yang sudah berkali-kali kulakukan sejak setahun belakangan ini.
Ku balas usapan lembut Madame Mirabella lalu ku keluarkan kalung berbandol cincin pertunanganku
"Aku sudah bertunangan, Madame,"
Dan saat itulah mereka akan terkejut dan memutuskan untuk mengalihkan topik.
Setidaknya, untuk saat ini, menolak bertemu lebih baik daripada aku harus menyakiti hati para pria lajang yang disodorkan oleh sanak famili mereka.
Bukan karena aku trauma tapi justru karena aku ingin menjaga hati seseorang yang telah kulukai.
Ya, inilah akhir yang tepat untuk seorang wanita sepertiku.
***
THE END