Lady Engagement

Lady Engagement
Part 26: Armed Forces



"A man's manners are a mirror in which he shows his portrait,"


-Emily Mccarthy


***


Ntah sudah berapa jam aku berkuda dan untungnya jalur yang kulewati tidak satupun bersimpangan dengan para tentara Inggris


Nasib beruntungku berakhir ketika aku hampir mencapai West Wellow yang mana merupakan tempat perang terjadi, beberapa gerombolan pria mencegatku


"Siapa kau? Warga dibawah umur dilarang mendekati kawasan perang!"


Aku melihat sekelilingku yang ramai penduduk setempat. Mereka menatap kami sesaat sebelum bergegas menjauh. Sial! Aku tertangkap!


"Hei! Apa kau tidak dengar? Pergi dari sini keparat!"


Aku segera mengeluarkan amplop berstempel kerajaan pada mereka dan nyatanya, aku ditertawai


"Apa kau pikir kami akan percaya bahwa komando perang kami mengirimkan surat itu pada pria kecil sepertimu?" Ujar pria berbaju besi di sebelahku membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak


Aku menahan amarahku ketika salah satu diantara mereka memukul bokong kudaku membuat kuda kesayanganku kaget


"Hentikan!" Titahku menahan suaraku agar tidak terlihat jelas


Mereka semakin tertawa lalu kembali melakukannya yang menyebabkan kudaku meringkih lalu meloncat hingga membuatku jatuh ke tanah berlumpur yang bau itu


Tubuhku berlumuran lumpur karena menahan topiku agar tidak terlepas


"Beraninya kau!"


"Lihat! Keparat kecil ini ingin marah pada kita!" Seru salah seorang dari mereka sembari menendang punggungku hingga membuat ku terjerembab ke tanah berlumpur


Wajahku kini berlumuran lumpur bau yang menyengat, aku hendak mengambil amplop yang kini berlumuran lumpur namun, kelima prajurit sialan itu malah memutariku dan menginjak-injak amplop itu dengan kudanya


Lalu setelahnya, mereka sengaja melempar lumpur ke wajahku dengan kaki kuda mereka


Seumur hidupku, baru kali ini, aku dipermalukan seperti ini. Aku segera mengeluarkan belati kecil di punggungku dan mengarahkannya kepada mereka


"Berhenti!" Ancamku yang sangat mengejutkan berhasil membut mereka berhenti melempar lumpur ke wajahku


"Sial! Dia bersenjata!"


"Tangkap dia!"


Para prajurit itu turun dari kudanya dan langsung melumpuhkanku


Aku mengerang kesakitan kala merasakan tanganku tertarik ke belakang dengan kuatnya


"Kau pikir belati tumpul itu akan menggores kulit kami?"


Aku meronta-ronta saat ia menekan tanganku ke punggungku hingga rasanya tanganku akan patah jika lebih lama lagi


"Bruce! Sudahlah! Biarkan dia pergi,"


Prajurit yang menahan tanganku itu meludah sembarang lalu berkata, "kita harus beri dia pelajaran untuk tidak melawan tentara kerajaan!"


"Ambil belati itu! Mari kita lihat, apa pria ini berani mengancam kita jika lidah nya terpotong,"


Mataku melotot saat salah seorang prajurit itu mengambil belati yang terjatuh di tanah dan membawanya padaku


"Kopral Bruce!"


Prajurit yang menahan tanganku segera melepaskan tanganku ketika mendapati suara seorang wanita dari kejauhan


Seluruh prajurit itu tampak terpesona ketika seorang wanita dengan dua pelayannya mendekati kami


"Lady Carrisa," ucapnya segera melepaskan cekalannya pada tanganku


"Ayahku sedang mencarimu sedari tadi, ia ingin membicarakan sesuatu mengenai lahan pertanian denganmu,"


Pria itu tampak sumringah sebelum berdehem, "baiklah, My Lady. Tapi, pria ini harus diberi pelajaran terlebih dahulu,"


Aku tidak bisa melihat sosok wanita itu dari balik tubuh buntal Bruce namun, yang pasti aku harus berterima kasih padanya atas pertolongannya padaku


"Biarkan aku yang akan memberikannya pelajaran karena telah melukai ego mu, Kopral," ujarnya lembut


Kopral itu pun langsung mengangguk sebelum menaiki kudaku dan pergi bersama prajuritnya itu


Setelah kepergian Kopral bengis itu, aku akhirnya dapat menjejakkan kakiku di tanah kembali dan mengambil amplop yang kini sudah kotor itu. Aku membersihkan lumpur dari amplop itu sebelum sebuah suara muncul di sebelahku


"Apa kau baik-baik saja, Tuan?"


Aku sedikit terkejut waktu wanita bergaun sutra itu berada di sebelahku yang notabenya berlumuran lumpur hanya untuk mengecek keadaan pria asing yang baru saja di permalukan di depan umum


"Mereka memang selalu melakukan itu pada setiap orang yang mereka temui di jalan. Aku sudah memuak ketika mereka berlagak seakan kota ini adalah milik mereka,"


Aku tersenyum mendengar suaranya yang berubah kesal.


"Terima kasih atas pertolonganmu," kataku lalu hendak menaiki kudaku. Namun, lagi-lagi wanita itu mencegatku


"Ambilah ini untuk menghapus noda di wajahmu,"


Aku menatap sapu tangan yang sudah di jahit dengan inisial nama di ujungnya


"Tidak apa-apa, aku masih punya banyak di rumah. Oh, kau bisa membersihkan diri di rumahku jika tidak keberatan,"


Aku menatap wanita berwajah familiar itu dengan heran. Kenapa dia baik sekali padaku?


"Lady Carry!" Panggil dua orang pelayan wanita yang mendekati kami dengan tergopoh-gopoh


"Kenapa kau berlari seorang diri kemari, My Lady?"


"Oh tidak, apa kau menawarkan bantuan pada orang asing lagi? Apa anda lupa apa yang Ayahanda katakan?"


Lady Carry? Kenapa nama itu terdengar amat familiar di telingaku


"Tenanglah Isabel. Aku baik-baik saja, justru pria malang ini lah yang seharusnya kau khawatirkan,"


Aku berbalik ingin pergi begitu saja namun, satu nama yang pelayan itu sebutkan sukses membuat pegangan tanganku pada tali kekang mengendur


"My dear Montesque, Sir Roland mencari anda sedari tadi,"


***


TBC