
"We began with honesty, let us end in it too,"
-Rupi Kaur
***
Di hari berikutnya setelah kejadian cincin ku itu, aku tidak diperbolehkan keluar kamarku.
Aku harus mendekam disini, melukis, membaca, ataupun sekedar melamun sambil memandangi Henry berkuda keluar dari istana. Aku tidak mendapat kunjungan dari Baptiste sama sekali. Pria itu seakan di telan bumi. Walaupun aku aku yakin dia baik-baik saja tapi, perlakuan Henry kepadaku semakin berlebihan.
Fakta yang lebih parahnya lagi, rutinitas yang sudah kulakukan berhari-hari ternyata tidak semenyedihkan nasib orang-orang di luar sana. Kudengar dari Denish yang suatu pagi menangis terseguk-seguk saat menceritakan kekacauan di istana
Henry berubah menjadi amat sentimental dan sering marah-marah. Bahkan hanya karena masalah kecil, para pelayan maupun siapa saja yang berbuat salah akan di hukum bahkan lebih parahnya lagi jika mereka berani melawan, mereka akan berakhir mendekam di penjara.
Semakin hari perlakuan Henry kepada orang-orang semakin tak bersahabat dan semua ini harus segera di akhiri atau tidak rakyat akan memberontak dan melakukan kudeta lalu terjadi pertumpahan darah dimana-mana.
Aku mematut penampilanku di depan cermin saat Marta dan si kembar Denish membantuku mengenakan gaunku seperti biasa. Pikiranku sedang sibuk mencari cara bagaimana harus menghentikkan Henry dan sebersit ide cemerlang muncul di benakku.
Aku menunggu saat Marta dan Danish keluar lalu saat Denish hendak meninggalkan kamarku, aku segera menarik lengannya dan membawanya ke balik sekat pembatas untuk berganti baju.
"Apa anda yakin, Madam?" tanyanya setelah mendengar ide cemerlangku
Aku mengangguk mantap. "Ini adalah satu-satunya cara, Denish. Percaya padaku,"
Denish akhirnya setuju dan kami bertukar pakaian.
"Kau hanya harus berpura-pura melukis disana, para pelayan tidak akan masuk sebelum jam makan siang tiba,"
Denish menggemgam tanganku dan bisa kurasakan tangan bekunya bergetar ketika aku menyematkan cincin tunanganku di jari manisnya. "Tolong lekas pulang Madam, nyawaku ada di tanganmu,"
Aku menepuk lengannya lalu berbalik dan berjalan keluar, "tegakkan punggungmu, angkat dagumu. Kau adalah Victoria Maxwell sekarang!" Seru ku sebelum menutup pintu.
"Baiklah, apa yang harus kulakukan sekarang?" gumanku sambil menatap lorong kamarku yang panjang
"Aku harus menemukan Henry di ruang kerjanya," ujarku pada diriku sendiri
Masuk ke dalam ruang kerjanya tidak akan begitu sulit bukan? Batinku sambil berjalan dengan menundukkan kepalaku menuju lantai atas
Jantungku hampir saja berhenti kala seseorang menghentikanku yang sedang menaiki tangga. Aku melirik wajah kusut wanita di depanku yang membawa baki di tangannya.
"Kau pelayan Ratu kan? Ambil ini dan bawa ke ruang kerja Yang Mulia Raja Henry." Katanya ketus lalu memberikan padaku baki berisi sarapan Henry lalu pergi begitu saja
Aku menghela napasku lalu menaiki anak tangga dan berjalan cepat melewati para pengawal yang berpatroli. Ketika aku mendengar titah Henry untuk masuk, aku segera menarik napas sedalam mungkin lalu membuka pintu jati di hadapanku.
Disana tepat lima meter dari tempatku berdiri, Henry sedang sibuk dengan kertas dan penanya. Ruangan ini di dominasi dengan warna salem dan bau buku lama. Sejenak, mataku menatap sekelilingku dengan rasa kagum ketika merasakan sinar mentari hangat yang mengenai kulitku. Ruangan ini sangat nyaman, pantas saja Henry betah berjam-jam disini.
Suara deheman Henry membuatku terlonjak kaget. "Taruh di meja dan tinggalkan aku sendiri,"
Aku segera menaruh baki sarapannya di atas meja yang ada di dekatku. Lalu, aku berjalan menuju kearahnya.
"Beraninya k—"
Henry terdiam kala ia akhirnya menatapku yang berjalan kearahnya. Demi Tuhan, aku bisa melihat matanya yang sirat akan kerinduan sebelum ia menggantinya dengan wajah dingin.
"Selamat pagi, Henry!" sapaku menutupi kegugupanku
Kami bertatap mata sedetik dan setalahnya Henry berteriak, “Pengawal!"
Aku segera berlari cepat kearah Henry dan menangkup bibirnya.
"Aku mohon, beri aku waktu lima menit. Hanya lima menit," pintaku dengan lembut bersamaan dengan suara langkah kaki yang terdengar jelas di luar sana.
Aku menatapnya dengan wajah memohon lalu Henry menepis tanganku yang menutup mulutnya bersamaan dengan pintu ruang kerja Henry yang terbuka.
Aku langsung berjongkok dan menyembunyikan badanku di belakang meja kerja Henry.
"Yes, sir?"
"Jangan biarkan satu orang pun masuk ke ruang kerjaku apapun yang terjadi,"
Ketika mendengar suara pintu di tutup kembali, aku berdiri dengan semangat dan alangkah terkejutnya aku ketika kurasakan kepalaku menabrak sesuatu yg keras.
Mataku mendelik menatap apapun itu dan itu adalah dagu Henry.
"Astaga naga! Maafkan aku! Aku tidak sengaja," betapa paniknya aku membayangkan rasa sakit yang ia rasakan sekarang
Henry menatapku sengit sebelum berkata, "cepat katakan apa yang ingin kau katakan,"
Sudah lama rasanya aku menginginkan momen ini terjadi. Akhirnya aku bisa berbicara dengannya tanpa ada Patricia maupun gundik-gundik yang selalu menemaninya.
Mengingat malam itu, rasanya hatiku kembali ngilu. Sekarang, siapa aku di matanya? Apa aku hanya teman masa kecil nya? Tunangan nya? Ataukah aku hanya boneka politiknya?
"Kalau tidak ada yang ingin kau katakan—"
"Aku merindukanmu, Henry"
Dua kata itu lolos dari mulutku begitu saja. Rangkaian kalimat yang sudah kususun sedemikian rupa di benakku hilang bagaikan buih di lautan. Aku cukup terkejut dengan keberanianku.
Betapa beraninya aku mengatakan itu pada pria yang sudah kusakiti? Aku pasti sudah gila. Disaat seperti ini, kenapa hanya kata-kata itu yang keluar?
"Aku tau aku tidak berhak mengatakan ini semua setelah semua yang terjadi diantara kita,"
Ku tatap dengan lekat wajah pria yang telah membawaku ke istana megah ini dan memperkenalkan ku dengan deretan orang-orang kaya dan paling berpengaruh di negeri ini lalu berkata, "Tapi, kau harus tau satu hal. Aku tidak pernah ingin menyakitimu atas segala hal yang kulakukan di masa lalu,"
Aku mengusap air mataku yang jatuh begitu saja sebelum menghirup napas panjang, "aku memang egois dan tidak pernah menghargai perasaanmu. Aku tidak pernah menganggapmu ada sampai aku sadar bahwa aku telah menyianyiakan seseorang yang berharga di sisiku,"
Aku menatap manik kelabunya yang tidak bisa kujangkau itu. Aku hendak meraih tangan Henry yang ia letakkan di atas meja namun, pria itu beranjak dan menghindariku. Ia menatapku waspada.
Melihat semua gerak geriknya, hatiku mendadak perih mengetahui Henry tidak mendekapku di pelukannya setelah apa yang kukatakan.
"Aku mencintaimu Henry, kumohon jangan lakukan ini padaku," ungkapku saat pertahananku runtuh dan aku menangis sejadi-jadinya
"Aku juga sangat mencintaimu, V. Tapi, aku takut bahwa segala yang kau katakan adalah suatu kebohongan,"
Henry mendekatiku, ia berhenti melangkah saat jarak kami hanya tinggal sejengkal jauhnya
"Aku memang hanya diam saja selama ini mengetahui hubunganmu dengan pria itu. Tapi, aku tidak buta V,"
"Aku selalu berharap kau akan kembali ke pelukanku. Tapi, kita berdua tau kau tidak pernah memilihku,"
Bibirku bergetar mendengar penuturan Henry yang begitu menyakitkan. Aku tidak mau seperti ini. Aku tidak mau hubungan kami menjadi keruh seperti ini. Aku kemari bukan untuk ini.
"Henry kita bisa..."
"Tidak V. Dari awal aku salah. Seharusnya aku tidak memaksamu untuk mencintaiku selama ini. Aku terlalu egois denganmu hingga aku mengurungmu disini,"
Aku menatap Henry tak percaya. Dia tidak pernah memaksaku. Aku yang terlalu lama menyadari perasaanku.
"Aku tau kau melakukan ini untuk mengeluarkan Baptiste dari balik jeruji besi. Aku tau kau mencintai pria itu. Aku memberimu restu. Kau bisa menikahinya, pertunangan kita akan batal seperti kemauanmu," Henry melirik jari manisku yang tidak mengenakan cincin pemberiannya
"Tidak! Kau salah! Kau telah dibutakan oleh Pamanmu! Aku tidak pernah mengkhianati ataupun tidur dengan—"
"Kumohon V, sudah cukup," potong Henry dengan wajah muaknya
"Baiklah. Kalau itu maumu, tapi ingat, lukisan dua burung di kamarku adalah milikmu,"
Henry lantas berbalik dan berjalan dan membuka kan pintu
"Aku harap kebahagiaan selalu menyertaimu. Mulai hari, kau bebas kemana saja,"
Aku hendak bersuara namun, tunanganku itu sudah lebih dahulu berbalik dan berjalan dan membuka kan pintu
"Aku harap kebahagiaan selalu menyertaimu. Mulai hari, impianmu mengarungi samudera akan menjadi kenyatakan—“
Ia menarik napas seakan sulit sekali untuk mengatakan apa yang hendak ia katakan selanjutnya,
“—Silahkan, kau bebas kemana saja,"
Ini pertama kalinya kurasakan rasa kehilangan yang begitu besar di dalam diriku. Seperti sesuatu yang selama ini ada disana seketika lenyap begitu saja.
Aku berusaha melakukan kontak mata dengan Henry namun, ia membuang wajahnya begitu aku mendekatinya. Ia jelas-jelas sudah muak padaku.
Ketika kakiku baru melangkah keluar, pintu ruang kerja Henry langsung tertutup rapat.
Tak lagi memperdulikan para pengawal yang menatap kaget ke arahku, bahuku merosot ke lantai, hatiku sakit sekali. Tuhan, tolong aku..
Apa ini akhir hubungan kami?
***
TBC