
"You were almost mine and I was always yours,"
-0.1
***
Malam ini aku mendapatkan mimpi aneh. Mimpi yang sangat nyata hingga membuatku terjaga sepanjang malam.
Ku duduk kan bokongku di atas balkon kamarku sambil meneguk anggur merah. Cairan ini membantu tubuhku hangat di tengah derpaan angin malam yang membekukan.
Ku teguk sekali lagi sebelum menuangkan sebotol anggur merah ke dalam gelas saat memori hari itu melintas begitu saja di benakku. Aku bahkan bisa melihatnya dengan jelas di mataku ketika Henry kembali datang ke mansion kami. Biasanya ia datang hanya untuk sekedar makan siang bersama kami. Selayaknya hari itu.
"Setauku jarak antara kerajaanmu dan mansion kami ditempuh dalam waktu satu hari perjalanan," ujarku menyelipkan komentarku di sela-sela acara makan kami
Henry yang duduk di hadapanku tertawa sedangkan Ayah dan Ibu memberikan peringatan untuk menghormati seseorang yang memiliki status dua kali lipat diatasku lewat tatapan mereka
"Perjalanan ku sepadan dengan masakan lezat ini," ia mengangkat sendoknya, menunjukkan semangkuk Bouillabaisse yang sudah tak bersisa
"Benarkah? Kalau begitu kenapa tidak kau bawa saja Florest ke istana—"
Aku langsung menutup mulutku saat kurasakan kaki ku di tijak oleh Alex yang duduk di sebelahku
Aku menatap tak percaya pada adik ku yang sedang tertawa itu, "kau!"
"Bagaimana kalau kita berlatih ilmu pedang, Yang Mulia?" Kata Alex seakan tijakan kakinya bukanlah apa-apa
"Benar sekali, Yang Mulia! Diluar cuacanya sedang cerah. Ini waktu yang tepat untuk menikmati hangatnya mentari," timpal Ibu
Henry tersenyum pada Ibu dan Alex lalu ia menatapku kembali dengan wajah menyebalkannya, "tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan waktu bersama calon la soeur d'étape ku di masa depan,"
Aku yang sedang berusaha mengunyah tomat panggang ku seketika tersedak mendengar kesalahan di penuturan nya
Tawaku menguasai satu meja saat melihat Ayah dan Ibu segera menyeruput teh mereka guna menahan senyum yang hampir terlihat
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Mendengar pertanyaan polosnya, tawaku tak bisa berhenti. Bodoh sekali pria ini!
"Victoria!"
Aku segera mengulum bibirku saat Ibu menegurku dengan mata melotot. Jujur, ia terlihat mirip sekali dengan beruang kalau sudah seperti ini
"Tidak ada yang salah dengan pengucapan anda, Yang Mulia. Hanya saja ada sedikit kekeliuran kecil pada penempatan kata anda," ujar Ibu dengan lemah lembut bagaikan seekor angsa putih di Land of Dawn yang gemulai
"Benarkah?"
Lagi-lagi. Suara polosnya itu sangat tidak mencerminkan seorang pria yang telah pergi perang di usia belia.
"Sebaliknya, Henry. Kesalahanmu amat fatal! Kau tidak seharusnya menyebut adikku sebagai saudari iparmu," ucapku sambil melanjutkan makanku yang tertunda
"Oh astaga! Maafkan aku Ayah, Ibu, Alex. Aku tidak seharusnya menyebut Alex sebagai saudari iparku,"
"Sejak kapan kedua orang tuaku menjadi orang tua mu ju—Aw!!"
Aku melotot pada Ibu saat kakinya menendang dengkulku. Tadi Alex sekarang Ibu?!
"Tidak! Tidak! Yang Mulia! Jangan begitu! Itu adalah hal yang wajar mengingat sedari kecil bahasa ibumu adalah bahasa Inggris,"
Aku menahan tawaku mendengar pembelaan Ibu. Ayolah! Bilang saja dia bodoh!
Tawa canggung pun tak dapat di elakkan karena kini Henry hanya bisa menggaruk tengkuknya menahan malu.
***
"Victoria! Victoria!"
Aku meletakkan kuasku ke atas meja saat mendengar suara panggilan Ibu, bangkit dari kursi ku lalu membersihkan tanganku dengan lap. Tepat ketika tanganku telah bersih, Ibu masuk ke kamarku
Aku menatap pantulan wajah Ibu dari balik kaca yang menunggu jawabanku akan pertanyaan retorisnya. "Seperti yang Ibu lihat, aku sedang berenang,"
Ibu menatapku jengah sebelum memberikan keranjang piknik padaku.
"Pangeran Henry mencarimu sedari tadi. Pergilah temui calon suami mu dan jangan membuat keluarga kita dalam bahaya dengan kelakuanmu,"
Aku menahan rasa ingin memutar mataku dan mengambil keranjang piknik itu. "Untuk terakhir kalinya, Ibu. Aku tidak ingin menikahi pangeran manja itu!" Balasku sengit sebelum Ibu sempat berkata apa-apa, aku segera keluar dari kamar
Sebenarnya, dari seluruh wanita di negeri ini, kenapa dia memilihku? Kenapa dia tidak menikahi wanita bangsawan yang seumurannya dan hidup bahagia di kastilnya?
Kenapa dia harus menyertakanku di dalam setiap rencana gilanya? Tidak, terlebih dari itu, sihir apa yang dia gunakan sampai bisa membuat seluruh keluargaku menyukainya?
"V! Akhirnya kau datang!"
Aku menaruh keranjang piknik itu di atas hamparan kain saat Henry dan kedua adikku menyadari keberadaanku
"Harus kuakui kau sangat pandai bermain pedang, kawan!" Puji Alex sembari duduk di sisinya dan mengambil segelas susu dari dalam keranjang
Aku memperhatikan interaksi antara Henry dan kedua adikku yang terlihat akrab. Mereka saling tertawa, berbagi cerita, bahkan memiliki salam pria ala mereka sendiri
Well, sudah pasti dia seorang penyihir. Karena untuk mendapatkan hati kedua adikku tidaklah mudah. Buktinya, sampai sekarang mereka tidak mau bermain quiz matematika bersamaku
"Bagaimana menurutmu, V?"
Aku mengerjap saat ketiganya menatapku. Apa aku melewatkan sesuatu?
"Ayolah, V! Ini hanya terjadi sekali seumur hidup! Aku tidak pernah melihat istana sebelumnya!"
Istana? Jangan bilang kalau—
"Lagipula, Nenek Margaret merindukanmu. Ia terus bertanya kapan ia bisa bertemu denganmu,"
Aku menelan salivaku. Henry mengundangku ke istana dan bertemu dengan Neneknya? Apa... apa dia gila?
"Jika dia tidak berkata apa-apa, maka jawabannya adalah ya!" Seru Alex dengan semangat membuat Henry dan Louis bersorak
Aku segera menggeleng membuat sorakan mereka berhenti, "tidak pantas untuk orang asing seperti kita memasuki istana jika—"
"Siapa bilang kau orang asing? Kau adalah calon istriku. Calon Ratuku. Calon ibu dari anak-anak ku kelak. Tidak ada yang bisa menghentikan mu untuk datang ke istana. Apa aku benar, Alex, Louis?"
Alex dan Louis mengangguk antusias, mereka kembali bersorak. Di tengah sorakan adik-adikku, aku tidak bisa mempercayai pendengaranku. Calon istri katanya?
"Jadi, kau setuju kan?"
Aku menghela napas. Sebelum membuang tanganku ke udara. "Jika aku menolak apakah kau akan mengadu pada Ibu dan Ayah?"
Henry memberikan senyum jahilnya, "kau sudah tau jawabannya,"
Aku memutar mataku. "Baiklah,"
"Yes!" Henry berdiri, wajahnya yang dibanjiri keringat bersemu merah. Ia terlihat begitu bahagia, Alex dan Louis bahkan ikut berselebrasi dengannya
Di tengah keriuhan mereka, aku bisa menangkap ucapan terima kasih yang keluar dari bibir Henry.
Mengingat senyum nya, air mataku yang telah mengering tiba-tiba membasahi pipiku. Aku ingin memiliki satu percakapan terakhir dengannya. Ada banyak hal yang belum terucapkan. Namun, sayang bertemu dengan Henry adalah satu hal yang tidak bisa kudapatkan.
Kuteguk sekali lagi anggur merah dari botolnya lalu ntah mengapa, tawa ku seketika menggelegar mengingat betapa dulu aku membenci Henry karena selalu mengangguku dan sekarang aku menangis karena takut berpisah dengannya.
Ironis sekali.
***
TBC