Lady Engagement

Lady Engagement
Part 29: Battleground



"When I get mad at you that means I still care. Worry when I don't get mad,"


-Harley Quinn


***


Disini lah aku, berkuda di tengah hutan pada malam hari dengan dua orang tentara yang mengantarku menuju kawasan perang


Bagaimana bisa?


Ceritanya panjang, tapi aku akan menyingkatnya. Setelah aku keluar dari rumah Ollie dan berjalan tak tentu arah


Dua orang pria berbaju zirah menghampiri ku lalu menyuruhku mengikutinya, mereka bilang, Ollie memberi komando untuk mengantarku menuju tenda Henry


Setelah satu jam lamanya di jalan, aku akhirnya dapat melihat obor dan kapal-kapal dengan bendera England bersiap untuk pergi


Aku mengusap kedua mataku yang masih basah lalu mendekati Henry yang sedang berbicara dengan beberapa orang di sekeliling api unggun


"Henry,"


Pria yang berumur lebih muda dariku itu menoleh, ia menatapku sekilas sebelum memberi komando pada kedua prajurit yang membawaku kemari. Selepas kedua prajurit itu pergi, Henry lanjut berbicara dengan para petinggi militer disana


Aku membuang napasku kesal sebelum turun dari kudaku lalu melempar topiku ke dalam api unggun tersebut hingga mereka semua terkesiap saat melihat topi itu perlahan terbakar oleh api


"Beraninya kau!"


Henry akhirnya menatapku atau lebih tepatnya rambut panjangku yang tergerai begitu saja. Perlahan wajah kesalnya sirna. Ia berdiri lalu mendekatiku


"Tuan-tuan, kita akan lanjutkan percakapan ini di lain waktu,"


Henry menarik lenganku menuju salah satu tenda yang dijaga oleh dua orang pengawal sebelum menutup tenda itu dan memberi tatapan bagaikan Ibu yang siap mengomeliku saat aku tidak bangun di pagi hari


"Bagaimana kau bisa ada disini? Dan astaga! Apa kau gila! Kenapa kau menyamar menjadi pria lagi?"


Aku mendengus sebelum duduk di salah satu kursi kayu kecil disana. Aku lelah, benar-benar lelah sekarang dan aku tidak punya stamina lebih untuk beradu mulut


"V, katakan padaku. Kenapa kau bisa sampai disini dengan anak buah Roland? Kemana Baptiste?"


Henry semakin tak sabar dan kini mengambil tempat duduk di hadapan ku, sengaja memaksaku menatap wajah lelahnya. Sejenak aku bisa melihat kantung mata nya yang terlihat mengerikan yang menandakan bahwa ia tidak dapat tidur nyenyak selama berhari-hari.


Untuk itu, aku menelan ego ku, ini bukan saat yang tepat untukku menyalahkannya.


"Aku senang setidaknya selama dua tahun belakangan ini, kau tidak berubah," Aku meraih wajahnya dengan tangan kananku sebelum mengusap kerutan di antara alisnya


Ia merespon sentuhanku dengan menelan salivanya lalu menggemgam tanganku, "kau sudah membaca surat itu?"


Aku mengangguk. Ntah kenapa, perasaan sesak di dadaku sirna ketika wajahnya tersenyum


"Aku tidak menyangka respon mu akan secepat ini. Kupikir kau ingin aku mati di medan perang,"


Kali ini, aku yang tersenyum. Dia pandai mengubah suasana. Mataku memandang senyum yang ia berikan padaku. Senyum tulus itu seakan menunjukkan bahwa ia adalah pria paling bahagia di dunia ini. Mataku berkedip ketika Henry mengambil tangan kotorku dan menciumnya begitu saja


"V aku—ada apa dengan tanganmu?"


Aku sudah tak memiliki tenaga untuk memberontak saat ia menggulung lengan bajuku hingga menampakkan lebam kebiruan di beberapa tempat


"Demi Tuhan V! Kalau kau tidak mengatakan padaku apa yang terjadi, makan akan kucari siapapun dia dan kugantung kepalanya di Westminster Hall!"


Henry murka. Tangannya bergetar menahan amarah dan ketika ia tidak mendapati ku bersuara, ia berbalik dan hendak membuka tenda ini. Melihat itu, aku segera menahan tangannya


"Bisakah kau duduk sebentar dan dengarkan aku?"


Henry awalnya ragu sebelum akhirnya mengalah dan kembali duduk. Matanya tak dapat lepas dari luka-luka di tubuhku, membuatku mengulurkan lengan bajuku kembali tuk menutupinya. Aku dapat melihat Henry menggeletukkan giginya sebelum matanya beralih menatapku


"Aku berkelahi dengan Baptiste karena aku tidak ingin membaca suratmu dan dia pergi meninggalkanku. Jujur, keadaan di rumah tidak lebih baik dari sini sejak kepergian Alex,"


Aku menghirup udara sebanyak mungkin sebelum menyakinkan diriku untuk mengatakan semuanya pada Henry


"Lalu, setelah membaca pesanmu yang berlagak akan mati besok, aku berbohong kalau itu tidak membuatku khawatir. Maka dari itu, aku nekad untuk pergi kemari seorang diri untuk memastikan kau dan Alex baik-baik saja,"


Henry memejamkan matanya, aku tau perkataan ku memang tidak membuat keadaannya lebih baik, tapi aku harus melakukannya setidaknya sebelum ia pergi


"Kupikir menyamar menjadi seorang pria akan menyelamatkanku dari kecurigaan tentaramu namun, aku salah. Walaupun aku sudah menunjukkan surat ini—" aku mengeluarkan surat berlumuran lumpur yang kusimpan di dalam jasku dan memberikannya pada Henry


"—mereka meragukan keasliannya, karena tidak mungkin kau mengirimkan surat kepada seorang pria biasa dari Wilcastre. Luka ini kudapat karena mereka merudungku dan untung saja salah satu teman lamaku menyelamatkanku dari sana,"


"Dan ternyata ia adalah istri dari jendral mudamu, Roland. Lalu, begitulah cerita sampai aku bisa disini,"


Henry mengangguk. Ia akhirnya tidak marah lagi dan mulai memahami ku


"Aku tidak tau harus berkata apa, kesetianmu padaku membuatku terpana,"


Mendengar penuturan lembut suaranya, aku tidak dapat menahan senyumku


"Henry," panggilku lagi


Jujur, aku ingin menceritakan segalanya pada pria ini namun, aku tidak ingin memberatkan beban yang ada di kedua punggungnya. Ia harus pergi berperang besok dan aku sudah lebih dari cukup untuk menahannya


"Yes, My Love?"


Aku tak dapat menahan jantunku untuk berhenti berdetak kala mendengar panggilannya padaku. Demi martabatku, aku berdiri, membuang muka kemana saja asal tidak pria tampan ini


"Bisakah kita tidur sekarang? Berkuda seharian membuat badanku mati rasa,"


Sejenak aku dapat melihat mata Henry berkilat, namun aku segera mengoreksi ucapanku


"Kurasa kita tidak akan muat di kasur kecil ini. Oh aku lupa, ksatria kebanggan England pasti tidak masalah jika tidur di lantai," ujarku sembari melihat karpet bulu yang kami tijak saat ini. Tak menunggu respon darinya, aku segera melepaskan sepatuku lalu melompat ke atas matras keras dan menarik selimut wol hingga menutupi separuh tubuhku


Henry tersenyum sebelum meniup lentera yang menggantung di tiang lalu dapat kurasakan ia mencium keningku, "Tidur nyenyak, My Love,"


Lalu ia keluar dari tenda dan dapat kurasakan pipi ku memerah. Dasar pria penggoda!


***


TBC