
"I feel like I'm waiting for something that isn't going to happen,"
-Victoria M.
***
Suasana di meja makan berubah genting saat Ollie kembali bersuara dengan suara tegasnya pada seluruh pelayan serta istri tercintanya untuk meninggalkan kami
"Roland," panggil istrinya gusar ketika melihat arti dari tatapan nya padaku
"Sekarang,"
Detik itu juga, Carrissa meninggalkan meja dengan seluruh pelayan yang berada di ruangan ini. Ketika pintu itu tertutup dan hanya menyisakan kami berdua, aku mengangkat gelasku
"Selamat atas pernikahanmu, Ollie," sindirku
Ollie tak beriak sesaat sebelum ia mengusap wajahnya. Setelahnya, aku dapat mendegar helaan napas beratnya. Gerakan itu, dia sedang menahan amarahnya sekarang
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sengaja memberiku kejutan seperti ini?"
Aku mendengus, beginikah permulaan percakapan pertama kami setelah dua tahun tak bertemu?
"Victoria," ia menggeram kala aku tak kunjung menjawab pertanyaanya
Aku mengabaikan rasa sakit di dada ku dengan menarik kumis palsu dari atas bibirku lalu berdiri dan mengambil langkah mendekatinya
"Aku tersanjung, kau masih mengingat namaku,"
Aku kembali mendengar hembusan berat napas Ollie sebelum ia mencoba meraih tanganku, "Victoria, dengar, aku—"
"Tidak! Kau yang dengar! Betapa teganya kau melakukan semua ini padaku! Kau kira perasaan ku hanya lah permainan mu saja? Kau kira setelah apa yang terjadi diantara kita, kau bisa pergi begitu saja?"
Aku membuang wajahku tak kuasa melihat tatapannya yang membuat hatiku tambah perih.
"Demi Tuhan, Ollie! Kau kira semua waktu sialan yang kuhabisan untuk berdo'a dan menunggu mu kembali hanya untuk melihatmu memanggil wanita lain 'istriku'?"
Ollie membetulkan posisi duduknya ketika wajahku hanya beberapa centi saja darinya. Matanya yang menatapku seakan mengatakan kalau ia juga merasakan betapa sakitnya hatiku saat ini. Hanya saja, kami berdua tau dia tidak merasakannya
"Victoria, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku benar-benar ingin menikahimu. Aku tidak pernah berbohong saat aku bilang aku mencintaimu Victoria,"
Ollie mengambil tanganku, ia menggemgam nya dengan lembut seakan apa yang ia katakan adalah suatu kebenaran
"Tapi aku tidak bisa membuat seorang gadis kecil hidup tanpa Ayah, tidak saat kau tau betapa sengsaranya dahulu aku harus pindah ke rumah Ibuku dan memanggil pria asing dengan sebutan Ayah,"
Pertahananku runtuh dikala air mataku mulai jatuh. Melihat Ollie meneteskan air matanya. Demi Tuhan, dia tidak pernah sekalipun menangis di hadapanku sebelumnya. Namun, hatiku yang rasanya hancur ini enggan menerima semua kata-katanya.
Aku merasa dikhianati. Penantianku selama ini, selama bertahun-tahun lamanya sejak kali pertama kami berciuman dan membagi rasa. Dia lah satu-satunya pria yang ku cintai. Ah, cinta? Inikah namanya cinta? Dikhianati. Dihancurkan. Dibuang. Hanya itu yang kurasakan saat ini jika seseorang mengatakan kata itu
"Aku tau aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi, aku mohon Victoria.. Demi kita berdua, lupakan segalanya dan lepaskan aku. Biarkan Clarrissa dan Fiona sendiri, mereka tidak bersalah, mereka hanyalah korban dari nafsu liarku,"
Aku menarik tanganku disaat bayangan wajah polos Fiona yang duduk di sebelahku muncul. Kejam! Pria yang duduk di hadapanku ini bukan lah Ollie yang kukenal. Ollie tidak pernah menyakiti wanita! Ia tidak mungkin melakukan hubungan terlarang.
"Victoria, kumohon.. katakan sesuatu, aku tau semua ini sudah terlambat. Kau bisa benci aku sepuasmu tapi tolong, jangan benci Carrissa dan darah dagingku. Mereka tidak bersalah. Akulah yang pantas disalahkan! Aku menghancurkan 'kita' di hari aku bersumpah di hadapan Tuhan untuk menerima Carrissa sebagai istriku,"
Air mata Ollie kembali jatuh di saat aku kembali menangis.
"Bisakah kau melupakanku?"
Melupakannya? Setelah semua ini? Setelah semua hal yang telah kulalui dia lebih memilih 'istri' nya daripada aku?
"Victoria.."
Ollie berusaha menggapaiku yang berjalan menjauhinya hingga ia terjatuh dari kursi dengan amat mengenaskan. Ia mengerang kesakitan memegangi kedua kakinya. Aku berbalik, hendak pergi darinya, namun, badanku tak dapat bergerak ketika melihat Ollie yang merangkak mendekatiku.
"Apa yang kau lakukan?"
Aku segera mengambil langkah mundur melihatnya berusaha sekuat tenaga mendekatiku dan seketika tubuhku menabrak sesuatu di belakangku. Mataku melihat sekilas benda apa yang ada di belakangku. Ada yang berbeda dari kursi tersebut. Ada dua roda besar di kanan dan kirinya.
"Aku tidak ingin membuatmu hidup dengan pria memalukan sepertiku dan.. dan Carrissa lah satu-satunya wanita yang mau menerimaku dengan kondisiku seperti ini,"
Melihat Ollie yang merangkak menuju kursi roda itu, seketika air mataku meleleh. Isak tangis lolos begitu saja dari bibirku melihat Ollie, sang jendral kebanggaan kami kini lumpuh dan kondisinya benar-benar jauh dari kata baik-baik saja
"Sejak ka—"
Pertanyaanku di interupsi oleh suara bantingan pintu di belakangku yang terbuka lebar. Carrissa berlari masuk dengan panik saat melihat Ollie merangkak di lantai
"Pelayan! Pelayan!"
Kedua pelayan yang tadi mengantarkanku ke kamar segera membantu Carrissa menaikkan Ollie ke atas kursi rodanya, lalu setelah nya mereka membawa Ollie pergi dari sini sedangkan aku hanya dapat berdiri mematung memandang semua yang terjadi di hadapanku
"Aku tidak tau apa yang suamiku bicarakan padamu. Tapi, kumohon, segera tinggalkan rumah kami," ucap Carrissa tegas tanpa menatapku lalu meninggalkanku di ruang makan ini sendirian
***
TBC