
"The most painful goodbye are the one that are never said and never explained,"
-thisislovelifequotes
***
Sejak terakhir kali aku dan keluarga meninggalkan kediaman kami di Perancis, nasib kami semakin kacau.
Perang tak kunjung usai setelah dua tahun lamanya, rakyat semakin tersiksa dengan pajak yang ada hingga jatuh miskin karena ladang maupun lahan mereka di bantai
Sudah tak asing lagi mendengar tetanggamu menangis di tengah malam ketika mendapati kabar bahwa suami, anak, atau bahkan saudara mereka meninggal di medan perang
Para pelayan di rumah kami terpaksa di berhentikan karena masalah keuangan keluarga kami yang tidak stabil. Hanya tersisa Maria, Florest, Mr. Carlos, Paman Paul, dan si kasar Baptiste saja yang setia menemani kami disini.
Setelah berpindah-pindah selama tiga kali, akhirnya kami dapat menetap di salah satu properti Ayah di luar kota, tepatnya di daerah Castle Combe, Wiltshire.
Ketika mencapai salah satu rumah disini, aku dikagetkan dengan panorama alam yang indah serta rumah-rumah sederhana yang berjejer di tepi sungai terlihat jauh berbeda dengan rumah-rumah di Perancis. Disini, seni arsitektur mediavel terlihat menonjolkan sisi uniknya tersendiri
Namun, sayangnya, keindahan ini tak dapat menutupi kepedihan di hati kami ketika mendengar Paman dan Bibi Montesque meninggal dunia
Aku tak dapat menahan hatiku untuk tidak khawatir pada Ollie. Apakah ia baik-baik saja disana?
Bagaimanapun caranya aku menghubungi Ollie, hasilnya tetap nihil. Surat-surat itu kembali lagi padaku. Sejak itu, aku memutuskan untuk menunggunya saja seperti saat kami masih kecil
Mendengar rumor bahwa keadaan di medan perang semakin mencekam, tak ubahnya dengan suasana di rumah. Ayah jatuh sakit, Ibu semakin kurus, dan Louis membisu
Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, awal musim semi kemarin, Alex pergi untuk memenuhi tugas membela negara. Dan sampai detik ini, ketika salju telah turun, kami masih tidak mendapati kabar darinya
Setelah kepergian Alex ke medan perang, rumah besar ini mendadak terasa asing. Tak ada lagi candaan di meja makan, tak ada lagi makanan hangat di atas meja, tak ada lagi rumah yang 'nyaman'
"Florest, kau sudah membeli koran terbaru hari ini?" Tanya Ibu ketika ia baru duduk bersama kami di meja makan
"Ini, Madam," ujar Florest sembari memberikan koran kepada Ibu
Aku dan Louis menatap mimik wajah Ibu yang menahan kesedihannya ketika tidak mendapati kabar di medan perang baru-baru ini
Ibu menutup mulutnya dan pergi dari meja makan, sementara Louis segera menarik koran itu dan membaca sampul depan yang dihiasi foto para jenazah
Aku dan Louis mencari dengan teliti nama-nama para prajutit yang meninggal dan untungnya, kami tidak mendapati nama Alex disana
"Syukurlah," ujarku lega kepada adik laki-laki ku itu
Ntah sudah berapa lama aku memandang kayu-kayu itu terbakar sampai Baptiste datang menginterupsiku
"Lady Victoria,"
Aku mengerjap, menatap pria brewok itu tanpa minat
"Yang Mulia menyuruhku untuk mengantarkan surat ini padamu,"
Aku menerima surat berstampel kerajaan itu lalu membuangnya ke atas meja. Kalau bukan karena pertunangan konyol ini, mungkin sekarang aku dan Ollie sudah menikah bukannya terpisah kembali seperti saat ini
"Apa kau tau apa yang kau lakukan di hadapan prajurit setia Pangeran?"
Aku menghela napasku dan tidak bergeming membuat Baptiste menghentakkan meja, "itu adalah surat yang ditulis langsung oleh calon suamimu, bodoh!"
Mendengar penuturan Baptiste aku tertawa. Apa tadi katanya? Calon suami?
"Kalau dia memang ingin menikahiku, kemana dia dua tahun belakangan ini?"
Baptiste mengeratkan pegangannya pada pedangnya sambil berkata, "kalau bukan karena kekhawatirannya padamu, aku tidak akan sudi meninggalkan sisi pangeran dan pergi jauh-jauh kemari hanya untuk mengantarkan surat pada wanita rendahan sepertimu,"
Aku terperangah mendengar ucapan kasarnya padaku. Berani sekali dia mengataiku wanita rendahan
"Apa kau pikir aku juga mau berdiam diri di rumah sementara mengetahui adikku sedang berjudi dengan nyawanya? Kau seharusnya tetap di medan perang dan bawa Adikku kembali bukan mengantarkan surat bodoh ini untukku!"
Ntah karena omonganku yang tajam ataupun amarah terpendam Baptiste kepadaku, mata pedang tajam yang panjang nya satu meter lebih itu kini berada di leherku
Baptiste menatapku dengan ganas, ia bisa dengan mudah menebas kepalaku sekarang. Namun, detik ketika mata kami bertemu, ia menarik pedangnya kembali
"Aku akan menunggu saat kemenangan atas Perancis tiba dan menunggu saat Pangeran melupakanmu dan menebas kepala wanita berdarah Perancis sepertimu,"
Aku menatap kepergian Baptiste dengan jantung berdebar-debar. Bagaimana ia tau kalau Ayahku berdarah Perancis? Hanya keluarga kami sajalah yang berhasil menyebrangi Pas de Calais dengan selamat tanpa dibantai oleh otoriter setempat
"My Lady, apakah anda baik-baik saja?"
Aku tak menggubris keberadaan Maria dan segera membuka isi amplop di atas meja itu. Ketika membaca untaian kata disana, aku bergegas mengganti pakaianku dan pergi dari rumah.
***
TBC