
"I was so in love with you that I ignored how horribly you treated me,"
-Henry
***
Aku sedang melukis dua ekor burung gereja yang tengah memakan biji-bijian di daun jendela saat ide cemerlang terlintas di benakku. Dengan segera aku menaruh kuasku di meja bantu lalu keluar dari kamarku.
"Ma'am, anda mau kemana? Ini belum waktunya makan malam,"
Aku menoleh kala dua orang pengawal istana mulai mengikutiku dari belakang. "Apa Yang Mulia masih berada di ruang kerjanya?" tanyaku, tak memperlambat tempo jalanku.
Dua minggu di istana, aku sudah berhasil menghapal jadwal harian Henry dan segala aktivitas tambahannya. Kali ini, aku yakin kesempatanku terbuka lebar.
"Seharusnya begitu, Ma'am."
Aku telah sampai di lorong ruang kerja Henry saat aku kembali mengutarakan pertanyaan basa-basi, "apa kalian tau menu makanan favorit Yang Mulia?"
Mereka saling memandang satu sama lain sebelum menggeleng.
"Kalau begitu, bisakah kalian menanyakannya pada koki istana? Oh jangan lupa bawakan buku resepnya juga,"
"Ma'am kami—"
"Shush! Cepat bergerak! Waktu kita tinggal sedikit sampai jam makan malam tiba. Aku akan ada di kamarku ketika kalian kembali,"
Kedua pengawal itu tampak berpikir ulang sebelum akhirnya mereka meninggalkanku sendiri.
Aku hendak mengetuk pintu ketika suara tawa keras dari dalam ruangan menggelegar. Sayup-sayup aku dapat mendengar namaku disebut.
"Apa kau serius ingin menikahi wanita aristokrat berdarah Perancis itu?"
Aku melihat sekelilingku sebelum menempelkan kupingku ke daun pintu ketika mendengar suara lantang itu. Sepertinya mereka sedang beradu argumen di dalam ruangan. Aku tak sabar menunggu jawaban apa yang hendak Henry katakan.
Sudah lewat bermenit-menit lamanya telingaku menyatu dengan daun pintu, aku tidak kunjung mendengar apapun
"Ayolah, kawan! Aku sudah mengenalmu dari dulu. Kau tidak mungkin memiliki perasaan pada wanita rendahan yang menjunjung harga dirinya itu bukan? Kita semua tau bahwa si bohay Patricia jauh lebih cocok bersanding denganmu!"
Aku menahan emosiku ketika mendengar suara siapapun pria yang memiliki aksen Selatan itu.
Tapi, lebih dari itu, ada keraguan yang meluap dari dadaku. Kalau memang betul apa kata Baptiste bahwasanya Henry memiliki perasaan terhadapku, bagaimana mungkin teman-teman Henry bisa berkata seperti itu?
"Kau telah menjadi seorang Raja, Henry! Kau perlu dukungan kuat dari kaum bangsawan negeri ini untuk mempertahankan takhta mu,"
"Baiklah, kalau kau bersikeras. Kami semua disini hanya ingin agar kau dapat menyadari betapa cerobohnya keputusan yang kau buat. Jangan lupa janji kita sore ini, oke?"
Aku segera bertindak saat mendengar langkah kaki mendekat. Mataku mencari tempat persembunyian di sekitar ruang kerja Henry dan akhirnya kuputuskan untuk bersembunyi diantara lemari berisi hiasan dari batu kristal dan patung besar Venus de Milo yang legendaris.
Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya aku ketika melihat salah satu pria yang meledekku di dalam ruangan tadi. Mataku tidak akan salah mengenali wajah pongahnya. Ya, dia adalah pengusaha kapal dari Spanyol, Ale.
"Apa kau yakin Yang Mulia akan memberikan gadis itu padamu, Al?"
"Apa kau meragukan pengaruhku di kerajaan ini?"
Mereka, teman-teman disekitarnya tertegun sebelum Ale melanjutkan ucapannya, "remaja labil yang hanya beruntung di medan perang itu tidak akan lama lagi berada di kursinya. Ia tidak sadar bahwa medan perang yang sesungguhnya ialah di dalam bangunan yang ia sebut rumahnya sendiri,"
"Aku tidak sabar mendengar rintihan Victoria ketika ia berada di atas ranjangku," ungkapnya terakhir kali
Mereka tertawa, pria-pria berdarah bangsawan yang mengaku berada di pihak Henry secara terang-terangan melemparkan guyonan kurang ajar satu sama lain.
Aku memperhatikan punggung Ale dan beberapa teman Henry yang menghilang di ujung koridor lalu mengalihkan perhatianku pada cincin yang tersemat di jariku. Aku melepaskannya dan mengamati cincin berlian itu dengan seksama.
Siapa sebenarnya Henry?
Apa dia orang yang mencintaiku dan rela berkorban segalanya untukku seperti kata Baptiste? Ataukah ia pria yang berniat memanfaatkan keluargaku lalu menjadikanku gundik untuk teman-temannya?
Mataku mengamati cincin itu lebih seksama dan momen ketika aku menangkap inisial nama kami disana, sebuah suara bariton mengagetkanku
"Sedang apa kau disini?"
Cincin itu terlepas dari tanganku dan menggelinding begitu saja di lantai. Mati aku!
"Astaga Bap! Cincinku!" Pekikku panik ketika membayangkan reaksi Henry mendengar cincin Ibunya hilang
Aku bangkit dan berlari mengikuti kemana cincin itu menggelinding. Kaki-kaki para pengawal yang lewat tak sengaja mengenainya dan kini ia terlempar jauh
"Ya Tuhan! Maafkan kami, Ma'am!"
Aku mengabaikan ucapan maaf pengawal yang lewat itu lalu berteriak frustasi. Sekarang ada dimana cincin itu?
"Bisa kalian bantu aku menemukan cincin tunanganku?" Tanyaku pada kedua pengawal yang sedang berpatroli itu
"Kau cari di sudut sana! Kau disana!" Titahku pada keduanya
"Miss. Victoria, apa yang—"
"Bap! Ini semua salahmu! Jika kau tidak mengagetkanku maka cincin itu tidak akan hilang sekarang,"
Baptiste menatapku sepersekian detik sebelum ia berjongkok. "Aku harus kemana?"
Aku tak dapat menahan senyum yang terukir di bibirku kala melihat tingkahnya, lalu aku menunjuk sisi tangga yang berada di belakang kami. "Pasti cincin itu ada di salah satu tempat di ruangan besar ini,"
Ntah sudah berapa lama kakiku berjalan jongkok dan mencari di setiap sudut sampai akhirnya mataku menangkap benda mengkilau yang berada di bawah kaki lemari.
"Bap! Kemari!" Pekikku girang. Akhirnya!
Aku menunggu Bap mengambil cincin itu dari sana, hingga akhirnya sampai di tanganku dengan selamat. Aku tak dapat membendung air mataku. "Terima kasih, Bap! Terima kasih," ungkapku lalu memeluknya.
"Selamat Madam Victoria! Kami ikut senang!"
Aku memberikan senyumku pada kedua pelayan itu sebelum mengurai pelukanku pada Baptiste dan menyematkan kembali cincin tunaganku di jari manisku.
Prok! Prok! Prok!
Perhatian kami segera teralihkan ke arah sumber suara. Refleks, aku dan Baptiste segera bangkit dari posisi kami yang berpelukan sambil duduk di lantai.
"Kau benar-benar pandai membuatku terkesan,"
Aku menatap Henry yang berjalan dengan tiga orang selir Paman Charles yang keluar dari ruang kerja Henry.
Mengabaikan ketiga selir itu, aku menatap Henry yang mendekatiku tak paham. Terkesan? Apa maksudnya?
"Setelah jendral muda itu sekarang kau hendak merayu tangan kananku? Apa ini sifat aslimu?"
Merayu? Hatiku terasa perih kala mendengar penuturan Henry di hadapan pelayan dan para pengawal yang membantuku mencari cincin Ibunya itu.
Mulutku tak dapat berkata-kata. Aku ingin marah. Ingin mengatakan bahwa dia salah paham. Tapi apa daya, dia lebih mempercayai perkataan teman-temannya daripada aku.
Baptiste hendak membantah, pria itu ingin membela harga dirinya namun, tangan Henry yang terangkat ke udara mematikan nyali nya.
"Jangan membuatku semakin ingin membakarmu hidup-hidup, Baptiste,"
Aku tertegun. Wajah dingin dan bengis Henry membuatku merinding. Ucapannya tak main-main, ia murka.
Atmosfer penuh intimidasi membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa terancam. Satu saja kata darinya, maka nyawa kami semua akan berakhir di tiang gantung.
Dari sini, aku bisa melihat dari sudut mataku kedua pengawal yang tadi membantuku mencari cincin sudah berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Baptiste perlahan ikut menunduk, ia berlutut bagaikan seorang kstaria yang akan di sumpah. Henry tak membiarkannya begitu saja karena setelahnya calon suamiku itu menarik pedang dari dalam sarung Baptiste dan mengarahkan mata pedangnya tepat di leher Baptiste.
Semua orang terkesiap melihat pergerakan nya yang cepat. Ini sudah kelewatan. Aku harus menghentikannya atau ia akan menyesali perbuatannya
"Henry—"
"Diam kau wanita kotor! Satu kata darimu maka kepalanya akan menggelinding di lantai,"
Aku menatapnya tak percaya. Dia bukan Henry. Dia bukan sosok pria penyayang yang aku kenal selama ini. Henry tidak pernah semarah ini, dia tidak pernah memakiku.
"Ada ribut-ribut apa ini, Henry?"
Situasi mencekam ini tambah keruh kala Nenek Margaret mendatangi kami. Ia dan seluruh anggota parlemen di belakangnya terdiam seketika melihat mata pedang yang berada di leher Baptiste. Para pelayan yang lewat berhenti dan segera menundukkan kepalanya. Dalam sekejap, ruangan ini menjadi ramai. Namun, tak ada satupun yang berani membuka mulutnya
"Henry my dear. Tenangkan dirimu, apa kau tidak malu melakukan hal seperti ini di depan semua pasang mata yang melihatmu? Jangan lupa, kau adalah Raja Britania Raya, cucukku. Mereka menjadikanmu contoh. Semarah apapun dirimu, menebas kepala orang bukan jalan keluarnya, my dear"
Henry menatap Neneknya lekat. Sebelum melunak dan akhirnya menarik pedang itu dan melemparnya ke lantai.
"Aku tidak melakukan ini untuk mu," ungkapnya pada Nenek Margaret lalu berbalik dan kembali ke ruang kerjanya tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Semua orang akhirnya bubar dan meninggalkanku dengan Nenek Margaret seorang diri. "Victoria sayang. Maafkan perlakuan Henry jika ia menakutimu. Seumur hidupku mengasuhnya, ia tidak pernah semarah ini. Apapun masalahnya, maukah kau berjanji untuk menyelesaikannya dengan kepala dingin?"
Aku tersenyum lemah pada Nenek Margaret, dan wanita tua itu mendekapku dalam pelukannya, "Henry bukanlah pria yang kejam, sayang. Dia hanya terkadang dibutakan oleh kecemburuan di hatinya,"
Aku membalas pelukan Nenek Margaret. Walaupun aku ingin percaya semua kata-kata Nenek tapi, aku masih tidak bisa melupakan kilatan amarah di matanya. Bibirnya yang membentakku bahkan wajahnya yang telihat begitu dingin dan mengerikan.
Semua ini membuatku semakin meragukan perkataan Baptiste. Ia tidak mungkin mencintaiku.
***
TBC