Just A Little Bit Of Your Heart

Just A Little Bit Of Your Heart
Hamil?!!



Hari ini, sangat melelahkan bagiku. Terlebih kegiatan dilakukan dioutdoor, berjalan mengikuti Nate dan klien sambil membawa berkas dan sesekali mencatat hal penting untuk proses pembangunan proyek baru. Beruntungnya aku sempat meminum vitamin agar kandunganku sehat dan kuat saat tadi pagi.


"Kamu lelah? Kalau mau istirahat, dimobil aja. Disini terlalu banyak debu, kasian baby.." Nate terlalu baik padaku, apalagi menyangkut kehamilan anakku.


"Baik pak, nanti saya istirahat. Sekarang nanggung, file yang tadi bapak minta kirim lagi saya kaji ulang" ucapku masih berkutik dengan laptop dan beberapa file penting seputar pembangunan proyek.


"Kamu bisa kerjain dimobil, Maria" baiklah, akhirnya aku mengerjakan tugas ini didalam mobil. Aku berjalan dengan hati-hati, menuju mobil milik Nate.


Anakku hari ini baik dan pengertian sekali, dia hanya bergerak beberapa kali hari ini. Dan saat aku mengelusnya dia akan langsung berhenti bergerak. Beberapa bulan lagi ia akan lahir kedunia, dan ku harap pernikahan ku akan membaik dengan kehadirannya diantara aku dan Austin.


Drrtt... Drrtt..


Mama. Ada apa dia menelponku?


"Halo ma.. Ada apa? " tanyaku.


"Maria... Hiks, kenapa nak?? Kenapa?! " aku terkejut mendengar suara mama, mama menangis?


"Ma.. Kenapa? Mama kenapa nangis?!" tanyaku khawatir.


"Tasya... Di.. Dia, dia hamil nak" ucapan mama membuat aku terdiam. Hamil?? Tasya hamil.


"Maria.. hiks.. Kenapa kamu gak bilang! kalau kamu dan Austin gak baik-baik aja?!! Kamu biarin adik kamu menghancurkan pernikahan kamu sendiri, nak?!" aku masih diam, tanpa sadar setetes air mataku meluruh dipipiku.


"Tasya hamil, dan Austin yang menghamilinya nak.." Sudah. Air mataku sukses mengalir tanpa bisa dicegah..


"Maa.. aku lagi kerja, nanti kita bahas dirumah aja ya.. mama gak usah nangis lagi, aku dan cucu mama sedih dengernya ma.. Okay, bye maa." ku tutup panggilan mama tanpa menunggu jawaban darinya. Aku menangis. Lagi. Oleh orang yang sama, Lagi.


Baru saja aku berharap, jika pernikahan ku akan berjalan baik dengan kehamilanku, dan calon bayiku ini. Tapi sepertinya Tuhan tak mengizinkanku untuk sekedar berharap pada pernikahanku dan Austin. Dia langsung memberikanku kesadaran, bahwa Austin hanya milik Tasya. Dan sekarang, Austin hanya milik Tasya dan calon anaknya.


"Lalu aku harus bagaimana?? aku harus apa?! hiks.. bayiku bagaimana? hiks.. hiks.." ku gigit bibirku untuk meredam tangisanku, tak peduli jika akan berdarah toh kesakitan dan luka sudah berteman baik denganku.


"Mau menikah denganku?"


"Nate" aku terkejut. Sejak kapan Nate masuk? Dan apa dia gila mengajakku menikah, disaat aku masih sah menjadi istri orang lain. Terlebih aku tengah mengandung.


"Kenapa? terkejut?! sini sini.. menagislah.. sini, dadaku kan tercipta untukmu..." ia menarik tubuhku untuk dia peluk, sahabatku sudah gila rupanya.


"Hei!!! Kau gila ya.. aku tengah hamil, seenaknya saja kau menarikku, lagi pula mana bisa aku menangis didadamu" ucapku lirih.


"Kenapa tidak bisa? Suami mu saja tidak pernah memelukmu seperti ini kan? Maria.. sudah ku bilang, aku mengetahui tingkah laku suamimu.. Semuanya.. Kau tau bahwa aku mencintaimu, aku akan menerima keadaan mu." Aku takkan terkejut lagi dengan pengakuannya.


Saat itu bertemu dengannya lagi, tanpa pikir panjang bahwa dia mengakui perasaanya padaku. Sejak dulu, saat ia masih jadi seorang pengangguran.


"Nate... aku ini sudah menikah, dan saat ini aku tengah mengandung, sebentar lagi aku akan jadi seorang ibu. Lebih baik kamu cari wanita cantik dan baik yang tepat untukmu" ku coba memberikan pengertian padanya. Ku harap berhasil.


"Untuk apa? Kau itu sudah yang paling tepat untukku, Maria" dapat ku dengar dengusannya, tanpa mau berdebat lagi. Ia membuang pandangannya ke arah lain. Dan aku pun tak ingin memperpanjang perdebatan ini. Tentu saja, aku sudah terlalu lelah dengan permasalahan diriku sendiri.


*****


Sore hari, aku sampai dirumah. Ku lihat mobil Mama papa ku dan mami papi dari Austin. Ku hirup napas sebelum masuk kedalam, sebelum bertemu dengan mereka. Dan menghadapi masalah yang mereka buat.


"Ma.. pa.. " aku langsung berjalan menuju orantua kandung ku. Mama masih menangis rupanya.


"Maria.. " Mami mertuaku berdiri dan memelukku, tak lupa ia juga menangis.


"Mami kenapa nangis?" tanyaku masih mengelus punggung mertuaku.


"Kenapa?? masih tanya kenapa Maria.. kamu menahan rasa sakit ini sendirian? Kamu bertahan dirumah ini dengan berbagai macam hal menjijikkan yang dilakukan oleh suami dan adikmu?!!" ucap Mama mertuaku meninggi.


"Mi.. udah.." papa berdiri coba menenangkan mama mertuaku .


"Ma.." ku lihat wajah mama ku yang merah dan sembab. Aku tau pasti ini sangat menyakitkan untuknya. Pernikahan anaknya harus hancur karena anaknya yang lain.


"Kamu pulang bareng kita aja ya.. Mama gak mau kamu disini, mama udah tau semuanya dari bik Sum.. sudah beraa banyak tamparan yang mendarat dipipimu nak.. berapa banyak kamu menahan kesakitanmu, berapa kali kamu menahan kram diperutmu yang tengah mengandung?? Mama tau nak.. mama tau.." aku hanya diam dalam pelukan mama ku, aku hanya tak ingin menambah beban lagi.


Bayi dalam perutku belum kuat menahan emosi dan pikiran negatif yang ku terima. Aku juga sakit mendengarnya, aku ingin marah, aku juga manusia yang punyai amarah. Hanya saja, aku masih mementingkan anakku.


"Maafkan Papa nak, papa udah maksa kamu dalam perjodohan ini" Papa memelukku dengan isakkannya, aku tersenyum padanya. Aku tak ingin ia sedih, terlebih ia sedang sakit.


"Sorry ma, pa.. Om tante, sebenarnya Kelvin udah tau kalau Austin dan Tasya memiliki hubungan, lima bulan lalu. Dan Kelvin sebenernya ingun bilang sama kalian kalau sibreng**k ini punya affair sama anak pungut ini" aku sontak terkejut dengan ucapan Kelvin.


"Jaga ucapanmu, bocah" Austin yang sejak tadi diam kini bersuara, setelah Tasya dihina adikku. Aku tersenyum miris, jangankan untuk membelaku. Justru dia yang selalu menghinaku.


"Aku akan tetap menikahi Tasya, terserah kalian setuju atau tidak. Dan.." Austin melirikkan matanya padaku sebentar namun dengan cepat ku buang pandanganku kearah lain.


"...Dan, kau Maria.. suka tidak suka, kamu harus mau berbagi dengannya" ucapannya lantas membuatku terkekeh, aku tau mama papa dan kedua mertuaku melihat kearahku dengan pandangan heran.


"Berbagi katamu?" ucapku pelan, lalu ku berjalan menuju kamarku.


"Bukankah selama ini kau hanya miliknya?!" tambahku penuh penekanan. setibanya dikamar, aku jatuh meluruh, tangisku pun tak bisa ku tahan lagi.


Drrtt... drrtt...


ku lihat ponselku, Nate menelpon.


"Halo" isakku


"Kamu menangis?....Austin?" aku semakin terisak, tebakannya benar. Sangat benar.


"Sudah ku bilang... menikah denganku Maria... " aku masih terisak. Andai aku bisa memilih, aku akan memilihmu Nate. Dan aku tak ingin mengenal dirimu Austin. Tak ingin!!!!


"A..aku, hiks... "


"sshhttt..... menangis dulu baru bicara" Tangisku semakin menjadi.


Seperti malam malam sebelumnya, aku menghabiskan malamku dengan Nate. Ku rasakan hatiku sedikit membaik setelah berbicara dengannya, dia paling mengerti keadaanku. Saat ini.


Ku harap bayiku segera hadir, dan aku bisa membebaskan diriku dari kesakitan ini.