
Ku buka bingkisan itu, dan gaun dengan warna merah menyala berada didalamnya. Aku sedikit pesimis untuk mengenakannya. Bukan hanya warna yang mencolok, tetapi juga karena gaun ini bermodel gaun backless. Otomatis akan memperlihatkan punggungku.
Apa harus?!
Jika aku tak mengikuti kemauannya, bisa saja dia meminta yang lebih dari pada ini. Berpisah dari anakku misalnya, karena aku mendekam dibalik jeruji setelah kena tuntutan darinya.
Tidak!!!!!
Aku tidak mau itu terjadi. Baiklah Maria... Come on... sekali ini saja.
Dengan berpikir sedikit alot, akhirnya aku berangkat menuju sebuah salon untuk membantuku dalam berpenampilan malam ini.
Lumayan memakan waktu, hanya untuk sedikit memotong rambutku. Ku putuskan untuk berdandan seadanya dirumah, aku tak ingin meninggalkan anak-anak terlalu lama.
"Mom, what happened with your hair?!!!!..." Keefe terkejut dan berteriak saat aku memasuki rumah.
"Kenapa? Apa terlihat buruk?!" tanyaku.
"Bukan.... kau sangat cantik dengan rambut seperti itu." aku tersenyum mendengar Keith memujiku.
Rambut yang sebelumnya lurus panjang kini ku ubah dengan membuatnya sedikit bergelombang dan memberikan sedikit warna coklat pada rambut hitamku.
"Astaga..... Kau sangat cantik, kau merubah rambutmu?!!" Sofia menutup mulutnya tak percaya. Dan aku hanya mengangguk mendengarnya.
"Mom... you look so pretty...." Keith kembali mendramatisir suasana. Dengan telunjuk dibawah dagunya seakan sedang menilai. Aku menggeleng melihat tingkah keduanya.
***
Jam sudah menunjukan pukul 6.45 sore. Dan pria menyebalkan itu belum juga datang? Aku sudah banyak menghabiskan waktu untu penampilanku malam ini. Awas saja jika ia tidak datang.....
"Mom.... daddy sudah sampai!!!!...." ku dengar teriakan Keith. Dengan perlahan ku turuni anak tangga, aku tak mau terjatuh dihadapan mereka terlebih dihadapan lelaki yang terlihat tampan dengan tuxedo hitamnya.
"Kau... merubah rambutmu?" ku putar bola mataku jengah mendengar pertanyaan yang sama berulang kali dalam satu hari ini.
"Iya, apa aneh?" tanyaku, ia menggeleng dan tersenyum padaku. Aku menghela napas puas setelah melihatnya tersenyum.
"Ayo, sebentar lagi akan dimulai... Keith, Keefe bermainlah dan jangan tidur terlalu malam.. dan kau... Sofia, jaga keponakanmu.. Aku harus pergi dulu dengan iparmu." aku tertegun mendengarnya.
Apa baru saja secara tidak langsung ia menyebutku istrinya?!!
Ia meraih tanganku untuk digandeng olehnya. Selama perjalanan, kami berdua hanya saling terdiam. Aku bersyukur lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahku, hingga tak perlu lama lama berduaan dalam keheningan bersamanya.
Suara riuh, tepuk tangan dan cahaya dari kamera yang tengah menangkap gambar pun ikut menjadi pengiring saat aku membuka pintu mobil dan berdiri disamping lelaki ini.
Ku eratkan peganganku pada lengannya, seperti mengerti perasaanku. Ia mengusap tanganku yang sedang mencengkeram jas miliknya.
"Tenang... Semuanya akan baik baik saja." bisiknya perlahan. Dapat ku rasakan hembusan napas mint dari mulutnya itu.
Ku berjalan mengikutinya kemana pun kakinya melangkah. Hingga sampailah ditengah tengah ruangan dengan segala dekorasi mewahnya. Aku mencoba bersikap biasa saja, aku tak mau mempermalukan orang yang membawaku kemari.
Lengannya tidak lagi menggenggam tanganku, tetapi merangkul pinggangku. Tanpa sengaja kulitnya bersentuhan denganku. Dan aku nyaman nyaman saja....
Tubuh kami sangat dekat. Ia berperan seolah olah bahwa kami pasangan kekasih yang saling mencintai. Padahal aku hanya orang yang dipaksa untuk menemaninya malam ini.
"Tuan dan Nyonya Braxton... kenalkan beberapa pengusaha sukses dari negara di Asia.........." ucap seseorang yang ku yakini rekanan bisnis dari Nathan, terlihat dari cara mereka berkomunikasi yang cukup santai, tidak seperti biasanya. Kami pun mengikutinya sebagai formalitas semata.
Tiba-tiba jantungku bergetar. Tubuhku lemas.
Ku cengkram lengannya. Nathan melihatku dengan bingung namun ia masih mempertahankan sikap tenangnya. Sedangkan aku, aku tak tahu harus bersikap seperti apa dihadapannya. Dihadapan pria masa laluku ini.....
"Tuan dan Nyonya Braxton, perkenalkan ini Mike, Jeremy, Aaroon, Malvin dan the best start up muda kita, Austin...." ucapnya memperjelas kinerja jantungku yang semakin tak karuan.
"Senang bertemu dengan kalian." ucap Nathan tegas namun tetap memasang senyumnya.
"Kau kenapa sayang?...apa kau butuh sesuatu?!" rasanya ingin ku tenggelamkan diriku ini. Terlebih Nathan yang terlalu mendalami karakter sebagai kelasihku.
"Tidak, umm... aku hanya ingin segera duduk dan dimana meja kita, darl...." Astaga aku pun tanpa sadar mengikuti alur permainan ini.
"Baiklah...." aku terkejut dengan jawaban Nathan yang menerimanya.
Ingin ku gebrak meja ini. Dan pergi dari pesta yang menyebalkan seperti ini.
"Come on..." Nathan memundurkan satu kursi disampingnya untukku. Mau tak mau aku duduk bersama dalam meja berbentuk lingkaran ini.
Suasana canggung kian terasa, saat mereka hanya diam dan mencuri pandang kearahku.
Aku tak terlalu menikmati rangkaian acara pesta ini. Terlalu membosankan..
Hingga suara musik yang berirama lambat kian terdengar. It's time to dance....
"Kau mau berdansa?" Aku menoleh pada Nathan yang memajukan wajahnya padaku. Ku pikir ini sangat dekat.... Seperti sedang berc***an.
"Tidak... aku payah dalam hal itu..." jawabku dengan suara perlahan.
"Tak apa, aku akan mengajarimu... ayo.." ia bangkit menarik lenganku menuju lantai dansa dimana orang orang sudah mulai mengikuti ritmenya. Nathan melingkarkan lenganku dilehernya, dan ia mendekap pinggangku erat.
"Aku pasti akan menginjak kakimu, Nath..." kataku. Wajahku berada didadanya, dapat ku dengar suara detak jantung yang berasal dari tubuhnya. Dan aku menyukainya...
"Tak masalah, yang penting aku bisa bersamamu..." jawabannya membuatku bungkam.
"Wanita pertama yang berani menjawab ucapanku tanpa gentar, bahkan berani beraninya kau menatapku dengan sorot mata tajammu itu. Aku sudah tahu yang sebenarnya... Dan aku aku minta maaf atas ucapanku kemarin...." ku angkat wajahku dan menatapnya.
Apa ini sungguhan?! Mr. Braxton yang kaya raya dan angkuh ini meminta maaf padaku?!!
"Apa sesuatu terjadi padamu?!" pertanyaan ku sontak membuatnya terkekeh. Apa apa? apa aku salah lagi?!
"Sepertinya begitu, ada yang salah denganku... setelah aku mengenalmu..." ucapnya seraya tersenyum, senyum yang indah bagiku.
Aku tersihir sejenak, dan tersadar saat ku rasakan dahinya sudah menempel didahiku. Hidung kami bersentuhan, mata saling pandang dan mengunci. Ku rasakan napasnya menyentuh dan membelai halus bibirku. Kami saling terdiam menikmati saat-saat seperti ini. Kami tak terikat, namun saling enggan melepas kenyamanan ini.
Hingga tiba-tiba, seseorang datang menarik tubuhku dan mendekapku. Aku masih diam. Dekapan ini bukanlah yang ku inginkan. Aku tak menyukai ini. Ini salah....
Dengan sekali hentak ku lepaskan diri darinya...
Napasku memburu. Bukan aku menggebu karena cinta....
Tapi rasa sakit dan kesedihan itu kembali hadir, luka yang tersimpan dilubuk paling dalam kini kembali muncul saat aku didekapnya...
""Bughhh....""""
Kesadaranku kembali saat melihatnya terjatuh dengan sudut bibir yang terluka.
Ku lihat Nathan yang melakukan itu, aku terkejut....
"Beraninya kau...huh... kau tahu? dia adalah tunanganku..... beraninya kau menariknya dalam pelukan bod*h mu itu!!!...." ucap Nathan dengan napas tersengal, kemudian ia hendak kembali menerjang Austin yang masih terduduk dan jangan lupakan bibirnya terluka.
Ku tahan lengannya. Ku tatap dan memohon agar ia menghentikannya...
Aku peduli pada reputasinya, apalagi kini kami sedang menjadi sorotan dari para undangan yang hadir.
"Kita pulang...." kataku lirih.
Nathan mengangguk setuju. Ia kembali menarik tubuhku dalam rangkulannya. Dan kami berjalan pergi. Tak peduli tatapan dari seluruh tamu yang datang, Nathan semakin mengeratkan rangkulannya.
"Kau mengenal dia?" tanyanya setelah kami didalam mobil, masih dengan suara yang membuatku sedikit gemetar saat mendengarnya.
"umm.... dia,... dia adalah, ayah kandung Keith dan Keefe..." jawabku lirih. Ia terdiam.
Cukup lama kami dalam keheningan....
Hingga ia kembali bersuara......
"Menikahlah denganku....".......